MEMAKAN KALONG (KELELAWAR), BAGAIMANA HUKUMNYA?

JIC – Ulama berselisih pendapat tentang hukum memakan kelelawar. Ada tiga pendapat utama dalam hal ini:

  1. Madzhab Syafi’i dan Hambali mengharamkan memakan kelelawar.
  2. Madzhab Maliki menyatakan hukumnya makruh dan tidak sampai haram, namun bukan sesuatu yang mubah untuk dikonsumsi.
  3. Sementara para ulama dari Madzhab Hanafi berselisih pendapat, ada yang menyatakan halal dan ada yang berpendapat tidak halal.

Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menukil keterangan ulama sebelumnya, An-Nakha’i mengatakan, “Semua burung halal, kecuali kelelawar… hewan ini haram karena menjijikkan, bukan termasuk hewan yang thayib menurut masyarakat Arab, dan merekapun tidak memakannya.”

Sementara Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Muhadzab menyatakan, “Kelelawar haram, sementara Ar-Rafi’i mengatakan, ‘Sebenarnya terdapat perbedaan dalam hal ini’.”
Demikian kesimpulan dari Fatawa Syabakah Islamiyah, no.103303

InsyaAllah, pendapat ulama yang menganggap tidak halalnya kelelawar lebih mendekati kebenaran. Di antara dalil yang menguatkan haramnya kelelawar keterangan sahabat, Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, bahwa beliau mengatakan,

لا تقتلوا الضفادع فإن نقيقها تسبيح ولا تقتلوا الخفاش فإنه لما خرب بيت المقدس قال يا رب سلطني على البحر حتى أغرقهم

“Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbih. Janganlah membunuh kelelawar, karena ketika baitul Maqdis dirobohkan, dia berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah aku kekuasaan untuk mengatur lautan, sehingga aku bisa menenggelamkan mereka (orang yang merobohkan baitul maqdis)’.” (Riwayat Al-Baihaqi, no. 19166. Al-baihaqi mengatakan, Keterangan ini mauquf (keterangan sahabat), dan sanadnya sahih).

Setelah menyebutkan hadis tersebut, Imam Al-Baihaqi menyatakan,

والذي نهى عن قتله يحرم أكله إذ لو كان حلالا لأمر بذبحه ولما نهى عنه كما لم ينه عن قتل ما يحل ذبحه وأكله والله أعلم

“Binatang yang dilarang untuk dibunuh haram untuk dimakan. Karena jika hewan itu halal, tentunya akan diperintahkan untuk disembelih dan tidak dilarang untuk dibunuh, sebagaimana binatang lainnya yang halal dikonsumsi. Allahu a’lam” (Sunan Baihaqi, keterangan riwayat no. 19166).

Sebelumnya, penyebaran virus novel corona (2019-nCov) menyita perhatian dunia. Virus yang yang diduga berasal dari Wuhan, China itu sudah menjalar ke berbagai negara, termasuk Malaysia dan Australia.

Analisis terbaru para ilmuwan China menunjukkan virus ini ditularkan dari kelelawar ke ular kemudian ke manusia. Sup kelelawar dilaporkan sebagai hidangan yang tak biasa, tapi populer di Wuhan, lokasi epidemi virus corona.

Dalam sebuah pernyataan, para peneliti mengatakan: “Host (inang) alami corona virus Wuhan bisa jadi kelelawar … tetapi antara kelelawar dan manusia mungkin ada perantara yang tidak diketahui.”

Ular dan kelelawar dianggap jadi biang kerok penyebar virus corona di China. Penyebaran ini diduga disebabkan karena banyak warga China yang mengonsumsi sup kelelawar. Di China, kelelawar dan ular menjadi bahan makanan tradisional bagi orang-orang yang tinggal di negara tersebut.

Sumber : konsultasisyariah.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MUNCUL DI XINJIANG, VIRUS CORONA ANCAM JUTAAN MUSLIM DI KAMP PENGUNGSIAN

Read Next

VIRUS CORONA: APAKAH INDONESIA SIAP UNTUK MENANGANI WABAH JIKA ADA YANG TERJANGKITI?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − twelve =