PGRI dalam Menjaga Keseimbangan antara Teknologi dan Nilai: Membangun Digital Humanisme
Risiko Ketimpangan Teknologi dan Nilai
Beberapa ancaman yang menjadi fokus perhatian PGRI dalam menjaga keseimbangan ini meliputi:
-
Tantangan Etika Digital: Masalah seperti plagiarisme berbasis AI, hoaks, dan perundungan siber (cyber-bullying) memerlukan fondasi moral yang kuat.
Strategi PGRI: Menanamkan “Kompas Moral” di Era Digital
PGRI melakukan langkah-langkah preventif dan edukatif untuk memastikan teknologi tetap berada dalam koridor nilai melalui tiga pilar aksi:
1. Integrasi Pendidikan Karakter dalam Literasi Digital
Melalui Smart Learning and Character Center (SLCC), PGRI melatih guru untuk tidak hanya mengajarkan “cara menggunakan” teknologi, tetapi juga “cara bersikap” dengan teknologi. Guru didorong untuk menyisipkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kesantunan dalam setiap aktivitas pembelajaran berbasis digital.
2. Penguatan Peran Guru sebagai Role Model Etis
3. Kolaborasi Tri Pusat Pendidikan (Sekolah, Keluarga, Masyarakat)
PGRI aktif memfasilitasi dialog antara guru dan orang tua untuk menyamakan persepsi mengenai batasan penggunaan teknologi di rumah dan di sekolah. Keseimbangan nilai hanya bisa dicapai jika ada sinergi dalam mengawasi jejak digital dan perilaku sosial siswa di luar jam sekolah.
Teknologi untuk Memperkuat, Bukan Menggantikan
[Ilustrasi: Harmoni Edukasi — Tangan yang Memegang Gawai Namun Hati yang Tetap Terpaut pada Adab dan Budaya]
Visi PGRI adalah mewujudkan Digital Humanisme, di mana teknologi digunakan untuk memperluas jangkauan kebaikan, mempermudah akses ilmu, dan memperkuat ikatan persaudaraan, bukan justru mengisolasinya dalam sekat-sekat individualisme.
“Teknologi memberikan kita kecepatan, tetapi nilai memberikan kita arah. PGRI memastikan bahwa setiap langkah digital guru Indonesia selalu berpijak pada akar budaya dan moralitas bangsa.”








