PROF QURAISH SHIHAB: BANGUN NEGARA ISLAMI BUTUH PROSES

Prof Quraish Shihab: Bangun Negara Islami Butuh Proses. Foto: Cendekiawan Muslim M Quraish shihab saat ditemui wartawan di di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (20/5)..    Foto: Republika/Fauziah Mursid

Bangun negara Islami menurut Prof Quraish Shihab butuh proses.

JIC, JAKARTA — Prof. Dr. M Quraish Shihab menjelaskan perbedaan negara Islam dan negara Islami. Menurutnya negara Islam lebih mengacu pada bentuk sedangkan Islami mengacu pada nilai-nilai dan sifatnya. Karena itu Quraish Shihab menjelaskan Islam tidak pernah mensakralkan bentuk sebuah negara.

“Yang ditekankan itu sifat-sifatnya dan nilai nilainya. Ketika saya berkata kita ingin membangun negara Islami yang nilai-nilai dan sifat-sifatnya yang ditekankan dan dianjurkan oleh Islam maka itu bagus,” jelas Quraish Shihab dalam peluncuran dan diskusi buku terbarunya berjudul Islam dan Kebangsaan; Tauhid, Kemanusiaan dan Kewarganegaraan secara virtual pada Kamis (26/11).

Quraish Shihab juga menjelaskan untuk membangun sebuah negara Islami membutuhkan proses panjang. Nilai-nilai Islam harus tertanam kuat dalam jiwa masyarakat dan menerapkannya. Itu sebabnya menurut Quraish Shihab untuk menancapkan nilai-nilai Islam perlu memperhatikan budaya yang tentunya berbeda di satu negara dengan negara lainnya.

Bahkan Quraish Shihab menjelaskan pada masa Rasulullah penerapan syariat atau hukum-hukum Islam baru berlaku ketika Rasulullah berada di Madinah. Hal tersebut menunjukan bahwa untuk membangun negara dengan nilai-nilai Islam memerlukan proses dibarengi dengan kedamaian. “Maka kita membangun negara ini berdasar nilai-nilai Islami tetapi itu tidak bisa sekaligus,” jelasnya.

Sementara itu cendekiawan Muslim, Yudi Latif juga melihat banyak orang yang justru merasa asing dengan konsep kebangsaaan atau nation. Padahal menurutnya konsep berbangsa dan bernegara berawal muncul dari komunitas Islam di Madinah pada masa Rasulullah.

“Jadi konsep nation yang berkembang itu justru asal usulnya ada dalam tradisi islam di Madinah, dimana muhajirin ansor yahudi dan lain lain itu bisa dipersatukan dalam satu komunitas ummah yang sama. Jadi Indonesia memang secara formal tidak negara Islam, tapi Pancasila sudah memenuhi bahkan melampaui apa yang sudah dipikirkan oleh para tokoh pembentuk negara islam itu sendiri,” tuturnya.

Sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

UNGKAP ISI PERTEMUAN DENGAN PANGDAM JAYA, FPI DKI SIAP BANTU COPOT BALIHO

Read Next

FKUB-SULTENG-HARAP-MASYARAKAT-TETAP-TENANG-DAN-TIDAK-TERPROVOKASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + four =