Home Khazanah Islam Akidah SAAT SAHABAT KONSULTASIKAN HADITS MULTITAFSIR KE RASULULLAH (2)

SAAT SAHABAT KONSULTASIKAN HADITS MULTITAFSIR KE RASULULLAH (2)

0
472

Itu artinya, golongan sahabat ini tidak memahami haditsĀ  tersebut sebagaimana bunyi teksnya. Di mana terdapat larangan sholat Ashar kecuali telah tiba di perkampungan Bani Quraidzah. Sedangkan sebagian sahabat lainnya memahami berbeda.

Menurut sahabat di kalangan ini, haditsĀ  tersebut adalah pesan Rasulullah SAW untuk hanya sholat Ashar di perkampungan Bani Quraidzah dan tidak boleh sholat di lain tempat meski waktu sholat Ashar telah masuk.

Saat kembali dari Bani Quraidzah, para sahabat menceritakan peristiwa tersebut kepada Nabi untuk meminta penjelasan. Kemudian oleh Nabi, kedua pemahaman tersebut dibenarkan.

 

Kebiasaan para sahabat untuk memnta klarifikasi atas sebuah persoalan langsung kepada Nabi, di kemudian hari dikenal dengan nama metode kritik matan.

Yakni menjelaskan kebenaran atau ketidakbenaran penisbatan teks haditsĀ  kepada Rasulullah SAW. Kebenaran ini dalam ilmu haditsĀ  diperoleh dengan cara mengetahui apakah teks sebuah haditsĀ  itu bebas dari shuzuz (kejanggalan) dan illat (cacat).

Sejarah pemahaman haditsĀ  juga berlanjut hingga generasi setelah Nabi wafat. Masa ini ditandai dengan kehati-hatian para sahabat dalam meriwayatkan hadits.

Hal ini dilatarbelakangi kekhawatiran para sahabat atas ancaman untuk orang-orang yang berani berdusta atas nama Rasulullah SAW, serta kekhawatiran tercampurnya Alquran dengan hadits .

Kehati-hatian yang sama juga dilakukan para sahabat dalam menerima suatu haditsĀ  sebagaimana yang dilakukan Sayyidina Abu Bakar yang melakukan kroscek ke sahabat yang lain tentang validitas sebuah hadits. Sebab pascawafatnya Nabi Muhammad, situasi tidak lagi sama.

Para sahabat tidak lagi dapat secara leluasa menanyakan maksud suatu haditsĀ  secara langsung kepada sumbernya. Karenanya, interpretasi terhadap haditsĀ  pun semakin beragam.

Ditambah dengan kesenjangan kapasitas antar-sahabat dalam mencerna hadits , keragaman pemahaman terhadap suatu haditsĀ  semakin tidak mungkin untuk dibendung.

Belum lagi perbedaan kapasitas intelektual para sahabat. Maka tentang keragaman pemahaman ini, kalangan sahabat memberikan dua macam respons pertama, sebagian sahabat memilih untuk diam.

 

Dan kedua, sahabat memberikan komentar berupa kritik. Hal ini dilakukan dengan mengkonfirmasi sebuah pemahaman dengan nash Alquran atau dengan hadits -hadits yang lain.

Sumber : Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen + 12 =