Home Khazanah Islam Akhlak RUMAH PALING LEMAH RUMAH LABA-LABA

RUMAH PALING LEMAH RUMAH LABA-LABA

0
157
Ilustrasi

Serial Ayat-Ayat Pendidikan -Edisi Lima Puluh Tujuh

Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag. (Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ)

Reuters memberitakan bahwa hingga Agustus 2026, kebakaran pada periode Januari sampai Juni 2026 telah menghanguskan 107,465 hektare lahan, atau meningkat 110 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2023, saat terakhir kali El Nino menyerang Indonesia.  Angka ini diperbaharui pada tanggal 18 Agustus dengan Menteri Kehutanan menyatakan bahwa 202 ribu hektare hutan dan lahan telah terbakar di seluruh Indonesia.

Diperkirakan penyebab utama dari kebakaran ini adalah ulah manusia sendiri, sementara El Nino yang sering dijadikan kambing hitam hanya menjadi katalis. Pembukaan hutan  besar-besaran untuk kepentingan perkebunan dan pertambangan diperkirakan membuat lahan menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Teknik membuka lahan dengan membakar ini sering dianggap sebagai yang paling efisien, namun realitanya menyebabkan kerugian ekonomi dan lingkungan paling besar.

Data dari Sipongi Kementerian Kehutanan, ada sebelas provinsi dengan kebakaran hutan dan lahan terbesar sesuai urutan ; Kalimantan Barat, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Riau, Maluku, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kepulauan Riau.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَاۤءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًاۗ وَاِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Perumpamaan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung adalah seperti laba-laba betina yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba. Jika mereka tahu, (niscaya tidak akan menyembahnya). [Al-‘Ankabut (29) : 41]

Di dalam terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama, kata auliyā’ adalah bentuk jamak dari kata waliy. Secara harfiah kata ini berarti dekat sehingga menunjukkan makna teman dekat, teman akrab, teman setia, kekasih, penolong, sekutu, pelindung, pembela, dan pemimpin. Kata waliy dan auliyā’ dalam Al-Qur’an diulang 41 kali. Maknanya berbeda-beda sesuai dengan konteks ayat.

Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir bahwa ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allah bagi orang-orang musyrik yang menjadikan (bagi mereka) Ilah-Ilah lain selain Allah, dimana mereka mengharapkan pertolongannya, meminta rezeki dan berpegang pada mereka dalam keadaan sempit.

Keadaan mereka seperti sarang laba-laba dalam kelemahan dan kerapuhannya, tidak dapat merubah apa-apa. Berbeda dengan orang Islam yang hatinya beriman kepada Allah, dan di samping berbuat amal dengan buhul tali yang amat kuat yang tidak akan lepas karena begitu kuat dan kokohnya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di bahwa mereka yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung, mereka fakir dan lemah dari segala sisi. Dan dikala mereka mengambil pelindung-pelindung dari selain-Nya (dengan maksud) agar mereka menjadi mulia karenanya dan meminta pertolongan kepada mereka, maka makin bertambah lemah dan makin bertambah rapuh. Sebab mereka menjadikan para sesembahan itu sebagai sandaran dalam kebanyakan kepentingan mereka, dan menyerahkan berbagai permasalahan itu kepada mereka, serta membiarkan mereka (untuk mengurusinya) dengan keyakinan bahwa para sesembahan (pelindung) itu akan menuntaskannya. Lalu mereka (para sesembahan) itu menelantarkan mereka, akhirnya mereka sama sekali tidak memperoleh apa pun dari mereka, dan mereka pun tidak memberikan pertolongan sekecil apa pun kepada mereka.

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan perumpamaan bagi hakikat kekuatan-kekuatan yang saling berbenturan di sini. Bahwa ada kekuatan yang satu, yaitu kekuatan Allah Ta’ala. Sementara yang lainnya, berupa kekuatan makhluk adalah kekuatan yang rapuh dan lemah. Maka siapa yang bergantung dengannya atau berlindung kepada kekuatan makhluk itu, berarti ia seperti laba-laba yang lemah yang berlindung dengan rumah dari benang-benang yang rapuh.

Kekuatan Allah sematalah yang sebenar-benarnya kekuatan itu, dan kekuasaan Allah sematalah yang sebenar-benarnya kekuasaan. Sementara yang selainnya adalah lemah, kecil dan rapuh.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir mengatakan bahwa rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba sebab ia bisa roboh karena sesuatu yang paling ringan dan tidak tersisa lagi apa pun. Demikian halnya amal perbuatan mereka tidak ada bekasnya.

Di dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّآ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰىةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ

Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai para wali dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, hal itu sama sekali bukan dari (ajaran) Allah, kecuali untuk menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya kepada Allah tempat kembali. [Ali Imran (3) : 28]

Doa’ yang menunjukkan tawakal penuh kepada Allah Ta’ala,

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertaubat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau, dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. [HR. Muslim]

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah di dalam Madarijussalikin menuturkan bahwa perbuatan ibu Musa yang melarung putranya di sungai seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, merupakan keyakinan terhadap Allah. Sebab kalau tidak ada keyakinan terhadap Allah, mana mungkin dia mau menghanyutkan buah hatinya di atas permukaan air sungai yang bergelombang dan berombak, yang membawanya entah ke mana?

Artinya, keyakinan ini merupakan inti tawakal seperti halnya warna hitam yang merupakan bagian terpenting pada mata, atau seperti titik tengah dalam suatu lingkaran, yang semua sisi-sisinya berpusat kepadanya, atau seperti relung hati, yang menjadi bagian terpenting dari hati.

Abdurrahman Dahlan di dalam Kaidah-kaidah Tafsir bahwa salah satu keunikan yang ditemukan dalam Al-Qur’an terletak pada segi metode pengajaran dan penyampaian pesan-pesannya ke dalam jiwa manusia. Metode penyampaian pesan-pesan tersebut adalah metode yang paling singkat, mudah dan jelas. Satu di antaranya adalah metode melalui ungkapan matsal (perumpamaan, permisalan; jamaknya amtsal) terhadap hal-hal yang bersifat sangat mendasar dan bersifat abstrak.

Di dalam buku Rekayasa Sosial dalam Al-Qur’an yang ditulis Ahmad Dzakirin bahwa iman menjadi perwujudan ilmu, sedangkan amal adalah buah iman. Realisasi iman ada dalam amal. Iman adalah hakikat menggerakkan yang menetap dalam sanubari dan secara aktif termanifestasikan dalam perbuatan yang berorientasi kepada kebaikan (amal salih). Indikasi lahiriah iman adalah amal salih. Maka tidak heran Allah Ta’ala senantiasa mengaitkan perwujudan kerja (amal) setelah pengakuan iman.

Terkadang manusia itu sudah merasakan kesulitan di dalam menjalani hidup dan kehidupan ini namun masih malas untuk beribadah kepada Allah, malas mengingat-Nya dalam berdiri, duduk dan berbaring. Tidak menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya kekuatan, penolong yang wajib disembah, ditakuti dan dirindukan. Malah mencari kekuatan-kekuatan lain sebagai tandingan Allah, menyekutukan-Nya dan tidak yakin akan pertolongan-Nya. Bahkan mungkin banyak menzalimi saudaranya sesama muslim.

Dari Imam Ibnu Al-Jauzi di dalam Shaidul Khatir, tatkala nasihat diperdengarkan kepada seseorang, seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan. Namun tatkala ia keluar dari majelis ilmu, hatinya kembali mengeras dan membatu.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dan keluarga, menjadikan Allah Ta’ala satu-satunya pelindung dan penolong dalam setiap fikiran, gerak nafas, dan aktifitas kita. Allahumma Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − 7 =