4. Fatimah Az-Zahra
Dia adalah putri bungsu Nabi yang dilahirkan pada tahun kelima sebelum kenabian. Fatimah memiliki masa kecil yang bahagia dengan orang tua yang penuh kasih dan saudara perempuan yang peduli.
Dia menyaksikan munculnya Islam di rumah ayahnya, seruannya untuk tauhid di Makkah, dan penderitaan Nabi dalam menyebarkan seruan Islam. Dia selalu mendukung ayahnya dan berusaha menjauhkan segala jenis bahaya darinya.
Setelah hijrah ke Madinah, Ali Ibn Abi Thalib sang sepupu Nabi, menikahinya pada tahun ke-2 Hijriah. Ini terjadi ketika Fatimah berusia sekitar 18 tahun.
Furnitur rumahnya sangat sederhana karena hanya terdiri dari lembaran tikar belang, bantal kulit isian ijuk, dua cangkir untuk minum dan dua mangkok tembikar. Suaminya, Ali, hidup dalam kondisi miskin dan tidak mampu menyewa seorang pembantu untuk membantunya.
Fatimah mirip dengan ayahnya, Nabi Muhammad, lebih dari siapa pun terutama dalam hal cara dia berjalan dan perkataannya. Ketika dia datang mengunjungi sang ayah, Nabi akan berdiri menyambutnya, memegang tangannya, menciumnya, bahkan membuatnya duduk di tempat dia duduk. Nabi sangat mencintainya.
5. Ibrahim Sang Putra Nabi
Ibrahim adalah putra terakhir Nabi SAW dengan ibunya adalah Maria Al-Qibtiyyah. Al-Muqawqas, seorang penguasa Mesir, memberikan Maria sebagai hadiah kepada Nabi di tahun ke-6 Hijriyah, membuat ia memeluk Islam dan Nabi menikahinya.
Ketika Ibrahim lahir, Nabi sangat bahagia. Pada hari ketujuh setelah kelahiran Ibrahim, Nabi mencukur rambut bayi itu dan membagikan perak perak sebagai amal kepada yang membutuhkan sejumlah berat rambut sang bayi.
Ibrahim tidak hidup lama karena dia meninggal ketika baru berusia 18 bulan. Dia meninggal di pelukan Nabi dan ia merasa sangat sedih.
Dia menangisi putranya dan berkata, “Mata meneteskan air mata dan hati berduka, dan kita tidak akan mengatakan apa pun kecuali apa yang menyenangkan Tuhan kita. O Ibrahim! Sungguh kami berduka atas kepergianmu”. (Al-Bukhari dan Muslim)
Sumber : Republika.co.id








