Home Khazanah Islam Akidah SISI LAIN SALAHUDDIN: KEMANUSIAAN DI BALIK RUNTUHNYA BENTENG YERUSALEM

SISI LAIN SALAHUDDIN: KEMANUSIAAN DI BALIK RUNTUHNYA BENTENG YERUSALEM

0
335
Ilustrasi: Sosok Perempuan Nasrani asal Yerusalem yang dimuliakan oleh Islam tapi dizalimi oleh bangsanya sendiri. [AI]

Kecemasan di Balik Dinding Rumah

MARIA berjalan mondar-mandir di dalam rumah. Ia tidak bisa tenang karena sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya, sembari mendekap erat bayi kecilnya ke dada.

Keputusasaan mulai merundung dirinya hingga terbayang bahwa anaknya telah menjadi yatim tanpa ayah. Air mata pun menetes dari kedua matanya ke wajah sang bayi, membuatnya terjaga dalam ketakutan lalu menangis.

Suaminya pergi ke medan laga untuk menahan pasukan muslim agar tidak memasuki Baitulmaqdis, dan Maria tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Maria sebenarnya adalah seorang perempuan yang pemberani dan tidak mengenal rasa takut.

Namun, Perang Hittin tidak menyisakan sedikit pun keberanian di dalam hati orang-orang Franka (Eropa Barat) karena pertempuran itu telah menghancurkan pasukan mereka, padahal suami Maria adalah pahlawan bagi kaumnya.

Pintu rumah terbuka, membuat jantung Maria berdegap kencang dengan napas yang memburu. Ia tidak tahu apakah itu pembawa kabar gembira atau justru kabar duka.

Saat menoleh, ia mendapati suaminya masuk dalam keadaan sehat walafiat, lalu menceritakan kemenangan mereka. “Orang-orang muslim telah melarikan diri sebelum peperangan dimulai.”

Maria berjalan bersama suaminya menuju gereja agung untuk menyaksikan perayaan kemenangan. Di sepanjang jalan, suaminya terus bercerita tentang “monster-monster” itu, menggambarkan kekejaman agama serta para lelakinya.

Ia juga mendeskripsikan raja mereka, Salahuddin Al-Ayyubi. Maria gemetar ketakutan mendengar gambaran-gambaran mengerikan yang diceritakan suaminya, lalu semakin erat mendekap sang anak.

Mimpi Buruk yang Menjadi Kenyataan

Maria tertidur, tetapi ia tidak mendapati apa pun kecuali mimpi buruk yang mengerikan. Ia merasa seolah-olah kota sedang berguncang dan benteng-bentengnya sedang dihancurkan.

Suara tangisan dan jeritan kaum lelaki kemudian sampai ke telinganya, hingga ia tersadar bahwa itu bukanlah mimpi, melainkan sebuah kenyataan. Ia segera melompat bangun sambil menggendong anaknya, lalu melihat ke arah tempat tidur suaminya, tetapi sang suami tidak ada di sana.

Maria keluar rumah untuk mencari kabar. Orang-orang kemudian memberi tahu dirinya bahwa Salahuddin telah mengepung kota dan berhasil menguasainya.

Berbagai berita mulai berdatangan kepadanya, dan setiap berita terasa lebih buruk dari kabar sebelumnya. Setiap menit berlalu, ia mendengar kabar baru tentang kekuatan serangan pasukan muslim, hingga akhirnya datang berita bahwa bendera putih telah dikibarkan di atas tembok kota.

Gencatan senjata telah disepakati dengan syarat siapa pun yang ingin keluar dari kota diberi waktu selama empat puluh hari. Syarat lainnya adalah setiap laki-laki yang ingin keluar harus membayar tebusan sepuluh dinar, perempuan lima dinar, dan anak-anak dua dinar.

Kebohongan yang Terpatahkan

Maria keluar untuk mencari suami tercintanya. Ia berjalan menembus kegelapan malam mengitari tembok kota dan memperhatikan setiap pintu gerbang.

Di sekelilingnya, ada banyak laki-laki dan perempuan yang juga sedang mencari kerabat atau teman, sama seperti dirinya. Ia mulai bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya tentang keberadaan suaminya, tetapi tidak ada seorang pun yang berhenti untuk memedulikannya.

Kemudian, ia melihat seorang syekh (lelaki tua) yang menjelma sebagai tetua yang diketahuinya, lalu bertanya, “Wahai Ayah! Apakah engkau melihat suamiku?” Namun, lelaki tua itu tidak menjawab.

Maria bertanya lagi, “Wahai Ayah, menurutmu apa yang akan mereka lakukan kepada kita? Apakah mereka akan mengambil anakku lalu memakan dagingnya di hadapan mataku?”

Lelaki tua itu menjawab, “Siapa yang telah mencekokimu dengan kebohongan-kebohongan seperti itu? Sesungguhnya orang-orang muslim adalah kaum yang mulia dan menepati janji, serta raja mereka, Salahuddin, adalah raja terbaik dari seluruh raja yang ada.”

Lelaki tua itu mulai menceritakan keluhuran akhlak orang-orang muslim yang diketahuinya, tetapi Maria masih sulit memercayainya.

Lelaki tua itu menambahkan, “Seandainya mereka membantai kita pun, mereka tidak bisa disebut sebagai penyerang, melainkan bertindak adil. Sebab, ketika kita memasuki Al-Quds seratus tahun yang lalu, kita membantai mereka di dalam rumah, di jalan-jalan, dan di dalam masjid.”

Menatap Peradaban Baru

Pagi telah tiba, dan Maria masih terus mencari suaminya, sementara anaknya tiada henti memanggil, “Papa… Papa…” Ia kemudian bergegas menemui tetangga-tetangga perempuannya.

Kala itu, suara takbir orang-orang muslim bergemuruh di seantero Al-Quds, “Allahu Akbar… Allahu Akbar…” Tidak lama kemudian, sampailah kabar kepada mereka mengenai apa yang sesungguhnya dilakukan oleh orang-orang muslim di dalam kota.

Sesungguhnya orang-orang muslim tidak menyakiti seorang pun dan tidak menjarah harta benda. Orang-orang muslim adalah kaum yang berperadaban tinggi, bukan sekumpulan monster yang kejam.

Maria memperhatikan kaumnya. Sebagian dari mereka ternyata lebih memilih untuk hidup di bawah naungan bendera Islam setelah menyaksikan sendiri keadilan, keamanan, dan tingginya peradaban muslim.

Sementara itu, kelompok yang lain memilih untuk pergi meninggalkan kota. Maria memilih untuk ikut bersama kelompok ini, bukan karena ia membenci orang-orang muslim.

Ia pergi karena tidak sanggup hidup sebatang kara di kota yang setiap sudutnya selalu mengingatkan dirinya pada sang suami yang hilang.

Kemurahan Hati sang Sultan

Kafilah mulai bergerak, dan Maria menengok ke belakang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kota yang dicintainya itu seraya menangis. Di sekelilingnya, banyak perempuan yang juga menangis meratapi suami mereka yang ditawan atau gugur.

Tiba-tiba, tentara muslim menghentikan kafilah tersebut. Maria mendengar seseorang berkata, “Ini dia Sultan Salahuddin.”

Salahuddin bertanya kepada para perempuan tersebut, “Apa yang kalian inginkan?” Seorang perempuan menjawab, “Suami-suami kami ditawan,” lalu para perempuan itu pun menangis.

Salahuddin segera memerintahkan untuk membebaskan tawanan mereka. Ketika Maria melihat suaminya kembali dalam keadaan sehat, sirnalah semua penderitaan yang dirasakannya.

Ia merasa sangat berutang budi dan hormat kepada lelaki agung ini, Salahuddin. Ia melihat nilai-nilai kemunasiaan dan kebenaran sejati menjelma di dalam diri sang Sultan.

Akhir Tragis di Tangan Bangsa Sendiri

Kafilah tersebut bergerak menuju Tripoli setelah keluar dari wilayah kekuasaan kaum muslim. Namun, ketika mereka tiba di sana, penguasa kota Tripoli justru menutup pintu gerbang tembok kota.

Ia mengirim pasukannya untuk merampok kafilah tersebut dan membunuh kaum lelakinya; suami Maria termasuk di antara mereka yang tewas. Orang-orang yang tersisa dari kafilah itu tersesat di padang pasir, dan sebagian memilih kembali ke wilayah kaum muslim.

Sementara itu, Maria termasuk di antara orang-orang yang tersesat dan berjalan di antara mereka tanpa arah dan akal sehat. Ketika mereka sampai di tembok kota Antiokhia, penduduk setempat menolak mereka, sehingga mereka pun terpaksa kembali ke tanah Islam.

Adapun Maria, ia tetap tinggal di tempatnya dalam keadaan linglung. Seorang pemuda dari kaumnya datang menghampiri dan membawanya ke rumahnya.

Maria langsung tertidur pulas karena keletihan yang amat sangat. Tidak lama kemudian, ia terbangun mendadak karena mendengar suara seorang lelaki yang berkata kepada temannya, “Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu.” Lelaki yang lain menyahut, “Dia adalah buruanku!”

Maria menyadari bahwa perselisihan itu adalah tentang dirinya dan kehormatannya.

Ketika melihat kedua lelaki itu berjalan mendekatinya, ia langsung berlari menuju laut, melemparkan anaknya ke dalam air, lalu melompat menyusulnya demi menjaga kesucian dirinya.[]

Karya: Ali At-Tantawi, dalam Al-Arabiyyah lin Nasyiin Jiilid 6  – (Dengan beberapa penyesuaian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 2 =