KEUTAMAAN BERAMAH-TAMAH DALAM ISLAM

YOUNG STUDENTS AT ISLAMIA PRIMARY SCHOOL IN LONDON, THE FIRST MUSLIM SCHOOL IN THE UK TO BE STATE-FUNDED

JIC – Setiap orang pasti senang melihat pribadi yang memiliki sifat ramah, sopan santun dan selalu menebar salam, sapa kepada siapapun yang ia jumpai dengan tulus. Orang semacam ini lah yang menyejukkan pandangan, menentramkan qolbu, dan dapat dijadikan teman yang baik. Karena biasanya hatinya jauh dari angkuhan dan kedengkian, sehingga dalam pergaulan tidak mudah menimbulkan perselisihan.

Dengan bersikap ramah kita mudah memperoleh banyak teman, dapat menjalin ikatan persaudaraan yang kuat, menumbuhkan rasa kasih sayang juga dapat menumbuhkan rasa kepedulian antar sesama serta disayangi Allah Subhanahu Wata’ala.

Namun pada kenyataannya masih sedikit sekali orang yang mengaplikasikan hal tersebut dan lebih memilih untuk bertahan dalam keadaan muka yang masam, acuh dan tidak bersahabat, sehingga terkadang kita jengah dengan orang semacam ini. Padahal cemberut itu bisa menambah kerutan di wajah dengan cepat lho, dan pastinya tidak disenangi oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Lukman ayat 18.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangkakan diri.” (QS. Lukam: 18)

Selain itu, dalam sebuah hadist juga disebutkan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahwasanya  orang semacam ini tidak akan mendapat kebaikan.

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال “مَنْ يُحْرِمُ الرِّفْقَ، يُحْرَمِ الْخَيْرَ”. 74 – (2592

Dari Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Barang siapa mengharamkan kelembutan (tidak bersikap lembut) maka tidak akan memperoleh kebaikan.” (HR. Muslim).

Dua ayat di atas menjelaskan betapa meruginya orang yang enggan berbuat ramah kepada saudaranya. Lalu, sebenarnya pengertian ramah sendiri itu apa sih dan bagaimana Islam memandang? Nah, di sini saya akan sedikit memaparkan pengertian ramah dan kedudukannya dalam Islam.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ramah berarti baik hati dan merarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenagkan dalam pergaulan.

Jadi dapat kita simpulkan bahwasanya ramah itu merupakan sikap bersahabat dan merasa senang saat berjumpa dengan orang lain. Biasanya sikap ramah ditandai dengan tersenyum ketika berjumpa dengan seseorang baik teman, keluarga, ataupun orang lain dan menyapa serta menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan, bahkan tidak segan untuk memberikan bantuan kepada siapapun. Dalam Islam, sikap ramah merupakan salah satu bentuk dari akhlakul karimah atau perbuatan yang terpuji dan Rasul pun melarang kita sebagai umat Islam meremehkan perbuatan ini. Hal ini telah Rasul jelaskan dalam sebuah hadist:

(( عن أبي ذرّ رضي الله عنه قال : قالَ لي النبي صلى الله عليه و سلم : لاَ تَحْقِرَنَّ منَ المعْرُوفِ شَيْئاً ولوْ أنْ تَلْقَ أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ)).

Dari Abi Dzar Radiallahu “Anhu berkata: “ Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda”: “Sesungguhnya, janganlah engaku remehkan sekecil apa pun dari sebuah kebaikan walau sekedar bertemu saudara dengan berseri-seri.” (HR. Shohih Muslim: 6637).

Mungkin hal ini terlihat begitu sederhana bahkan tak jarang orang yang menganggapnya sepela. Padahal dalam Islam senyum dinilai sebagai ibadah. Seulas senyuman yang disunggihkan kepada seseorang dinilai sedekah. Lebih baik tersenyum daripada melakukan hal sebaliknya bukan?

Selain bernilai ibadah, sikap ini juga memiliki keistimewaan lainnya, di antaranya:

Yang pertama dapat menjauhkan seseorang dari api neraka. Karena sikap ramah dapat menghapuskan rasa iri, dengki dan kebencian dari hati seseorang.

Sebagaimana Rasululullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 تَبَسُّمُكَفِىوَجْهِأَخِيكَلَكَصَدَقَةٌ

 “Senyum di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban).

Hadist lain mengatakan, Dari Ibnu Mas’ud Radiallahu ‘Anhu berkata: “Rasulullah Sallalluhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentan orang yang diharmkan masuk ke dalam neraka? Atau siapakah orang yang neraka diharamkan untuk membakarnya? Neraka diharamkan pada setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah, yang bersikap lemah lembut, lunak dan suka mempermudah.” (HR. At-Tirmidzi: 2488).

Kemudian yang kedua yaitu, dapat menimbulkan rasa saling menghargai. Karena salah satu cara berterimakasih kepada seseorang atas bantuan yang telah orang lain lakulkan minimal dengan tersenyum dan membalas dengan do’a.

Yang ketiga, senyum dapat menjadi obat yang ampuh untuk meredakan emosi dan dapat menenagkan hati di kala senag dirundung kemarahan kepada seseorang, tidak hanya emosi kita saja yang mereda, melainkan emosi orang lain juga.

Tidak diragukan lagi bahwasanya orang-orang yang menghargai dan bersiap baik pada manusia lain akan menyeru kepada hal-hal yang positif.  Secara tidak langsung Ia akan menyeru atau mengajak orang lain untuk ikut menebar kebaikan.

Nah, pertanyaannya, apakah sikap ramah bisa ada dalam diri setiap jiwa manusia? Apakah orang yang tidak ramah bisa berubah menjadi ramah? Jawabannya bisa, asalkan mau berlatih dengan sungguh-sungguh dan diniatkan dari hati yang tulus. Karena sesungguhnya ramah perlu dipraktekan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi karakter yang melekat pada diri kita.

Nah, sudah tahu kan apa saja kebaikan yang diperoleh oleh orang-orang yang selalu bersikap ramah kepada setiap orang dan apa saja yang disapat oleh mereka yang enggak bersikap ramah (bermuka masam dan cemberut). Jadi, mulai sekarang marilah kita budayakan 3S, yaitu tebarkan Senyum, Salam, Sapa. Wajah biasa tetapi ramah itu lebih indah dan menyenagkan daripada wajah menawan namun tak berkawan.

Tapi jangan senyum-senyum sendiri juga ya, karena semua pun ada tempatnya. Bagaimana saat yang pas untuk tersenyum? Yakni saat kita sedang bertemu dengan orang lain yang mungkin kita kenal,  saat kita menyambut tamu bahkan saat kita sedang ditimpa masalah sekalipun.

Namun, tersenyum juga ada aturan dan batasannya. Tentunya haram hukumnya memberikan senyum kepada lawan jenis. Bagi seorang wanita haram memberikan senyuman kepada laki-laki yang bukan mahram, begitupun sebaliknya. Karena yang demikian ini dapat menimbulkan fitnah. Jangankan tersenyum, tidak tersenyumpun wanita memiliki daya tarik di mata laki-laki, karena syaitan membantu menghiasi para wanita di mata laki-laki. Sebagaimana Rasulullah bersabda:

Wanita hanya tersenyum kepada kaum wanita, laki-laki tenyunya hanya memberikan senyum kepada laki-laki.

المرأةُ عورةٌ ، فإذا خرَجَتْ اسْتَشْرَفَها الشيطانُ

“Wanita adalah aurat, jika ia keluar, setan akan menghiasinya” (HR. At Tirmidzi, 1173, disahihkan Al Albani dalam Sahih At Tirmidzi).

Oleh karena itu, wanita hanya diperbolehkan tersenyum kepada kaum wanita dan laki-laki hanya diperbolehkan kepada kaum laki-laki.

Sumber : mirajnews.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

DPR MINTA PEMERINTAH ANTISIPASI PENAMBAHAN JAMAAH HAJI 2017

Read Next

PERSATUAN UMAT TEMA PERTEMUAN DAI DAN ULAMA INTERNASIONAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − seventeen =