Home Khazanah Islam Akhlak UMAIR BIN SAAD, GUBERNUR HIMS YANG SANGAT ZUHUD

UMAIR BIN SAAD, GUBERNUR HIMS YANG SANGAT ZUHUD

0
312
Ilustrasi

KHALIFAH Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengangkat Umair bin Saad sebagai gubernur di wilayah Hims.

Tidak berselang lama, datanglah sebuah delegasi yang terdiri dari penduduk Hims menemui Amirul Mukminin.

Umar berkata kepada mereka: “Tuliskan untukku nama-nama orang fakir di antara kalian, agar aku bisa memberi mereka bantuan dari baitulmal (harta umat Islam).” Maka mereka pun menuliskan nama-nama orang fakir di kalangan mereka, dan ternyata di antara nama tersebut terdapat nama Umair bin Saad.

Umar lalu bertanya kepada mereka: “Siapakah Umair bin Saad ini?” Mereka menjawab: “Gubernur kami.” Umar terkejut dan berkata: “Gubernur kalian seorang yang fakir?!” Mereka menjawab: “Benar, demi Allah. Sungguh, hari-hari yang panjang telah berlalu ladanya, namun tidak pernah sekalipun api dinyalakan di rumahnya (tidak ada makanan yang bisa dimasak).”

Mendengar hal itu, Umar pun menangis. Kemudian beliau memasukkan uang sebanyak seribu dinar ke dalam sebuah kantong (pundi-pundi) dan berkata: “Berikan ini kepadanya agar ia bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.”

Ketika delegasi tersebut kembali ke Hims dan menyerahkan kantong dinar itu kepada Umair, ia langsung berucap: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” seolah-olah ia baru saja ditimpa musibah besar.

Istrinya yang melihat hal itu bertanya: “Ada apa? Apakah Amirul Mukminin wafat?” Umair menjawab: “Bahkan lebih besar dari itu. Dunia telah datang memasukiku untuk merusak urusan akhiratku.” Istrinya berkata: “Bebaskan dirimu darinya (buanglah harta itu)!”

Padahal, sang istri sama sekali belum mengetahui bahwa isi kantong itu adalah uang dinar. Umair bertanya: “Apakah kamu mau membantuku untuk melakukan hal itu?” Istrinya menjawab: “Iya, tentu.” Maka Umair pun segera membagikan uang dinar tersebut kepada kaum muslimin yang fakir.

Setelah beberapa waktu berlalu, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengunjungi kota Hims untuk memeriksa langsung keadaan rakyatnya. Beliau menemui penduduk setempat dan bertanya tentang gubernur mereka, Umair bin Saad. Penduduk Hims memuji kebaikannya, namun mereka mengadukan tiga tindakan Umair yang tidak mereka sukai.

Mendengar aduan tersebut, Umar memanggil Umair bin Saad dan mengumpulkan dirinya bersama penduduk Hims. Umar bertanya: “Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya ia tidak pernah keluar menemui rakyat di pagi hari sampai matahari sudah meninggi.”

Amirul Mukminin lalu menoleh kepada Umair dan memintanya untuk memberikan jawaban. Umair berkata: “Demi Allah, sebenarnya aku sangat benci untuk menceritakan hal ini. Keluargaku tidak memiliki seorang pembantu pun. Oleh karena itu, setiap pagi akulah yang mengadon sendiri tepung untuk roti mereka, lalu aku menunggu adonan itu sampai mengembang, setelah itu barulah aku memanggangkan roti untuk mereka. Setelah selesai, aku berwudu, kemudian keluar untuk menemui rakyat.”

Umar kemudian bertanya lagi: “Dan apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya ia tidak pernah melayani atau menjawab keperluan siapa pun di malam hari.” Umair menjawab: “Demi Allah, aku juga sebenarnya benci untuk mengumumkan hal ini. Sesungguhnya aku telah memfokuskan waktu siang hari untuk melayani mereka (rakyat), dan aku mengkhususkan waktu malam hari seutuhnya untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Umar bertanya lagi: “Apalagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya ia memiliki satu hari dalam sebulan di mana ia sama sekali tidak keluar untuk menemui siapa pun.” Umar berkata: “Apa yang bisa kamu katakan tentang hal itu, wahai Umair?”

Umair menjawab: “Aku tidak memiliki pembantu yang bisa mencuci pakaianku, dan aku pun tidak memiliki pakaian pengganti selain dari yang sedang aku pakai ini. Maka pada hari tersebut (satu hari dalam sebulan), aku menggunakannya untuk mencuci pakaianku, lalu aku menunggu sampai pakaian itu kering, kemudian barulah aku keluar menemui mereka di akhir hari (sore hari).”

Mendengar penjelasan itu, Umar berkata: “Segala puji bagi Allah, yang tidak mengecewakan prasangka baikku kepadamu…”[]

Sumber: Kitab “Suwar min Hayatis Shahabah”, karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × one =