PENJAGA QURAN, SAHABAT QURAN

0
438

hafal-quran

JIC – Dalam suatu kesempatan, penulis pernah mengucapkan kalimat ini: jangan pernah merasa tuntas dengan suatu ilmu. Misal, merasa sudah pernah mempelajari ilmu A, lalu kita merasa tuntas dengannya. Apalagi sampai merasa berpuas hati dan menyombongkan diri. Sebab, dari ilmu A saja … mungkin masih ada breakdown-nya A.1, A.2, A.3, dan sebagainya. Atau … hingga A ‘aksen’,  dan sebagainya.

Termasuk dalam mempelajari Al-Quran.Setelah kita bisa membacanya, maka pelajari kembali ilmu tajwid atau tahsinnya. Lalu, mulai belajar menghafalkannya. Dan khusus tentang hafalan ini, memang agak unik. Fase yang amat menguji keshabaran dan konsistensi. Padahal, salah satu keistimewaan dari Al-Quran adalah: mudah dihafalkan. Maka, sebetulnya setiap manusia memang berpotensi untuk bisa menjadi seorang penghafal Al-Quran.

Namun, jika hanya sekadar menghafal … bahkan kaum misionaris, para orientalis, atau seseorang yang buruk akhlak dan perangainya pun mampu menghafalkan seluruh isi Al-Quran. Tapi, apakah mereka bertujuan untuk menjadi penjaga Quran? Inilah letak perbedaannya. Bagi seorang penjaga Al-Quran, selain berusaha membaca dan menghafal Al-Quran sesuai dengan yang telah Rasul contohkan, juga akan berusaha mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.

Hafizh Quran, adalah seseorang yang mampu menghidupkan Al-Quran di dalam hatinya. Hafizh Quran, mampu menyalakan potensi hatinya … bukan hanya potensi akal, atau potensi nafsunya (konteks disini: semangat).

“Sesungguhnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim.” (QS Al-Ankabut : 49)

Percayalah, bahwa Al-Quran itu memang ‘hidup’. Jika kita mengaku cinta Al-Quran, maka perlu pembuktian dan pengorbanan. Bukankah sejatinya cinta itu adalah tindakan? Seumpama kekasih, atau sahabat dekat … maka Al-Quran pun butuh ‘perhatian’, butuh pertemuan intens, bahkan Al-Quran bisa cemburu.

Penulis pernah mendapat kisah tentang seorang penghafal Al-Quran yang hilang beberapa halaman hafalannya karena 10 menit menonton TV. Atau mungkin kita pun pernah mengalami, saat lebih sering berinteraksi dengan musik, maka dalam hati pun bisa bersenandung. Mean, yang meliputi hati kita saat itu adalah berbagai lirik dan nada musik. Dan Al-Quran, ternyata tidak mau diduakan.

Sebetulnya, saat kita berusaha menjaga Al-Quran … otomatis kita sedang menjaga diri. Contoh mudah, ketika mengetahui proses jatuh bangun menghafal Al-Quran, maka sebisa mungkin kita tidak ingin jika ayat-ayat yang sudah susah payah kita hafal, menguap begitu saja. Dan hal tersebut bisa saja terjadi kala kita banyak melakukan maksiat. Akhirnya, saat di hati sempat terbersit untuk melakukan kemaksiatan, maka (setidaknya) akan timbul self control: gue gak mau hafalan Quran gue ilang! (lillahi ta’ala)

Barangsiapa yang membaca (menghafal) Al-Quran, maka sungguh dirinya telah menyamai derajat kenabian hanya saja tidak ada wahyu baginya (penghafal). Tidak pantas bagi penghafal Al-Quran bersama siapa saja yang ia dapati dan tidak melakukan kebodohan terhadap orang yang melakukan kebodohan (selektif dalam bergaul) sementara dalam dirnya terdapat firman Allah.” (HR. Hakim)

Lebih dari itu, para penghafal Al-Quran adalah keluarga Allah di dunia. Siapa sih, yang enggak mau dianggap keluarga oleh Dzat yang Maha Segalanya? Yang namanya keluarga, sudah bisa dibayangkan bagaimana kedekatannya, bukan? Selain itu, seorang penghafal Al-Quran tentunya  bisa mengangkat kemuliaan keluarganya sendiri (khususnya orang tua).

Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia…” Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Baginda manjawab, “yaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Quran dan mengamalkannya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. Ahmad)

Siapa yang membaca Al-Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Quran”. (HR. Al Hakim) 

Masya Allah…

Jika kita sudah mengetahui begitu banyak keutamaan yang didapatkan oleh seseorang yang mendekatkan diri dengan Al-Quran … lantas, apakah hati ini masih belum juga tergerak untuk berakrab-akrab dengannya?

Sumber ; ummi-online.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven − 6 =