CORONA TERBANG VS SHALAT KHUSYU’

Foto: Dokumen pribadi

Jakarta, JIC – Hoax virus corona “terbang” selama 8 jam di udara menimbulkan kepanikan paling anyar. Apalagi informasi ini di-hoax-kan dari organisasi kesehatan dunia (WHO). Segera saja Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melalui dr. Reisa Broto Asmoro selaku tim komunikasi publik melakukan press release menepis berita sesat itu.Kepanikan terhadap Covid-19 yang melampaui batas? Banyak orang menempatkan diri pada upaya yang tidak semestinya. Bukankah kecemasan kronis justru menekan sistem imun tubuh dan malah meningkatkan risiko terpapar?

Kecemasan tentang hal yang tidak diketahui dengan tepat, dapat membuat pusat rasa takut di otak yang disebut amigdala menjadi hiperaktif. Di dalam neuroanatomy amigdala merupakan salah satu bagian otak yang tertua, cara kerjanya cukup primitif. Ia bertindak sebagai alarm pemicu senang, berinteraksi dengan sistem stres untuk menjaga tubuh dan pikiran individu dalam siaga tinggi terutama selama individu merasa cemas.

Penelitian menunjukkan bahwa informasi ringan tentang bahaya, terutama jika bahaya itu tidak pernah dialami, sudah cukup memicu amigdala dan mengaktifkan respons stres. Inilah yang membuat orang terjaga di malam hari, berbaring di tempat tidur mengkhawatirkan hoax baru, corona “beterbangan”.

Kekhawatiran terus-menerus tentang Covid-19, ditambah hoax yang menggelisahkan, meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infektan dengan menciptakan ketidakseimbangan imun. Ini dikarenakan sistem imun bereaksi “panik”, waspada berlebihan sehingga bisa menyebabkan banyak kekeliruan. Sebagaimana peristiwa 11 September 2001 terhadap menara kembar di Amerika Serikat. Respons petugas keamanan yang berlebihan bisa menangkap orang atau barang bawaan yang sebenarnya bukan masalah. Respons demikian mirip dengan yang terjadi terhadap sistem imun.

Cemas berlebihan dapat memicu respons imun meningkatkan peradangan, memicu badai sitokin. Pada saat infeksi virus, inflammasom akan diaktifkan. Ia akan menimbulkan respons peradangan yang malah membahayakan. Peradangan yang tak terkendali justru lebih berbahaya, malah bukan melindungi; itu menderegulasi fungsi kekebalan tubuh, justru meningkatkan risiko infeksi virus.

Dampak psikologis dari pandemi Covid-19 menyebabkan tekanan yang luar biasa. Sering terlihat di beberapa ruas jalan mobil-mobil yang lewat disemproti. Siang menjelang sore di kota Surabaya mobil pemadam kebakaran menyemprotkan cairan ‘anti-covid’ ke daerah perumahan. Ketika hendak masuk tempat berkumpulnya orang, rumah ibadah, kantor instansi, para pengunjung dipersilahkan masuk ‘kotak’ desinfektan. Dalam keadaan normal, perilaku ini akan tampak aneh, tetapi dalam iklim pandemi perilaku ini mungkin bisa diterima.

Meskipun upaya di atas dianggap penting dalam mengantisipasi bahaya pandemi, namun panik berlebihan malah membahayakan. Shalat khusyu’ mampu menghasilkan relaksasi sempurna, dapat membantu melindungi sistem kekebalan tubuh dari efek stres.

Tubuh manusia digerakkan oleh sepasang mekanisme yang berlawanan. Sebut saja otot. Ada otot yang berfungsi menekuk, berpasangan dengan otot yang berperan meluruskan. Ditemukan otot yang menggerakkan bagian tubuh mendekati garis tengah, berpasangan dengan otot yang menjauhkan.

Selain otot, contoh lain adalah sistem saraf otonom. Ada yang aktif ketika tubuh membutuhkan energi (simpatis) dan ada yang bekerja ketika tubuh beristirahat (parasimpatis). Bila aktivitas sepasang komponen di dalam tubuh berada dalam keadaan harmonis, seimbang sesuai dengan situasi dan kondisi, itu disebut rileks.

Rileks membuat orang lebih tenang. Dalam keadaan tenang orang memiliki kualitas imun yang tinggi, ketahanan fisik lebih baik, endurance-kemampuan melakukan aktivitas lebih berkualitas dan lebih lama. Itu antara lain karena kadar radikal bebas yang rendah.

Ketenangan, mampu menurunkan kesengajaan orang menebarkan berita hoax, baik karena usil atau karena kepanikan di luar batas.

Shalat Khusyu’ Damaikan Jiwa

Dalam perjalanan pasukan kaum Muslimin menuju Madinah, mereka terpaksa bermalam di suatu tempat. Dua orang sahabat mendapat giliran jaga, ‘Ammar bin Yasir dan ‘Abbad bin Bisyir di pintu syi’b.

‘Abbad menyediakan diri berjaga pertama. Setelah berkeliling tampak suasana aman, ‘Abbad tegakkan shalat.

Rupanya, pasukan musuh mengintai dari jauh. Cress, panah pertama menusuk pangkal lengannya. ‘Abbad tidak peduli, ia lanjutkan shalatnya. Merasa panah mengenai sasaran pasukan musuh melanjutkan serangan, panah kedua disusul panah ketiga.

Tiga panah itu pun belum menggoyang ketenangan ‘Abbad, ia tetap lanjutkan shalatnya. Demi tiga anak panah telah bersarang di tubuhnya, darah mengalir membasahi sekitar. Perlahan ia membangunkan ‘Ammar.

Aliran darah bertambah, menerpa ‘Ammar yang sedang tertidur di sebelahnya. Serentak ia terbangun. Belum sirna rasa kaget luar biasa tiba-tiba ‘Abbad berujar lirih, “Gantikan aku mengawal, karena aku telah kena.”

‘Ammar pun bertambah heran, “Subhanallah, mengapa saya tidak dibangunkan semenjak terkena panah yang pertama?” tanya ‘Ammar sambil menyesal.

“Dalam shalat, tadi aku membaca ayat-ayat al-Quran yang amat mengharukan sehingga aku tak ingin memutuskannya. Demi Allah, seandainya bukan karena sedang bertugas niscaya akan kubiarkan orang itu memanahku hingga aku selesaikan bacaanku”.

Shalat yang ditegakkan dengan khusyu’ mengantar kepada damainya jiwa, ketenangan yang sempurna. Jangankan satu panah, sampai tiga panah pun hingga hampir merenggut jiwa, tidak mampu menggoyahkan ketenangan yang dihasilkan shalat yang khusyu’. Apalagi sekedar berita hoax yang menyesatkan.

Mari tingkatkan kualitas khusyu’ shalat kita. Damai hati menimbulkan ketenangan yang sempurna. Ketenangan optimal menjulangkan imuntas tubuh, tangkas menghela Covid-19, merendahkan radikal bebas, menghadirkan kebahagiaan tampa batas. Damainya jiwa mengatar siapa pun melipatgandakan kebaikan, menjadikan diri mampu menghindari usil atau panik di luar batas.

Abdurachman

Guru Besar FK Unair
Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA)
Past President APICA-6
Executive Board Member of APICA

(erd/erd)

Sumber : detiknews.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

PERINGATAN KERAS UNTUK WARGA JAKARTA SETELAH CORONA MELONJAK DERAS

Read Next

MUSEUM SEJARAH DAN KISAH NABI, SELAIN DIBANGUN DI ANCOL ADA DI MANA SAJA?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + six =