SIAPA KATIE BOUMAN, ILMUWAN MUDA DI BALIK FOTO PERTAMA LUBANG HITAM (2)

JIC, JAKARTA–Lubang hitam yang “tak bisa terlihat” oleh mata telanjang ini berdiameter 40 miliar kilometer, tiga juta kali ukuran bumi.

Lubang ini dipindai selama sepuluh hari di galaksi Messier 87, lima ratus triliun kilometer dari bumi.

Profesor Heino Falcke dari Radboud University Belanda, orang yang mengusulkan percobaan ini, menyatakan kepada BBC News bahwa lubang hitam ini “lebih besar ukurannya daripada ukuran keseluruhan tata surya kita”.

“Ia memiliki massa sekitar 6,5 miliar kali massa matahari kita. Dan ini merupakan lubang hitam terberat yang kami perkirakan ada. Lubang hitam ini sungguh-sungguh seperti monster, termasuk lubang hitam kelas berat di seluruh jagat raya,” kata Falcke.

Bagaimana algortime Dr. Bouman membuat foto tersebut?

Secara sederhana, Dr. Bouman dan rekan-rekannya mengembangkan serangkaian algoritme yang mengubah data teleskopik menjadi foto bersejarah yang dibagikan oleh berbagai media di dunia.

Dalam ilmu matematika dan komputer, algoritme adalah sebuah proses yang terdiri dari rangkaian aturan yang digunakan untuk memecahkan masalah.

Tak ada teleskop tunggal yang cukup kuat untuk menangkap imaji lubang hitam, maka jaringan delapan teleskop ini diatur untuk melakukannya dengan menggunakan teknik bernama interferometri.

Data yang ditangkap itu disimpan dalam ratusan hard disk dan disalurkan ke pusat pengolahan data di Boston, Amerika Serikat dan Bonn, Jerman.

Jangkauan EHT
Image captionTeleskop Event Horizon ini akhirnya melibatkan 12 fasilitas teleskop yang tersebar di seluruh dunia.
Katie dan hard diskHak atas fotoKATIE BOUMAN
Image captionKatie Bouman adalah mahasiswa pasca sarjana MIT yang mengembangkan algoritma yang menyatukan data dari teleskop Event Horizon. Tanpa sumbangannya, proyek ini mustahil terwujud.

Metode pemrosesan data mentah yang dilakukan Dr. Bouman ini disebut-sebut sangat penting dalam menghasilkan foto yang menakjubkan itu.

Dr. Bouman menjadi ujung tombak sebuah proses uji coba dimana beberapa algoritme yang “disususn dengan berbagai asumsi berbeda” dicobakan untuk memunculkan foto dari data-data yang dikumpulkan.

Hasil dari algoritme itu kemudian dianalisis oleh empat tim berbeda untuk memastikan bahwa hasil temuan tersebut memang benar adanya.

“Kami adalah kumpulan yang terdiri dari astronom, ahli fisika, ahli matematika dan insinyur, dan itulah yang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu yang semula diperkirakan mustahil untuk dilakukan,” kata Dr. Bouman.

sumber : bbcindonesia.com

Write a Reply or Comment

17 − 3 =