Home Kabar JIC JIC, FATAYAT NU, DAN OREO DORONG IBU CIPTAKAN PEMBELAJARAN SERU DI RUMAH

JIC, FATAYAT NU, DAN OREO DORONG IBU CIPTAKAN PEMBELAJARAN SERU DI RUMAH

0
10

JAKARTA — Proses belajar anak ternyata tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Rumah dapat menjadi ruang belajar pertama sekaligus tempat anak membangun rasa ingin tahu, kreativitas, kepercayaan diri, dan karakter. Berangkat dari pentingnya peran keluarga tersebut, Jakarta Islamic Centre (JIC), Fatayat NU, dan OREO berkolaborasi melalui program “Berbagi Inspirasi” bertajuk “Dorong Generasi Tumbuh Lebih Bermakna Melalui Pembelajaran Seru”.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 5 September 2026 di Convention Hall ini menghadirkan edukasi dan penguatan kapasitas bagi para ibu agar dapat mendampingi anak belajar dengan cara yang lebih menyenangkan, interaktif, dan bermakna. Kolaborasi tersebut sekaligus mempertemukan perspektif lembaga keagamaan, organisasi perempuan, dan dunia usaha dalam mendorong terciptanya ekosistem ramah anak yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ), KH. Muhyiddin Ishaq, mengatakan rumah memiliki posisi penting dalam proses pendidikan anak. Menurutnya, sebelum mengenal sekolah dan pendidikan formal, anak terlebih dahulu belajar dari lingkungan keluarga. Cara orang tua berkomunikasi, memberikan perhatian, merespons pertanyaan, hingga menemani anak bermain menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.

“Kami percaya bahwa anak membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan bereksplorasi. Rumah adalah tempat pertama anak belajar mengenal kehidupan. Karena itu, penguatan kapasitas orang tua, khususnya ibu, menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang ramah terhadap anak,” ujar KH. Muhyiddin Ishaq.

Ia menambahkan, pembelajaran yang menyenangkan tidak hanya membuat anak lebih mudah memahami sesuatu. Suasana belajar yang positif juga dapat mendukung kepercayaan diri, rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian anak untuk mencoba.

Karena itu, orang tua tidak perlu memandang belajar hanya sebagai aktivitas mengerjakan tugas atau mendapatkan nilai.

“Mendampingi anak belajar bukan semata-mata tentang memberikan materi atau memastikan anak mendapatkan nilai yang baik. Lebih dari itu, proses belajar adalah tentang membangun hubungan, mendengarkan anak, memberikan kesempatan untuk mencoba, dan menciptakan pengalaman yang membuat anak merasa dihargai,” lanjutnya.

Penguatan peran ibu juga menjadi perhatian Fatayat NU. Organisasi perempuan tersebut mendorong terciptanya ruang bagi para ibu untuk saling belajar dan berbagi pengalaman dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Ketua Fatayat NU DKI Jakarta, Hj. Kusnainik, M.AP, mengatakan ibu memiliki posisi strategis dalam menciptakan lingkungan belajar pertama bagi anak.

“Kami meyakini bahwa ibu memiliki peran strategis dalam menghadirkan lingkungan yang mendukung proses belajar anak sejak dari rumah. Sebagai organisasi perempuan, Fatayat NU terus mendorong para ibu untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Kusnainik menilai, upaya membangun lingkungan ramah anak tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Keluarga, organisasi perempuan, lembaga keagamaan, pendidik, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat memiliki peran masing-masing.

Dalam kolaborasi tersebut, OREO turut mendukung hadirnya ruang edukasi yang mengangkat pentingnya aktivitas belajar yang menyenangkan bersama keluarga.

Psikolog Anak dan Keluarga, Irma Gustiana A., S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa anak akan lebih mudah belajar ketika merasa aman secara emosional, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk bereksplorasi tanpa takut melakukan kesalahan.

“Suasana belajar yang menyenangkan juga dapat membangun rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian mencoba hal baru,” jelas Irma.

Menurut Irma, orang tua tidak harus selalu berperan sebagai guru secara formal. Orang tua dapat menjadi teman belajar yang menemani anak menemukan pengalaman baru melalui aktivitas sehari-hari.

Bermain bersama dapat menjadi kesempatan untuk mengajarkan komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah. Membaca cerita dapat menumbuhkan imajinasi, sedangkan memasak bersama dapat menjadi sarana mengenalkan konsep angka, ukuran, warna, sekaligus tanggung jawab.

Dengan cara tersebut, proses belajar menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah belajar sambil bermain atau playful learning.

Pendekatan ini memungkinkan anak memperoleh pengalaman belajar melalui aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Aktivitas belajar dapat dikombinasikan dengan unsur literasi, numerasi, sains, bahasa, kreativitas, komunikasi, dan permainan. Anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diberi kesempatan untuk mencoba, mengamati, bertanya, menemukan, dan menarik kesimpulan melalui pengalaman langsung.

Para ibu juga mendapatkan kesempatan mengikuti sesi simulasi dan praktik menggunakan berbagai media pembelajaran kreatif. Selanjutnya, pendekatan tersebut dapat disesuaikan di rumah berdasarkan usia, kebutuhan, karakter, dan minat masing-masing anak.

Bagi Jakarta Islamic Centre, membangun ekosistem ramah anak tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun keluarga dan masyarakat yang peduli terhadap generasi.

Nilai-nilai keislaman dinilai perlu hadir dalam kehidupan keluarga, termasuk dalam cara orang tua mendampingi, mendidik, melindungi, dan membangun karakter anak.

Muhyiddin Ishaq menegaskan bahwa pendidikan dan pendampingan anak merupakan tanggung jawab bersama.

“Anak adalah bagian penting dari masa depan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Karena itu, memberikan pendidikan yang baik, lingkungan yang aman, serta pendampingan yang penuh kasih sayang merupakan tanggung jawab bersama. Nilai-nilai keislaman juga mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga amanah, memberikan keteladanan, dan mendidik generasi dengan penuh kasih sayang,” jelasnya.

Ia menambahkan, pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah. Rumah, lingkungan sosial, tempat ibadah, komunitas, dan berbagai ruang kehidupan yang berinteraksi dengan anak juga memiliki pengaruh terhadap tumbuh kembang mereka.

Upaya menciptakan ekosistem ramah anak membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Keluarga berperan menciptakan rumah yang aman dan penuh kasih sayang, sekolah memberikan pendidikan yang mendukung perkembangan anak, sementara organisasi masyarakat dan komunitas dapat menjadi ruang berbagi serta pemberdayaan.

Lembaga keagamaan dapat memperkuat nilai dan karakter, sedangkan dunia usaha dapat mengambil bagian melalui dukungan terhadap program edukasi dan pemberdayaan keluarga. Muhyiddin Ishaq berharap kolaborasi lintas sektor seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

“Membangun ekosistem ramah anak bukan pekerjaan satu lembaga. Ini adalah tanggung jawab bersama. Ketika keluarga kuat, lingkungan mendukung, dan masyarakat memiliki kepedulian terhadap anak, kita sedang menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Marfusita Hamburgiwati, Country Head of Corporate and Government Affairs Mondelēz Indonesia, mengatakan kolaborasi bersama Fatayat NU menjadi bagian dari komitmen OREO untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan, interaktif, dan bermakna bagi anak melalui momen kebersamaan keluarga.

Pada akhirnya, menciptakan lingkungan ramah anak dapat dimulai dari hal sederhana: menyediakan waktu untuk mendengarkan anak, menemani mereka bermain, memberi ruang untuk bertanya, menghargai proses belajar, dan menjadikan rumah sebagai tempat yang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − sixteen =