Home Khazanah Islam Akhlak HAMBA ALLAH SEJATI

HAMBA ALLAH SEJATI

0
33

Serial Ayat-Ayat Pendidikan – Edisi Lima Puluh Tiga

Oleh: Ustadz Arief Rahman Hakim, M.Ag., Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ

Di dalam buku Tahqiqu al Wisal baina al Qalbi wa Al-Qur’an, Jalin Hubungan antara Hatimu dan Al-Qur’an yang ditulis oleh Majdi Al-Hilali, dikisahkan seorang tokoh bernama Aisyah Berjat Houni, yang hidup dalam keluarga Nasrani berkebangsaan Inggris. Ia banyak mendalami ilmu filsafat dan pergi ke Kanada untuk menyelesaikan studinya. Oleh pihak universitas ia diminta menggali informasi tentang Islam.

Houni mengatakan, Meski aku sudah berusaha tapi aku tetap tidak akan mampu menjelaskan bagaimana pengaruh dan kesan yang diberikan Al-Qur’an ke dalam hatiku. Aku belum selesai membaca tiga surat Al-Qur’an tapi itu sudah membuatku tersujud di hadapan pencipta alam semesta ini. Ini adalah salat pertamaku dalam Islam.

بسم الله الرحمن الرحیم

قُلْ اٰمِنُوْا بِهٖٓ اَوْ لَا تُؤْمِنُوْاۗ اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ

وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا

وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩

Katakanlah (Nabi Muhammad), Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (itu sama saja bagi Allah)! Sesungguhnya orang-orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah (dengan) bersujud. Mereka berkata, Maha Suci Tuhan kami. Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana. Dan Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka. [al-Isra’ (17) : 107-109]

Di dalam Lubabut Tafsir, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah SAW agar menyampaikan kepada orang-orang kafir tentang Al-Qur’an yang didakwahkannya. Bahwa mereka beriman atau tidak adalah sama saja bagi Allah, ia tetap merupakan kebenaran yang Dia turunkan dan telah disebutkan pada zaman-zaman terdahulu melalui kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul-Nya sebelumnya.

Yaitu orang-orang salih dari kalangan Ahlul Kitab yang berpegang teguh kepada kitab mereka, menegakkan, serta tidak mengganti dan merubahnya. Tatkala dibacakan Al-Qur’an bagian bawah dari wajah (dagu) mereka sujud kepada Allah seraya bersyukur atas apa yang Dia anugerahkan kepada mereka, yakni berupa dijadikannya mereka sebagai orang-orang yang mengetahui para Rasul yang diturunkannya kepadanya kitab ini.

Kalimat tasbih disebut sebagai penghormatan dan penyanjungan atas kekuasaan-Nya yang sangat sempurna, dan Allah tidak pernah menyalahi janji yang telah dijanjikan kepada mereka melalui lisan para Nabi-Nya terdahulu mengenai pengutusan Nabi Muhammad SAW.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di menyebutkan bahwa Allah tidak membutuhkan orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya dan kepada Al-Qur’an, dan mereka tidak akan bisa mencelakakan Allah. Bahkan dampak buruknya mengarah kepada mereka. Sesungguhnya Allah masih mempunyai hamba-hamba salihin. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada mereka apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, niscaya mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, maksudnya mereka sangat terpengaruh dan tunduk kepadanya.

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menyatakan bahwa ini adalah tayangan orang-orang dahulu yang diberikan ilmu. Ketika mendengarkan Al-Qur’an mereka menjadi sangat khusyu’ dan menyungkur dan bersujud, kemudian lisan-lisan mereka berucap dengan lafazh-lafazh yang menggetarkan perasaan-perasaan mereka yang keluar dari rasa mengagungkan Allah dan membenarkan janji-Nya.

Pengaruh Al-Qur’an telah mengalahkan mereka. Ungkapan lafazh-lafazh pun tidak cukup untuk melukiskan apa yang dirasakan dada-dada mereka karenanya. Tiba-tiba linangan air mata melesat mengungkapkan pengaruh yang bergemuruh yang sudah tidak dapat lagi diilustrasikan oleh lafazh-lafazh, Dan Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa mereka berkata di dalam sujud mereka, Maha Suci Tuhan kami. Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana, yakni, mereka mengucapkan lafal tersebut untuk menyucikan Allah, mengagungkan, dan memuliakan kekuasaan-Nya yang sempurna. Sebagai pengakuan bahwa Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.

Mereka menyungkur bersujud dengan wajah-wajah mereka, menangis lantaran tersentuh dengan nasihat-nasihat Al-Qur’an dan mendengar Al-Qur’an serta nasihat-nasihatnya semakin menambah ketundukan bagi mereka terhadap perintah Allah dan keagungan kuasaNya.

Allah mengulangi penyebutan kalimat menyungkur atas muka mereka sambil menangis karena Al-Qur’an sangat berpengaruh bagi hati mereka dan menambah kekhusyu’an mereka.

Mereka itu sebagaimana orang-orang yang Allah beri nikmat bagi mereka dari kalangan Ahlu kitab yang beriman seperti Zaid bin ‘Amr bin Naufal, Waraqah bin Naufal, Abdullah bin Salam dan lainnya yang memeluk Islam di masa Nabi (masih hidup) dan setelahnya.

Allah Ta’ala berfirman di ayat lain,

اِنَّمَا يُؤْمِنُ بِاٰيٰتِنَا الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِهَا خَرُّوْا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوْا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ ۩

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur (dalam keadaan) sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya dan mereka pun tidak menyombongkan diri. [as-Sajdah (32) : 15]

Nabi SAW memuji tangisan dalam banyak hadis, di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda,

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bermalam (begadang) untuk berjaga-jaga (dari serangan musuh) ketika berperang di jalan Allah. [HR. Tirmizi]

Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. jika kalian tidak menangis, pura-puralah menangis. [HR. Ibnu Majah)

Di dalam Tafsir Ar-Razi, Vol. 21, hal. 234. Dari Abdullah bin ‘Abbas, dia berkata, Apabila kalian membaca ayat sajdah subhaana janganlah kalian langsung bersujud hingga kalian menangis terlebih dahulu. Apabila mata kalian tidak menangis, hendaknya hati kalian yang menangis.

Menurut Wahb bin Munabbih, salah seorang pemuka Tabi’in dan ahli dalam bidang sejarah, yang memiliki kitab Maghazi, bahwa:

Di antara etika mendengarkan Al-Qur’an adalah tenangnya anggota tubuh, menahan pandangan, mendengarkan dengan baik, terfokusnya pikiran dan tekad untuk mengamalkan. Inilah mendengarkan Al-Qur’an yang disenangi oleh Allah Ta’ala.

Yaitu ketika seorang hamba menahan anggota tubuhnya, sehingga hatinya sibuk dengan apa yang ia dengar, menahan pandangannya, sehingga hatinya tidak terlena dengan apa yang ia lihat. Pikirannya juga terfokus, sehingga tidak berbicara dengan dirinya sendiri melainkan hanya mencerna apa yang ia dengarkan. Ia pun bertekad untuk memahami apa yang ia dengarkan lalu mengamalkan apa yang ia pahami

Begitulah mereka disanjung oleh Allah dengan tangis dan kekhusyuan mereka ketika mendengarkan Al-Qur’an, lalu bagaimana dengan kita? Sesungguhnya dengan memahami dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca adalah cara yang paling tepat untuk menghadirkan tangis dalam tilawah-tilawah kita.

Menurut Sufyan Ats-Tsauri, Barangsiapa yang dibuat nangis oleh ilmunya sesungguhnya dia adalah seorang ‘alim.

Ya Allah, rahmati kami dengan Al-Qur`an, dan jadikanlah ia sebagai imam, cahaya, petunjuk dan rahmah bagi kami. Ya Allah, ingatkanlah kami akan ayat yang terlupa, dan ajari kami apa yang belum kami ketahui darinya. Anugerahkan kami untuk membacanya di waktu malam dan siang. Jadikan ia sebagai hujjah untuk kami wahai Rabb semesta alam.

Allahumma Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 1 =