
Istanbul (islamic-center.or.id) – Kelompok hak asasi manusia asal Israel, Adalah, mendokumentasikan kesaksian mengerikan mengenai aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza yang mengalami penyiksaan berupa sengatan listrik serta kekerasan fisik dan psikologis selama berada dalam tahanan militer zionis.
Pihak Adalah pada Rabu, 20 Mei 2026, menyatakan bahwa sedikitnya tiga orang aktivis harus dirawat di rumah sakit akibat mengalami luka serius.
Selain korban luka parah, puluhan relawan kemanusiaan lainnya diduga kuat mengalami patah tulang rusuk serta kesulitan bernapas akibat tindakan kekerasan selama masa penahanan berlangsung.
Organisasi Adalah mengatakan bahwa tim hukumnya telah berhasil mengumpulkan berbagai kesaksian yang saling berkesesuaian mengenai penggunaan alat sengatan listrik secara berulang-ulang terhadap para aktivis yang ditahan tersebut.
Kelompok advokasi ini juga mendokumentasikan sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa para tahanan dipaksa berada dalam posisi tubuh yang sangat menyakitkan serta menghinakan selama proses pemindahan mereka menuju Pelabuhan Ashdod.
Bentuk intimidasi fisik tersebut di antaranya adalah memaksa para relawan berjalan sambil membungkuk penuh ke depan dan diperintahkan berlutut dalam jangka waktu yang sangat lama.
Menurut laporan resmi Adalah, otoritas keamanan Israel juga melakukan tindakan pelecehan dengan cara melepas jilbab secara paksa terhadap beberapa aktivis perempuan yang ikut dalam armada kemanusiaan tersebut.
Kelompok pembela hak asasi itu menyebut bahwa para tahanan diperkirakan akan segera dihadapkan pada lembaga pengadilan atau otoritas terkait pada Kamis, 21 Mei 2026, untuk meninjau status penahanan mereka sebelum prosedur deportasi dilaksanakan.
Sebelumnya pada Rabu, 20 Mei 2026, lembaga Adalah secara terbuka menuduh otoritas pemerintah Israel tengah menjalankan sebuah kebijakan kriminal yang sistematis berupa tindakan penyiksaan dan penghinaan.
Tuduhan serius tersebut mencuat ke publik setelah sebuah rekaman video yang dibagikan di media sosial oleh Otoritas Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memperlihatkan para aktivis dipaksa berlutut dengan tangan diborgol ke belakang punggung dan wajah menghadap lantai secara paksa.
Kondisi psikologis para sandera semakin ditekan karena mereka dipaksa menghadap ke lantai secara merunduk saat lagu kebangsaan Israel diputar oleh para sipir.
Seluruh aktivis internasional tersebut dipindahkan secara paksa ke Pelabuhan Ashdod setelah pihak militer Israel mencegat kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla di wilayah perairan internasional.
Pihak Adalah menyayangkan sikap otoritas zionis karena akses informasi mengenai lokasi penampungan, status hukum, dan kondisi kesehatan para tahanan saat ini dibuat “sangat dibatasi.”
Armada kapal kemanusiaan tersebut diketahui bertolak sejak Kamis pekan lalu dari wilayah Distrik Marmaris di Turki dalam sebuah upaya baru untuk menembus blokade ilegal Israel terhadap Gaza yang telah berlangsung sejak tahun 2007.
Aksi kekerasan bersenjata yang dilakukan oleh militer zionis di wilayah laut lepas ini bukan merupakan insiden pertama yang menimpa konvoi armada kemanusiaan dunia tersebut.
Pada akhir April 2026 yang lalu, militer Israel juga tercatat pernah menyerang kapal-kapal armada kemanusiaan di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani.
Konvoi besar yang sempat diserang pada akhir April tersebut membawa sebanyak 345 orang peserta yang berasal dari 39 negara di seluruh belahan dunia.
Otoritas Israel sendiri telah memberlakukan blokade secara ketat terhadap kawasan Jalur Gaza sejak tahun 2007, sebuah tindakan keji yang membuat 2,4 juta penduduk wilayah tersebut berada di ambang bencana kelaparan.[Anadolu]











