Home News Update Islam Indonesia PRODUK HALAL INDONESIA MASIH TERTINGGAL, MENDAG DESAK PRODUSEN AGAR PENUHI STANDAR

PRODUK HALAL INDONESIA MASIH TERTINGGAL, MENDAG DESAK PRODUSEN AGAR PENUHI STANDAR

0
385
Founder Halal Corner Aisha Maharani belanja produk dengan label halal di salah satu supermarket kawasan Bogor, Jumat (11/3). MI/Galih Pradipta

JIC, Jakarta — Saat ini, label halal digemari sejumlah negara mayoritas non Muslim. Seperti Jepang dan sejumah negara tujuan wisata di Asia maupun Eropa. Faktanya, meskipun Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia, namun Malaysia justru yang lebih dikenal.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita mengatakan kini makanan halal menjadi sesuatu yang trendi. Dia menilai rumusan makanan halal itu sederhana, yakni sehat.

“Halal yang menyehatkan ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi ekspor makanan kita sehingga perlu disebarluaskan di Jepang,” ujar Mendag saat berdialog dengan diaspora Indonesia di Jepang pekan lalu.

Acara dialog yang dipandu Duta Besar RI untuk Jepang, Arifin Tasrif, itu berlangsung di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Turut hadir dalam acara itu Utusan Khusus Presiden Bidang Investasi Jepang Rachmat Gobel, dan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Arlinda.

Namun sayangnya, lanjut Mendag, sejauh ini proses untuk mendapatkan sertifikat halal masih dirasakan terlalu lama dan berbelit.

“Saya sudah berbicara dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk lebih menyederhanakan,” ujarnya.

Selain sertifikat halal, yang perlu diperhatikan agar setiap produk Indonesia khususnya dari para pengusaha UKM dapat bersaing dengan produk negara lain adalah terpenuhinya standar tertentu.

Hal ini melibatkan Badan Standarisasi Nasional untuk mendapatkan SNI dan sertifikat dari BPOM untuk produk makanan bisa disebut higienis dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan.

“Itu memang lama prosesnya karena harus ekstra hati-hati menguji dan mengawasinya. Cuma saya paham juga kalau teman-teman dari kalangan pengusaha inginnya serba cepat,” kata Enggartiasto.

Mengenai produk halal, juga sempat mengemuka pula dalam pertemuan 21 pengusaha Indonesia dengan jajaran direksi AEON, jaringan mal terbesar di Asia dengan total aset Rp 900 triliun. Pihak AEON memberikan jawaban yang cukup mengejutkan, bahwa jaringan mal mereka memang sudah ikut menjual dan memasarkan produk halal. Tapi semua itu diimpor dari Malaysia, bukan Indonesia yang notabene negara Muslim terbesar di dunia.

“Ironis, tapi ini lah tantangan yang perlu disadari lalu kita bangkit bersama untuk memperbaiki dan mengejar ketertinggalan kita,” pungkas Arlinda yang memimpin rombongan pengusaha ke AEON.

Sumber ; gomuslim.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 3 =