JIC- Dua entitas ini yaitu Metaverse dan Isra Mi’raj seolah-olah tidak ada kaitannya jika dilihat secara sekilas. Istilah Metaverse baru saja di launching oleh punggawa Facebook Mark Zuckerberg tahun 2021 yang lalu, sedangkan Isra Mi’raj sebuah peristiwa ajaib yang telah berlalu empat belas abad yang lalu. Isra Mi’raj adalah sebuah peristiwa di luar nalarĀ yang hanya bisa diyakini oleh para pengikut Rasulullah SAW. pada saat itu. Para Kafir Mekkah menjadikan peristiwa Isra Miraj sebagai bahan provokasi kepada umat Nabi Muhammad SAW. yang masih bimbang. Peristiwa Isra Mi’raj dianggap melecehkan logika peradaban yang berkembang saat itu, dimana perjalanan ke Masjidil Aqsha bisa ditempuh oleh Rasulullah SaW. hanya dalam waktu satu hari yang seharusnya memakan waktu hingga satu bulan lebih dengan kendaraan unta.
Ketidakmampuan nalar saat itu untuk mencerna peristiwa perjalanan Isra Mi’raj pada 14 abad yang lalu sehingga hanya mengandalkan keyakinan kepada cerita Rasulullah SAW semata bukan berarti ketiadaan bukti empiris dalam dunia ilmiah yang kita kenal saat ini. Di depan keagungan kekuasaan dan ilmu Allah SWT. peristiwa Isra Mi’raj tersebut mungkin hal yang remeh temeh karena tak bertepinya ilmu dan kekuasaan Allah SWT. di alam semesta ini yang belum dapat kita saksikan atau pahami karena Maha lemahnya diri manusia dibandingkan tanpa batasnya (Unlimited) ilmu dan kekuasaan yang Allah SWT. miliki.
Begitu pula dengan dunia Metaverse yang sedang dirintis oleh perusahaan Meta milik Zuckerberg, teknologi ini baru lah langkah awal dalam inovasi dunia ilmu pengetahuan yang ingin menciptakan dunia paralel di luar dunia realitas yang kita kenal saat ini. Penggunaan kaca mata virtual reality yang cenderung kurang nyaman hanyalah baru alat bantu awal untuk memasuki dunia Metaverse tersebut, pengembangan berikutnya mengarah kepada Neuron Link (Neuralink) dimana interface untuk memasuki dunia Metaverse bukan lagi dengan kacamata Virtual Reality tetapi sudah terhubung dengan pusat kendali otak kita melalui teknik implantasi, mirip seperti film Matrix yang aktornya diperagakan oleh Keanu Reeves.
Dunia paralel yang diciptakan dalam dunia Metaverse nanti setidaknya akan dapat membantu kita memahami kerumitan peristiwa Isra Mi’raj yang dijalani oleh Rasulullah SAW sehingga dapat memasuki batas terakhir perjalanan mi’raj/batas alam semesta yaitu di pohon Sidratul Muntaha dimana malaikat sehebat Jibril AS saja tidak mampu memasukinya. Dunia Metaverse yang nantinya bisa diakses melalui Neuron Link yang ditanam melalui otak manusia seperti yang diimpikan oleh Elon Musk akan menjadi alat bantu yang cukup efektif untuk memberikan pemahaman kepada kita bagaimana dunia paralel dapat tercipta hanya melalui gelombang impuls otak kita yang terhubung dalam dunia semu Metaverse.
Ketika Rasulullah SAW memasuki Sidratul Muntaha-Nya Allah SWT., maka tidak berlaku lagi hukum fisika yang dipahami di dunia yang kita tempati saat ini, keindahan Sidratul Muntaha tidak mampu dilukiskan oleh Rasulullah SAW. dan manusia manapun karena tiada bandingannya di dunia kita ini. Untuk memasuki Sidratul Muntaha ini, dada Rasulullah SAW telah dibedah sebelumnya oleh Malaikat Jibril AS, sehingga komponen dalam tubuh nabi dapat siap menerima perjalanan yang hukum dan dimensinya berbeda dengan alam dunia ini.
Jika kita analogikan dengan dunia Metaverse yang nantinya dapat diakses melalui interface Neuron Link tersebut maka kita dapat memahami dengan lebih baik perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha yang memasuki dunia yang punya dimensi lain. Dunia Metaverse masa depan adalah dunia abstrak yang diciptakan oleh otak kita yang distimulus oleh bahasa program yang diantarkan melalui Neuron Link ke otak sehingga menciptakan sensasi visual dan kognitif seakan-akan kita hadir secara fisik dalam dunia yang diciptakan dalam dunia Metaverse tersebut.
Alam yang dimasuki Rasulullah SAW. adalah alam yang keindahannya tidak bisa dilukiskan sendiri oleh Rasulullah SAW. karena saking kompleksnya keindahan alam di sekitar Sidratul Muntaha tersebut. Untuk membuat narasi tentang keindahan alam tersebut Rasululllah SAW. tidak mempunyai perbendaharaan kata yang bisa sesuai referensinya atauĀ konotasinya di dunia saat ini, atau dalam bahasa teori linguistik antara Penanda (Signify) dan yang ditandakan (Signified) tidak terhubung.
Dunia Metaverse bisa jadi membantu kita dalam memahami duniaĀ yang belum kita ketahui sebelumnya, seperti layaknya seorang manusia yang lahir di dunia hutan belantara dan tidak pernah sekalipun melihat bentuk sebuah Smartphone, maka dia akan sangat kesulitan menceritakan atau menggambarkan kembali dalam kata-kata sebuah Smartphone dengan perbendaharaan kata yang terbatas karena hanya hidup di dalam hutan belantara sejak lahir. Maka pantaslah Rasulullah SAW bersabda bahwa surga itu tidak pernah dilihat oleh siapapun keindahannya, tidak pernah ada telinga yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas oleh hati manusia manapun keindahannya (HR. Bukhari : 4407). Ketiadaan perbendaharaan kata dalam melukiskan keindahan alam surga yang terletak di dekat dengan Sidratul Muntaha tempat Rasulullah SAW melakukan Miāraj menjadikan pentingnya alat bantu dalam memahami dunia yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Bisa jadi dunia Metaverse memberikan kita sejuta visual dunia baru yang diciptakan melalui kecanggihan Artificial Intelligence sehingga kita dapat terpukau akan keindahan yang ditampilkan dalam dunia Metaverse tersebut, tetapi pastilah dunia Metaverse tersebut tidak mampu menggambarkan seperti apa keindahan pohon Sidratul Muntaha atau surga yang terletak di sebelahnya. Karena manusia hanya diberikan perangkat yang terbatas oleh Allah SWT. dalam mengembangkan kepintarannya walau dibantu dengan Artificial Intelligence. Tetapi setidaknya dunia Metaverse dapat membantu kita dalam menganalogikan keindahan dunia virtual yang jauh lebih rendah keindahannya dibandingkan keindahan surga yang Allah SWT. sediakan bagi orang yang beriman di akhirat nanti. Setidaknya kita akan bisa membandingkan dengan kalimat āJika alam Metaverse saja bisa seindah ini, apalagi alam surgaā, sehingga penemuan teknologi Metaverse bisa meningkatkan keimanan dan penghayatan kita akan janji surga yang akan Allah SWT. berikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Wallahuāalam Bishawwab
Oleh Ustadz Dr Taufik Hidayat M.Sc (Kasubdiv Konsultasi dan Pelayanan Umat PPPIJ)












