MENGUKUHKAN NIAT BAIK

JIC – Niat baik adalah modal utama dalam mewujudkan kebaikan. Tak heran jika Allah telah menilai niat baik itu sebagai satu kebaikan. Nabi bersabda, “Siapa berniat melakukan kebaikan maka Allah akan menuliskan untuknya kebaikan yang sempurna.” (Mutafaqunalaih).

Dalam hitungan hari, Ramadhan kembali akan bersua. Beragam kebaikan kembali akan ditawarkan. Untuk merebut kebaikan itu terdapat sejumlah tahapan yang mesti delewati. Yang paling mendasar sekaligus sangat menentukan adalah niat yang baik.

Banyaknya niat baik sangat berpengaruh pada produktivitas kebaikan pada bulan Ramadhan. Tentu niat baik itu tidak muncul secara tiba-tiba. Sumber niat baik itu adalah ilmu.

Semakin luas ilmu tentang Ramadhan, makin banyak niat baik yang bisa dimunculkan. Contoh, ketika seorang mengetahui hadis yang menganjurkan berbuka dengan buah kurma. Tentu saat berbuka dengan buah tersebut akan diniatkan untuk mengamalkan hadis. Sangat berbeda jika tidak mengetahui ilmunya.

Maka, boleh jadi pilihan berbuka dengan kurma murni didasari oleh selera atau trend yang sedang berkembang. Singkatnya, dengan niat baik yang bersumber dari ilmu bisa mengubah status suatu amalan yang asalnya mubah menjadi berpahala.

Ketika niat baik telah muncul maka butuh dikuatkan dan dikukuhkan. Jika tidak, niat baik itu tak ubahnya lintasan keinginan yang muncul sejenak lalu lenyap kemudain. Ibnul Qoyyim berkata, “Kuatnya niat (shidqunniah) menghilangkan keraguan dan melahirkan amalan yang sungguh-sungguh (//shidqul fi’l//) yang terefleksikan dalam bentuk mujahadah yang kuat.” (Al-Fawaid, hal. 186).

Model niat seperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh peserta Ramadhan. Niat yang kukuh akan melahirkan azam. Ketika azam telah menghujam kuat, urusan hasil kita serahkan kepada Allah. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS Ali Imran: 159).

Kalaupun yang diniatkan tidak terwujud Allah tetap menghargai niat kita sesuai yang kita niatkan. Nabi bersabda, “Siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah dengan jujur maka Allah akan menyampaikannya pada derajat orang yang mati syahid meski ia meninggal di atas tempat tidurnya.” (Riwayat Muslim No. 1909).

Singkatnya, meraih kebaikan di bulan Ramadhan tidak cukup dengan beramadhan secara alamiah. Ramadhan akan berfungsi maksimal jika kita memasukinya dengan niat baik yang melimpah. Ibnul Qoyyim berkata, “Tidak ada yang paling bermanfaat bagi seorang hamba selain dari sidqunniah ma’allah (jujur kepada Allah dalam niatnya) dalam seluruh urusannya.” (Al-Fawaid, hal. 186).

Pengujung Sya’ban ini adalah momentum terbaik untuk mengokohkan niat-niat baik itu. Niat baik yang kukuh akan melahirkan mujahadah dan mengundang taufik dari Allah. Jika level ini dapat diraih, grafik ibadah Ramadhan akan meningkat. Buah dari itu semua adalah keberhasilan meraih fungsi dan hikmah Ramadhan secara maksimal. Semoga.

Sumber : republika.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MAKNA WASIAT RASULULLAH SAW UNTUK IBNU ABBAS SOAL TAKDIR

Read Next

MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + two =