Home News Update Islam Indonesia DARI MANA DATANG DAN SIAPA PENYEBAR UTAMA ISLAM DI NUSANTARA ( 4...

DARI MANA DATANG DAN SIAPA PENYEBAR UTAMA ISLAM DI NUSANTARA ( 4 )

0
664
Salat Ied Bandung: Ribuan umat Islam mengikuti salat Idul Fitri di Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, kamis (8/8). Mayoritas umat muslim melaksanakan Shalat Ied, setelah Pemerintah mengumumkan 1 Syawal 1434H jatuh pada pada hari ini 8 Agustus 2013.
Salat Ied Bandung:
Ribuan umat Islam mengikuti salat Idul Fitri di Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, kamis (8/8). Mayoritas umat muslim melaksanakan Shalat Ied, setelah Pemerintah mengumumkan 1 Syawal 1434H jatuh pada pada hari ini 8 Agustus 2013.

JIC, JAKARTA- Teori yang dikemukakan oleh Johns itu sesuai dengan keterangan dari sumber-sumber sejarah Nusantara sendiri.

Hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis menjelang akhir abad ke-14 memberitakan bahwa pendiri kerajaan Samudra Pasai Malik al-Saleh diislamkan oleh seorang faqir bernama Syekh Ismail yang datang dari Mekkah bersama 98 orang pengikutnya.

Sumber sejarah Sulawesi Selatan juga mengungkapkan bahwa raja Gowa dan penduduknya diislamkan pada awal abad ke-17 oleh seorang ulama sufi dari Minangkabau yang datang dengan sebuah kapal dagang besar disebut padekawang.

Sumber sejarah Banten Hikayat Maulana Hasanuddin juga menceritakan bahwa raja dan penduduk Banten diislamkan oleh faqir bernama Syarif Hidayatullah dan putranya Maulana Hasanuddin yang mempunyai banyak pengikut.

Sedangkan salah satu versi Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa Jawa Timur mulai diislamkan pada awal abad ke-15 M oleh Syekh Jumadil Akbar, seorang sufi dari Samarqand yang datang bersama para pengikutnya menumpang sebuah kapal dagang yang bertolak dari Pasai (Abdul Hadi W. M. 2001).

M. Naquib al-Attas (1972:29-32) yang mendukung teori ini menyatakan bahwa agama Islam meresap ke dalam jiwa penduduk Melayu setelah ajarannya ditafsirkan oleh para sufi dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Faktor yang tidak penting bagi pesatnya penyebaran Islam di kepulauan Melayu menurut al-Attas ialah dijadikannya bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan Islam dan bahasa penyebaran Islam, yaitu setelah bahasa ini diislamkan sedemikian rupa.

Kecuali itu watak agama Islam itu sendiri memang memiliki daya tarik yang kuat. Ajaran Islam berlandaskan sebuah kitab suci yang tunggal dan utuh, serta tidak berubah-ubah yaitu al-Qur’an. Dengan begitu penganutnya tidak dibingungkan olah banyak kitab suci seperti dalam agama lain.

Ajaran ketuhanan dan sistem peribdatan Islam juga sangat sederhana dan tidak rumit. Islam juga mengajarkan bahwa dalam berhubungan dengan Tuhan seorang Muslim tidak memerlukan perantara dan peribadatan bisa dilakukan di mana saja tanpa perlu kehadiran pendeta.

Agama Islam itu memandang semua manusia itu setara dan sederajat.  Yang membedakan martabat manusia bukan karena keturunan dan kedudukanya dalam masyarajkt, tetapi ketakwaan dan amal salehnya.

Tentang besarnya dampak yang ditimbulkan oleh pesatnya perkembangan Islam ini dikemukakan antara lain oleh Menurut Kern (1917:17) kedatangan Islam di kepulauan Melayu telah membawa perubahan besar dan mendasar dalam semangat dan jiwa bangsa Melayu.

Perubahan itu mempunyai arti penting karena merupakan pembebasan dari belenggu mitologi yang sebelumnya menguasai pikiran bangsa Melayu.

Seperti M. Naquib al-Attas (1972), dia mengatakan bahwa kedatangan Islam telah berhasil meletakkan dasar—dasar rasionalitas dan keperluan berikhtiar menggunakan daya upaya akal dan pikiran. Inilah antara lain yang memicu pesatnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Melayu pada abad ke-14 – 19 M.

Faktor lain yang tidak kalah penting dalam membuka peluang bagi cepatnya pergembangan agama Islam  itu ialah kejadian-kejadian di Asia Barat dan di dunia Melayu sendiri pada abad ke-12 – 14 M.

Kekacauan yang melanda negeri-negeri Islam pada abad ke-12 sebagai akibat dari serangkaian peperangan dan terutama sekali Perang Salib, pembrontakan yang melanda negeri-negeri Islam dan sengketa berdarah antar penganut berbagai madzab agama, mendorong penduduk negeri mulai berduyun-duyun pindah ke negeri lain.

Perpindahan secara besar-besaran terjadi setelah penghancuran Baghdad, ibukota kekhalifatan Abbasiyah pada tahun 1258 oleh bangsa Mongol menyusul serangkaian penaklukan terhadap negeri-negeri Islam di Asia Tengah dan Barat oleh bangsa yang sama.

 

sumber : republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × two =