TANGKAL-RADIKALISME-DAN-TERORISME-LEWAT-SOFT-APPROACH (3)

Personel Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Bali memeriksa benda mencurigakan saat kegiatan Simulasi Penanganan Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPTKP) Teror di Kantor PLN UP2D Bali, Denpasar, Bali, Kamis (29/4/2021). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj.

Pencegahan radikalisme

Jakarta,  JIC  – Program pencegahan radikalisme tidak hanya berjalan di zona rawan terorisme, tetapi di seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke.

Di Polda Metro Jaya, menurut Yusri, pihaknya mempunyai strategi dalam penanganan terorisme dan radikalisme yakni preemtif, preventif dan penegakan hukum.

Penegakan hukum, katanya, adalah langkah terakhir yang dilakukan oleh kepolisian dalam menindak terorisme dan radikalisme.

Upaya preemtif yang dilakukan, yakni Polda Metro Jaya melakukan program sambang warga.

Kegiatan itu dilakukan bersinergi dengan pemerintah daerah, yang bersama camat dan lurah menyambangi masyarakat melakukan deradikalisasi yakni mendekati masyarakat dan mencegah paham-paham radikal masuk.

Ada juga program preemtif di pesantren. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Bhabinkamtibmas dan juga intelijen.

Dalam pencegahan ini, Polda Metro Jaya juga menggunakan momen hari besar keagamaan untuk melaksanakan program deradikalisasi, yang mendekatkan Polri dengan masyarakat lewat program cooling system atau menenangkan masyarakat.

Program ini pun melibatkan langsung Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Fadil Imran yang datang dan menyapa para tokoh-tokoh agama, berkeliling masjid-masjid mengikuti kegiatan Ramadhan, dan membagi bantuan.

Polda Metro Jaya memiliki program Ramadhan Barokah, yang membagikan takjil kepada masyarakat. Dananya berasal dari sumbangan anggota Polri setiap Jumat yang dikumpulkan lewat kotak amal.

Bantuan takjil dibeli dari para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti warteg, dalam rangka menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

“Harapannya, tercipta keamanan dan ketertiban masyarakat di DKI Jakarta  yang aman, tertib, dan sehat. Sekarang pandemi COVID-19, kalau kita sudah aman, tertib dan sehat, masyarakat mau apalagi,” kata Yusri.

Pencegahan terorisme bukan saja tanggung jawab Polri, tapi seluruh elemen masyarakat untuk mau bergandengan tangan menangkal paham radikalisme masuk ke masyarakat.

Mantan tokoh Jemaah Islamiyah (JI) jaringan terorisme Asia Tenggara, Nasir Abbas mengatakan pencegahan terorisme harus dilakukan di level masyarakat dengan mengaktifkan pengawasan RT, RW, lurah, camat dan Bhabimkabtimas, seperti lewat wajib lapor pendatang 1×24 jam.

Ketegasan aparat wilayah dan masyarakat, tidak hanya dapat mencegah radikalisme dan terorisme, tapi juga bentuk-bentuk kejahatan lainnya, seperti narkoba, prostitusi, dan perdagangan orang.

Sejalan dengan Abbas, Rusdi menyebutkan aturan wajib lapor 1×24 jam itu harus dilakukan.

“Jika aturan itu ditegakkan oleh seluruh RT dan RW, pasti terkontrol siapa yang datang, datang dari mana, tinggal di mana, menginap di mana, itu akan terkontrol. Tetapi, ketika aturan itu lalai dilaksanakan, berakibat lingkungan sulit dikontrol,” ujarnya.

Rusdi juga menyebutkan pencegahan menempatkan porsi terbanyak dalam upaya kepolisian melakukan penanggulangan radikalisme dan terorisme.

Dalam ilmu kepolisian di era ini, polisi yang hebat, polisi yang berhasil, bukan polisi yang banyak memasukkan orang ke penjara dan memberikannya ke jaksa untuk dipenjarakan.

“Polisi yang hebat itu, polisi yang mampu mencegah kejahatan tidak terjadi, masyarakat tidak menjadi korban dan masyarakat tidak menjadi pelaku kejahatan. Program pencegahan harus dikedepankan dalam era modern ini,” kata Brigjen Rusdi.

Sumber : Antaranews.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

TANGKAL-RADIKALISME-DAN-TERORISME-LEWAT-SOFT-APPROACH (1)

Read Next

TIPS-TETAP-BUGAR-SAAT-LAKUKAN-ITIKAF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 6 =