Home Khazanah Islam Akhlak MENGAKUI KELEMAHAN DIRI DI HARI FITRAH

MENGAKUI KELEMAHAN DIRI DI HARI FITRAH

0
515

Serial Ayat-Ayat Pendidikan

Oleh :

Ustaz Arief Rahman Hakim, S.Sos. M.Ag

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

 

TIDAK beberapa lama lagi hanya hitungan hari Ramadan akan meninggalkan kita. Madrasah mulia, universitas tertinggi, kawah candradimuka yang menempa pribadi, keluarga, masyarakat, umat dan bangsa selama sebulan penuh.

Kita belajar tentang salat tarawih dan salat tahajjud, ibadah puasa, zakat infak sedekah dan berbagi terhadap sesama, telah menempa pribadi-pribadi agar senantiasa menjaga akidah, syariah dan akhlak. Salat adalah sarana utama dan terbesar tazkiyatun-nafs, menyucikan jiwa.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Walillahil Hamd

Allah swt berfirman,

 

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur

[an-Nahl (16) : 78]

 

Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa Allah Ta’ala mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan mereka tidak mengetahui apa-apa. Manusia diciptakan pada fase awal penciptaan dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Kemudian, Allah membekalinya dengan ilmu dan pengetahuan. Lalu menganugerahinya akal pikiran yang bisa memahami berbagai hal, membedakan antara yang baik dan yang buruk, mampu memilih yang bermanfaat dan yang tidak. Allah Ta’ala menyediakan untuknya kunci-kunci pengetahuan berupa pendengaran yang dapat mendengar dan memahami suara. Juga penglihatan yang bisa melihat berbagai hal, serta hati yang bisa memahami berbagai hal.

 

Sementara Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di menyatakan bahwa manusia dikeluarkan dari perut ibunya tidak berdaya untuk berbuat apapun. Dan Allah Ta’ala menyebutkan tiga anggota tubuh secara khusus; pendengaran, penglihatan dan hati.

Karena nilai kemuliaan dan keutamaannya (yang lebih) dan karena ketiganya merupakan kunci pembuka ilmu. Tidak ada ilmu yang sampai kepada seorang hamba melainkan melalui salah satu dari tiga pintu itu. Apabila tidak demikian, maka seluruh anggota tubuh dan kekuatan lahiriah dan batiniah, Allah lah yang memberikannya kepada mereka. Dia senantiasa menumbuhkannya sedikit demi sedikit, sampai seseorang berada dalam kondisinya yang ideal. Hal itu, tujuannya agar mereka bersyukur kepada Allah dengan cara memakai piranti anggota tubuh yang Allah berikan kepada mereka dalam rangka ketaatan kepada Allah. Siapa saja yang menggunakannya untuk tujuan selain itu, maka anggota tubuh itu akan menjadi penggugat buruk atas dirinya yang telah membalas kenikmatan dengan timbal balik yang buruk.

Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir menjelaskan, bahwa semua kekuatan dan indera tersebut diperoleh manusia secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga dewasa. Penganugerahan daya tersebut kepada manusia dimaksudkan agar mereka dapat beribadah kepada Rabbnya yang Mahatinggi.

Dan Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menyatakan bahwa setiap ilmu yang manusia dapatkan sesudah itu, semuanya adalah anugerah dari Allah Ta’ala sesuai ukuran yang dikehendaki-Nya untuk kepentingan manusia dan untuk mencukupi keperluan manusia untuk hidup di muka bumi. Dan ekspresi syukur yang pertama adalah dalam bentuk beriman kepada Allah sebagai sesembahan Yang Maha Esa.

 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda dalam hadis Qudsi,

Sesungguhnya Allah SWT berfirman,

Barangsiapa memusuhi seorang kekasih-Ku, sungguh Aku umumkan perang terhadapnya (sungguh berarti ia mengumumkan Perang dengan-Ku). Seorang hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku fardhukan dan wajibkan atas dirinya. Seorang hamba-Ku terus senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya, dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengarkan, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memungut, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan sungguh jika ia memohon kepada-Ku, tentu Aku perkenankan, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, tentu Aku lindungi dia. Dan Aku tidak ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku perbuat seperti keragu-raguan-Ku untuk mencabut jiwa (nyawa) hamba-Ku yang Mukmin, ia tidak menyukai kematian, dan Aku tidak ingin menyakitinya, namun kematian adalah hal yang pasti baginya.

[HR. Bukhari]

 

Hadirnya Ramadan sejatinya menjadikan kita pribadi-pribadi yang semakin takut kepada Allah Ta’ala dan menjadikan Rasulullah sebagai teladan.

Tiga potensi dasar; pendengaran, penglihatan dan hati kurang difungsikan sebagaimana mestinya. Pendengaran kita lebih banyak digunakan untuk keburukan, kejahatan, dan rencana atau strategi yang merugikan orang lain bahkan mungkin dilakukan terhadap sesama muslim. Telinga sebagai alat pendengar bukan digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah Ta’ala, hadis-hadis dan nasehat-nasehat kebaikan termasuk nasehat kedua orangtua.

Penglihatan didominasi melihat hal-hal yang Allah Ta’ala tidak suka dan ridha. Termasuk pandangan-pandangan sinis dan merendahkan kepada orang yang berbeda ide, fikiran dan pendapat. Bahkan mungkin dilakukan terhadap sesama muslim. Mata sebagai alat penglihatan bukan digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala sehingga memunculkan rasa rendah dan tawadhu’ betapa diri ini sangat hina dina dan banyak memiliki kekurangan.

Hati digunakan untuk memerintahkan akal agar merusak hak-hak orang lain, merekayasa sedemikian rupa sehingga orang tersebut menjadi tertekan dan dihinggapi rasa khawatir dan gundah gulana. Hatinya kotor tidak mau melihat kelebihan orang lain, tidak rela jika orang lain memiliki keistimewaan dan mendapatkan prestasi atau penghargaan. Bahkan mungkin dilakukan terhadap sesama muslim.

Madrasah Ramadan semestinya digunakan seoptimal mungkin dalam membersihkan jiwa, memperindah iman, Islam dan ihsan sehingga setiap ibadah dan amal salih senantiasa diniatkan karena Allah Ta’ala, beragam gerak dakwah diniatkan lillah, dan seluruh helai nafas kelelahan dalam beraktifitas berorientasi menuju Allah Ta’ala. Agar hati ini senantiasa terawat dalam tauhid, ikhlas, shiddiq, tawakkal, takut dan harap, takwa, syukur, sabar, ridha, ihsan, taat, dan taubat terus menerus.

 

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْقَدِيرُ

 

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

[ar-Rum (30) : 54]

 

Saat sakit parah, Nabi Ayyub as berdo’a meminta kepada Allah Ta’ala,

 

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ

 

(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, (Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.

[al-Anbiya (21) : 83]

 

Ketika usia dirasa sudah renta dan tulang mulai rentan sementara buah hati yang diidam-idamkan belum didapatkan, Nabi Zakaria as berdo’a meminta kepada Allah Ta’ala,

 

وَزَكَرِيَّآ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ ۚ

 

(Ingatlah) Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya, Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang Engkau adalah sebaik-baik waris.

[al-Anbiya (21) : 89]

 

Dalam kondisi pengejaran Raja Mesir dan para prajuritnya dengan penuh kelelahan berjalan delapan hari menuju Madyan, Musa as tidak kenal satu orang pun penduduk yang disinggahi, membutuhkan tempat tinggal, memerlukan pekerjaan dan keinginan memiliki pasangan hidup dan berumah tangga. Ia berdo’a dan meminta kepada Allah Ta’ala,

 

فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

Maka, dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu. Dia kemudian berpindah ke tempat yang teduh, lalu berdoa, Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.

 

[al-Qasas (28) : 24]

 

Semoga di hari fitrah 1 Syawal 1447H ini Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengakui kelemahan-kelemahan diri agar bisa memperbaikinya di sebelas bulan berikutnya. Aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − seventeen =