Home Khazanah Islam Akhlak KENAPA HIDUP TERASA BERAT

KENAPA HIDUP TERASA BERAT

0
808

Serial Ayat-Ayat Pendidikan -Edisi Lima Puluh Satu

Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag.

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ

 

Suatu ketika Abdullah bin Umar berkata kepada seseorang, Apakah engkau takut dimasukkan ke neraka dan ingin dimasukkan ke surga? Orang tersebut menjawab, Iya. Abdullah bin Umar berkata, Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, jika engkau berkata lembut kepadanya dan memberinya makan, engkau pasti masuk surga selagi engkau menjauhi dosa-dosa besar. Hal ini sebagaimana dikisahkan Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Panduan Ilmu dan Hikmah.

Sejatinya seorang muslim banyak bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala limpahan karunia baik berupa nikmat dasar iman dan Islam serta nikmat individual dan kolektif yang Allah turunkan.

Ada orang yang hidupnya sederhana, rajin beribadah kepada Allah, senang membantu orang lain walau hidupnya tidak berkecukupan. Nampak dalam keseharian terlihat tenang dan jauh dari konflik dalam rumah tangganya, rukun selalu antara suami, isteri dan anak-anaknya. Mereka orang-orang yang meyakini bahwa hidup ini adalah ujian, banyak menyandarkan diri kepada Allah Ta’ala dan menyadari bahwa dunia adalah tempat menyemai banyak kebaikan dan menebar manfaat.

 

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

 

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. [al-Kahfi (18) : 7]

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menjadikan dunia sebagai alam fana yang dihiasi dengan hiasan-hiasan yang tidak abadi. Dia jadikan dunia sebagai tempat ujian dan bukan tempat menetap.

Di dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menyatakan bahwa Allah telah menjadikan semua yang ada di muka bumi, baik berupa makanan-makanan yang lezat, aneka minuman, pakaian-pakaian yang bagus, pepohonan, sungai-sungai, sawah-sawah, buah-buahan, panorama yang mengagumkan, kebun-kebun yang memikat, suara-suara yang membangkitkan semangat, rupa-rupa yang manis, emas, perak, kuda, unta, dan lain sebagainya, semuanya Allah ciptakan sebagai perhiasan untuk perkampungan ini (kehidupan dunia) dan sebagai cobaan dan ujian. Agar Allah menguji siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya, maksudnya yang paling ikhlas dan paling benar.

Sayyid Qutb mengingatkan bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan kesenangan, kenikmatan, harta benda, dan anak-anak yang ada di muka bumi sebagai cobaan dan ujian bagi para penghuninya. Hal ini agar menjadi jelas dari antara mereka yang berbuat baik (ihsan) di dunia dan berhak atas nikmat-Nya sehingga berhak pula atas nikmat akhirat.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan posisi manusia sebagai pihak yang diuji untuk diketahui siapa yang baik perbuatannya dan siapa yang buruk. Allah akan memberi pahala bagi mereka yang berbuat kebaikan dan memberi hukuman bagi yang berbuat kejahatan.

Dan makna أَحْسَنُ عَمَلًا menurutnya ialah zuhud di dunia, tidak teperdaya olehnya, dan menjadikannya sebagai sarana dan jembatan untuk meraih kebahagiaan akhirat.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
(مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَة)

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda, Cobaan itu akan senantiasa bersama orang yang beriman baik laki laki ataupun perempuan baik berkaitan dengan dirinya, anaknya ataupun hartanya sampai dia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa. [HR. At-Tirmiz]i

Kenapa hidup terasa berat? Mungkin beberapa faktor ini menjadi bahan instropeksi. Pertama, Kelelahan Mental (Burnout). Terlalu lama memendam masalah, memikirkan ekspektasi yang terlalu tinggi, atau memikul tanggung jawab di luar kapasitas. Stres yang menumpuk membuat otak kesulitan berpikir jernih. Padahal Allah Ta’ala sudah mengingatkan di dalam firman-Nya,

 

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

 

Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,[al-Hadid (57) : 23]

 

Beberapa pemahaman yang didapatkan dari ayat ini,

  1. Mengembalikan semua kebaikan dan keburukan kepada kaidah Allah Ta’ala ini
  2. Agar tidak putus asa dan sedih atas target atau capaian yang luput dan tidak terpenuhi
  3. Agar hati tidak tamak dan memburu apa yang tidak didapatkan
  4. Agar tidak terlampau gembira atas prestasi yang diraih dan bersikap sombong terhadap anugerah Allah
  5. Senantiasa bersyukur kepada Allah yang memberikan berbagai nikmat dan mencegah azab, musibah

 

Faktor kedua, melakukan kebaikan, pertolongan, atau bantuan kepada orang lain karena pamrih atau ingin timbal balik, bukan karena Allah semata.

 

قُلۡ مَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرࣲ فَهُوَ لَكُمۡۖ إِنۡ أَجۡرِیَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ شَهِیدࣱ }

 

Katakanlah (Muhammad), Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Imbalanku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat Saba’ (34): 47]

 

  1. Nabi Muhammad saw bukanlah orang yang memiliki penyakit mental, bahkan beliau rela berkorban dalam berdakwah, bersusah payah, mengalami embargo ekonomi, pemutusan hubungan diplomatik bahkan isteri dan pamannya wafat saat di pengasingan

 

  1. Rasulullah saw bukan mengejar harta dan uang dalam dakwah namun beliau semata-mata menginginkan pahala dan imbalan di akhirat

 

  1. Upah yang diinginkan dalam berdakwah, beramal usaha, berumah tangga, berorganisasi hanyalah dari Allah Ta’ala, Zat Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu

 

  1. Allah Ta’ala akan menanggung upah dan balasan apa-apa yang diniatkan, dikerjakan, dan dikorbankan baik dalam bentuk materiil maupun immateriil. Kita tidak butuh pujian, sanjungan dari manusia

 

  1. Menurut Adham Syarqawi, Rugi besar dalam hidup jika melaksanakan, melakukan sesuatu dalam kondisi terpaksa. Yang ada kita akan kelelahan yang sangat payah. Sudah sangat lelah sekali tidak sukses di dunia, tidak mendapat reward di akhirat kelak.

Maka menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Jika kamu tidak ikhlas, jangan melelahkan diri

 

Faktor ketiga, banyak melakukan kezaliman baik kepada Allah Ta’ala, diri sendiri, keluarga (isteri dan anak-anak), orangtua, kerabat, dan orang lain.

 

وَاَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْاٰزِفَةِ اِذِ الْقُلُوْبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كٰظِمِيْنَ ەۗ مَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ حَمِيْمٍ وَّلَا شَفِيْعٍ يُّطَاعُۗ

 

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. [Ghafir (40): 18]

 

المسلم أخو المسلم، لا يظلمه، ولا يسلمه

 

Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya. [HR. Muslim]

  1. Hari kiamat, disebut sebagai hari yang dekat karena hari ini sangat dekat kedatangannya
  2. Seakan-akan hari itu berpindah dari tempatnya akibat manusia ketakutan yang dahsyat sehingga sampai di kerongkongan. Penuh dengan kegalauan dan ketakutan
  3. Tidak memiliki teman dekat yang dapat memberi manfaat bagi mereka, dan para pemberi syafaat tidak akan memberikan syafaat terhadap orang zalim karena berbuat syirik dan hal lainnya. Kalaupun dipastikan bisa memberi syafaat, namun Allah tidak akan meridhai syafaatnya dan tidak memperkenankannya
  4. Dalam keseharian terkadang tanpa sadar sudah zalim kepada Allah; melalaikan waktu salat padahal sudah masuk waktunya, malas berzakat padahal sudah mencapai nisabnya, enggan berhaji padahal mampu, tidak peduli dengan agama Allah sehingga tidak terdetik pun tergerak hatinya berinfak, bersedekah membantu majlis-majlis yang mengingatkan kepada Allah
  5. Dan terkadang dengan sadar, banyak melakukan kezaliman kepada isteri dan anak-anak serta orangtua. Padahal mereka adalah pintu di antara pintu menuju surga Allah Ta’ala. Belum lagi kezaliman kepada orang lain, banyak melakukan intervensi hak-hak sesama Muslim, mengambil dan merampas wewenang dan pekerjaannya, banyak melukai hati orang dengan kezalimannya, dan tidak peduli dengan orang-orang lemah

Seiring mendekatnya tahun baru hijriyah 1448, maka menurut Buya Hamka, Orang-orang beriman itu harus terus memperkuat keimanan, dan di antara metodenya adalah melakukan hijrah menuju wilayah dan kondisi yang lebih kondusif, dan jihad adalah jalan menuju istiqamah agar hijrahnya sempurna.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita senantiasa menguatkan iman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah agar hidup yang berat ini masih bisa dipikul dan dijalani dengan pertolongan Allah.

Allahumma Aamiin.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × one =