JEJAK PERADABAN ISLAM DI NEGERI TIRAI BAMBU

JIC – Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau Cina merupakan negara dengan populasi terbanyak di dunia. Lebih dari dari satu miliar manusia tercatat sebagai penduduk di Negeri Tirai Bambu ini. Namun, siapa sangka di negara yang dikenal banyak hewan Panda itu, Islam bersemai dan diterima masyarakat setempat.

Meski terbilang agama minoritas, pertumbuhan populasi muslim di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir cukup positif. Islam semakin populer khususnya di kalangan generasi muda. Sebuah survei dari Pew menunjukkan 22,4 persen anak muda yang berusia di bawah 30 tahun di sana memeluk agama Islam.

Di Tiongkok, terdapat 10 suku bangsa yang beragama Islam, termasuk etnik Huizu, Uygur, Kazakh, Kirgiz, Tajik, Uzbek, Tatar dan lain-lainnya. Penduduk Islam tinggal di merata tempat di seluruh China, terutamanya di bagian barat laut China, termasuk provinsi Gansu, Qinghai, Shanxi, Wilayah Autonomi Xinjiang dan Wilayah Autonomi Ningxia.

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI TIONGKOK

Islam pertama kali masuk ke Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618-905 M), yang dibawa oleh salah seorang panglima Muslim, Saad bin Abi Waqqash RA, di masa Khalifah Utsman bin Affan RA. Menurut Chen Yuen, dalam karyanya, A Brief Study of the Introduction of Islam to China, masuknya Islam ke Tiongkok sekitar tahun 30 H atau sekitar 651 M.

Ada banyak versi mengenai masuknya Islam ke Tiongkok. Namun, semua hikayat itu menceritakan adanya tokoh utama di balik penyebaran agama Islam di Cina. Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Saad bin Abi Waqqash dan tiga sahabatnya berlayar ke Tiongkok dari Ethiopia pada 616 M. Setelah sampai di Tiongkok, Saad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa Kitab Suci Alquran.

Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M–kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Saad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Islam ke daratan Cina. Konon, Saad meninggal dunia di Cina pada 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys’ Mazars.

Menurut Ibrahim Tien Ying Ma dalam bukunya Muslims in China, utusan Khalifah Utsman itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang. Kaisar Yong Hui menghargai ajaran Islam dan menganggap ajaran Islam punya kesamaan dengan ajaran Konfusionisme. Untuk menunjukkan kekagumannya terhadap Islam, kaisar mengizinkan berdirinya masjid pertama di Chang-an (Kanton). Masjid itu bernama Huaisheng atau Masjid Memorial.

Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di sana semakin besar. Mongol, sebagai minoritas di Tiongkok, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han. Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender.

Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq. Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu muncul Laksamana Cheng Ho – seorang pelaut Muslim andal.

KEBEBASAN BERAGAMA DI TIONGKOK

Pemerintah Tiongkok memberi kebebasan kepada penduduknya memeluk agama, termasuk agama Islam. Urusan agama dipandang sebagai kebutuhan pribadi asal tidak memanfaatkan agama untuk mengganggu ketertiban umum.

Konstitusi Republik Rakyat Tiongkok menyatakan “Republik Rakyat Tiongkok menjamin warga negara memiliki kebebasan beragama,” dan “Tidak ada orang negara, organisasi masyarakat atau individu dapat memaksa warga untuk percaya pada agama atau tidak beragama, tidak mendiskriminasikan warga negara beragama dengan warga negara yang tidak beragama.”

Menurut konstitusi, “Negara melindungi kegiatan agama secara baik, namun tidak ada yang bisa memanfaatkan agama untuk mengganggu ketertiban umum, merusak ketentraman warga atau mengganggu sistem pendidikan negara.”

Namun demikian, perkembangan Islam di Tiongko diwarnai dengan adanya berbagai diskriminasi. Misalnya larangan berpuasa pada Muslim Xinjiang yang notabene memiliki populasi muslin terbesar di Tiongkok. Oktober lalu, pemerintah setempat melarang segala bentuk aktivitas keagamaan di sekolah-sekolah.

Menurut laporan Reuters, Pemerintah Tiongkok menerapkan kebijakan pendidikan baru yang melarang para orang tua dan guru menyertakan anak-anak mereka dalam berbagai aktivitas keagamaan. Peraturan baru ini berlaku mulai November lalu.

Meski adanya pelarangan yang merugikan penganut agama Islam, namun popularitas Islam akan semakin meningkat di negera tersebut. Pew Forum on Religion & Public Life memperkirakan jumlah penganut Islam di Cina akan meningkat menjadi 29,9 juta di tahun 2030.

MASJID DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI TIONGKOK

Orang Tiongkok mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran ‘Buddha Ma-hia-wu’ (Nabi Muhammad SAW). Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia.

Masjid pertama di Tiongkok adalah Masjid Canton (Memorial Mosque). Sampai saat ini, masjid tersebut masih berdiri tegak dan telah berusia 14 abad. Masjid ini adalah saksi bisu perkembangan Islam di sana.

Meski dikenal sebagai negeri komunis, perkembangan umat Islam di Tiongkok terus melaju. Tercatat, sudah ada 40.000 masjid pada tahun 2010. Lebih banyak daripada jumlah setahun sebelumnya yang mencapai 35.000 masjid. Di negara ini, kaum Muslimin berjumlah 23 juta orang.

Puluhan ribu masjid di Tiongkok memiliki sekitar 40 ribu imam dan pengajar muslim. Menurut Asosiasi Islam Cina, sejak 1980 sudah ada sekitar 40 ribu Muslim Cina yang menunaikan ibadah haji.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, terutama di propinsi yang mayoritas muslim seperti di Xinjiang dan Ningxia, serta provinsi yang ada penduduk Muslimnya, jumlah masjid di Tiongkok terus bertambah.

Di provinsi Ningxia dengan populasi Muslim 2,25 juta dari total penduduk 6,3 juta, terdapat sekitar 3.700 masjid dan sekolah agama Islam. Bahkan di Kashgar, salah satu kota di provinsi Xinjiang, nama toko, perkantoran, jalan dan penunjuk jalan menggunakan tiga bahasa sekaligus yakni bahasa Uyghur yang menggunakan bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris.

Sumber : gomuslim.co.id

Write a Reply or Comment