Islam dan Sains Teknologi adalah Rahmat

Ilmu dan teknologi adalah instrument yang penting untuk membangun orang-orang yang beradab. Dengan ilmu yang dimiliki, Allah akan mengangkat derajat seorang muslim. Ilmu dan tingkat kecerdasan manusia juga akan sangat menentukan tingkat ekonomi seseorang. Ilmu dan teknologi adalah instrument yang penting untuk membangun orang-orang yang beradab. Dengan ilmu yang dimiliki, Allah akan mengangkat derajat seorang muslim. Ilmu dan tingkat kecerdasan manusia juga akan sangat menentukan tingkat ekonomi seseorang.

Ilmu dan iman adalah ibarat saudara kembar, tidak bisa dipisahkan sehingga dimanapun dilakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka iman harus senantiasa mengikuti. Terlebih lagi agama diturunkan tidak hanya untuk urusan akherat belaka, tetapi juga untuk mengatur urusan manusia di dunia guna meraih akherat.

Hal ini dibuktikan dengan banyak terjadi perubahan besar berupa pencapaian luar biasa di bidang sains dan teknologi sejak kedatangan Islam. Islam telah mendorong geliat tradisi keilmuan di kalangan kaum muslim. Mereka menyerap ilmu pengetahuan dari beragam sumber. Islam telah mendorong kaum muslim untuk memperdalam urusan dunianya dengan nash yang jelas sebagaimana hadits Rasulullah SAW tentang “antum a’lamu bi umuriddunya kum” (kamu lebih mengetahui urusan duniamu). Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga sangat mendorong penguasaan ilmu pengetahuan sampai ke negeri China, bahkan tawanan perang Badar diberi kebebasan jika mampu mengajarkan membaca kepada sepuluh orang kaum muslimin. Dampaknya adalah kemajuan dan kebangkitan penyebaran Islam telah mendorong pula kemajuan dalam bidang sains dan teknologi bagi umat manusia.

Kerinduan pada suasana kejayaan dan kebangkitan sains dan teknologi di era kejayaan peradaban Islam tersebut telah memberikan dorongan kepada Jakarta Islamic Centre untuk mengkreasikan seminar peradaban Islam dengan tema “Aktualisasi nilai-nilai Keimanan dalam Islam di Dunia Sains dan Teknologi. Seminar yang menghadirkan Dr. Ing Ilham Akbar Habibie, Presidium ICMI Pusat dan Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar selaku penulis dan trainer Technoscience Spiritual Quotient (TSQ). Seminar yang dilaksanakan di Hotel Grand Cempaka pada hari Kamis tanggal 30 Desember 2010 ini menjadi penutup tahun sekaligus penutup rangkaian kegiatan Gema Hijrah 6 – 1432 H yang digagas Jakarta Islamic Centre sebagai persembahan merefleksikan spirit hijrah menyongsong kebangkitan peradaban Islam.

Melalui seminar ini diharapkan dapat memberikan sumbang saran atau gagasan tentang bagaimana mengembalikan kebangkitan peradaban Islam khususnya di bidang sains dan teknologi. Karena saat ini dunia Islam seakan-akan kering dengan kemajuan di bidang sains dan teknologi, terlebih di negara dengan jumlah kaum muslim terbesar di dunia, Indonesia.

Ilham Akbar Habibie, selaku pembicara pertama telah menyoroti bahwa Islam sesungguhnya mampu dan punya peluang untuk menguasai kembali sains dan teknologi. Menurutnya, Islam telah memberikan kebebasan kepada manusaia untuk berpikir luas mengkreasikan beragam ide dan gagasan yang berkenanaan dengan kehidupan manusia di dunia. Hanya tentu saja kebebasan dalam batas-batas koridor Islam.

Pembicara kedua, Fahmi Amhar menyebutnya bahwa penguasaan sains tanpa Islam akan melahirkan penjajahan terhadap peradaban lain, tetapi Islam tanpa sains akan cenderung senantiasa dijajah oleh peradaban lain. Namun integrasi sains teknologi dan Islam akan membawa rahmat bagi semesta alam.

Kedua narasumber juga sepakat bahwa kebangkitan peradaban Islam, khususnya di bidang sains dan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Indonesia pun memiliki peluang untuk maju, karena potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai. Menurut para ahli, saat ini Indonesia diduga memiliki sekitar 1,3 juta anak-anak dengan kualitas yang luar biasa (CIBI=cerdas istimewa berbakat istimewa). Jika potensi tersebut dimaksimalkan tentu akan menjadi modal awal yang penting untuk menjadikan Indonesia sebagai adidaya baru dengan mengembangkan kemajuan sains dan teknologi.

Pendidikan menjadi kunci utama untuk mendorong kebangkitan penguasaan sains dan teknologi. Namun sangat disayangkan saat ini minat berlajar kaum muslimin pada bidang sains atau ilmu eksakta agak menurun sehingga berdampak pada ketertinggalan kaum muslimin dibandingkan dengan peradaban barat.

Hanya saja untuk menuju kebangkitan tersebut, Fahmi Amhar menyatakan bahwa paling tidak ada tiga hal yang harus dilakukan yaitu, perlu dibangun sikap mental kaum muslimin sendiri yang memang menginginkan kebangkitan tersebut. Selanjutnya harus ada yang mengajak masyarakat agar memiliki energi panas yang sama untuk bangkit. Terakhir, perlu adanya upaya mengontak pihak-pihak pengambil kebijakan sehingga memperkuat arus kebangkitan tersebut.

Semoga JIC dapat terlibat dan berperan aktif dalam upaya mengembalikan kebangkitan peradaban Islam melalui sains dan teknologi yang dilandasi oleh nilai-nilai keimanan/aqidah Islam.

Oleh : Paimun A. Karim

Bidang Informasi dan Komunikasi JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Nusron Wahid Ketua Umum GP Ansor

Read Next

Kiat Memilih Produk Kemasan Halal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 9 =