Home News Update Islam Indonesia DARI MANA DATANG DAN SIAPA PENYEBAR UTAMA ISLAM DI NUSANTARA ( 5...

DARI MANA DATANG DAN SIAPA PENYEBAR UTAMA ISLAM DI NUSANTARA ( 5 )

0
586
Salat Ied Bandung: Ribuan umat Islam mengikuti salat Idul Fitri di Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, kamis (8/8). Mayoritas umat muslim melaksanakan Shalat Ied, setelah Pemerintah mengumumkan 1 Syawal 1434H jatuh pada pada hari ini 8 Agustus 2013.
Salat Ied Bandung:  Ribuan umat Islam mengikuti salat Idul Fitri di Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, kamis (8/8). 

JIC, JAKARTA- Ismail R. Faruqi (1991:247) lebih kurang menulis, “Sebagai akibat penaklukan itu terjadi pula  perindahan besar-besaran orang Islam ke Asia Tenggara.

Oleh sebab itu sejak abad ke-13 wilayah ini menyaksikan perluasan kekuatan Islam. Para ahli fiqih, sufi terkemuka, tentara yang tidak aktif lagi, bekas pejabat dan orang kaya, tabib, seniman, sastrawan, guru agama, para saudagar dan pengrajin, orang-orang Islam dari berbagai lapsan sosial, etnik, ras, golongan dan madzab dengan kepakaran masing-masing secara bergelombang berduyun-duyun datang ke Nusantara mencari kehidupan yang aman dan nyaman, jauh dari kekejaman orang Mongol dan peperangan lain…”

Keadaan politik di kepulauan Nusantara dan krisis yang dialami  Sriwijaya  sejak abad ke-12  M hingga keruntuhannya pada akhir abad 14 akibat serangan Majapahit, merupakan titik awal berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di dunia Melayu dan sekaligus pesatnya penyebaran agama Islam.

Dengan runtuhnya kerajaan Buddhis terakhir di dunia Melayu itu maka pengaruh agama Buddha dan sinthesa Hindu Buddha yang telah berlangsung sejak abad ke-12, mengalami kemunduran pula.

Sedangkan di kota-kota pelabuhan dan pesisir Sumatra yang lain agama Islam telah mulai berkembang.

Pada akhir abad ke-15 kerajaan Hindu terakhir di Jawa, Majapahit mengalami keruntuhan pula.  Majapahit sebelumnya sangat berpengaruh di dunia Melayu dan membawa masuk tantrisme, sebuah aliran sinkretis dalam Hinduisme, ke Sumatra. Karena dua agama sebelum Islam  ini secara politik dan kultural terkait langsung dengan perkembangan dua kerajaan ini, maka dengan runtuhnya dua kerajaan ini pudar pulalah pengaruh kedua agama tersebut di dunia Melayu.

Lagi pula di Sumatra, wilayah pertama di Nusantara yang penduduknya menerima dampak langsung penyebaran Islam, agama-agama tersebut hadir semata-mata sebagai agama elit aristokratik dan para pendeta.

Masyarakat luas di luar lingkungan istana dan vihara sebagian besar tetap menganut kepercayaan lokal mereka apakah itu syamanisme atau paganisme seperti kepercayaan Palbegu atau Kaharingan.

 

Tahapan Islamisasi Nusantara

Dari apa yang dikemukakan, dapat dikemukakan tahapan-tahapan proses islamisasi di kepulauan Nusantara. Tahapan awal, yaitu kedatangan para saudagar Muslim Arab, Persia, Turki dan Indo-Persia, sampai terbentuknya  komunitas-komunitas Islam di kota-kota pelabuhan.

Dalam tahapan ini perkawinan pedagang asing dengan wanita setempat, merupakan saluran awal bagi proses pengislaman. Lembaga pendidikan Islam sudah pasti dibuka, dan guru-guru agama juga pasti telah hadir. Begitu pula para muballigh pasti juga sudah melakukan kegiatan dakwah. Tahapan ini berlangsung sejak abad ke-8 hingga awal abad ke-12 M;

Tahapan kedua, terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam dan giatnya penyebaran agama Islam oleh para sufi dan pemimpin tariqat sufi ke berbagai pelosok kepulauan Nusantara.

Tahapan ini berlangsung pada abad ke-13 – 17 M. Pada masa inilah sastra Melayu berkembang hingga puncak kematangannya. Kerajaan-kerajaan Islam yang awal seperti Samudra Pasai (1270-1524), Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700) memainkan peranan utama pada tahapan ini;

Tahapan ketiga adalah berkembangnya kelembagaan Islam, yang bermula pada abad ke-17 hingga abad ke-19 M. Tahapan ini berlangsung setelah agama Islam tersebar luas di seluruh kepulauan Nusantara.

Perlembagaan Islam di bidang keagamaan, sosial, politik, pendidikan dan kebudayaan telah terbentuk dan berkembang sedemikian rupa sehingga memantapkan perkembangan agama ini dan kelangsungan hidupnya. (lihat juga Hasan Muarif Ambary 1998: 55-60).

Perkembangan tradisi intelektual Islam dan  sastra Melayu  berkaitan dengan tahapan kedua dan ketiga. Selama dua tahapan ini berlangsung terjadi tiga gelombang besar pemikiran Islam (Taufik Abdullah 2002) yang tercermin dalam dengan jelasnya dalam karya-karya penulis Melayu yang dihasilkan selama periode-periode tersebut.

Gelombang pertama terjadi pada abad ke-13 – 14 M, bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan Samudra Pasai, berupa peletakan dasar-dasar kosmopolitanisme Islam, yaitu sikap budaya yang menjadikan diri sebagai bagian dari masyarakat kosmopolitan dengan referensi kebudayaan Islam.

Bukti-bukti tertulis dari gelombang ini berupa inskripsi pada batu nisan makam Islam di Pasai dari abad itu, yang terdiri antara lain dari petikan ayat-ayat al-Qur’an seperti ayat kursi, nukilan sajak sufistik Sayidina Ali dan dua sajak dalam bahasa Persia karangan Sa`di, penyair sufi Persia abad ke-13.

Dalam gelombang kedua terjadi proses islamisasi kebudayaan dan realitas secara besar-besaran.

Islam dipakai sebagai cermin untuk melihat dan memahami realitas. Pusaka lama dari zaman pra-Islam, yang Syamanistik, Hinduistik dan Buddhistik ditransformasikan ke dalam situasi pemikiran Islam dan tidak jarang dipahami sebagai sesuatu yang islami dari sudut pandang doktrin.

Gelombang ini terjadi bersamaan dengan munculnya kesultanan Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700).

Dalam gelombang ketiga, ketika  pusat-pusat kekuasaan Islam di Nusantara mulai tersebar hampir seluruh kepulauan Nusantara, pusat-pusat kekuasaan ini ‘seolah-olah’ berlomba-lomba melahirkan para ulama besar.

Maka tak heran apabila di pusat-pusat kekuasaan Islam seperti Aceh Darussalam, Palembang, Banjarmasin, Johor Riau, Patani, Banten, dan lain-lain lahir ulama-ulama terkemuka seperti Syekh Nuruddin al-Raniri, Syekh Abdul Rauf Singkil, Syekh Yusuf Makassar, Syekh Muhyi Pamijahan, Syekh Abdul Samad al-Palimbangi, Syekh Arsyad al-Banjari, Syekh Nawawi Banten, Raja Ali Haji, Kiyai M. Kholil Bangkalan,  dan lain-lain. Dalam gelombang inilah proses ortodoksi Islam mengalami masa puncaknya. Ini terjadi pada abad ke-18 – 19 M.

Ilmu-ilmu yang diajarkan di lembaga pendidikan juga mempengaruhi arah dan perkembangan sastra.

Ilmu-ilmu yang diajarkan itu ialah: (1) Pelajaran asas agama Islam, misalnya yang berkenaan dengan sistem kepercayaan dan peribadatan; (2) Fiqih dan syariah, atau jurisprudensi dan hukum Islam; (3) Ilmu kalam, sering disetarakan dengan teologi, menguraikan persoalaan berkenaan dengan kandungan teologis wahyu ilahi; (4) Tafsir al-Qur’an dan Hadis; (5) Ilmu Tasawuf; (6) Sejarah Islam; (7) Bahasa dan sastra Arab, meliputi balaghah (retorika), mantiq (logika) dan ilmu ma`ani (semantik); (7) Ilmu pengetahuan lain seperti sejarah, geografi, adab  (lihat juga Ismail Hamid 1983:2; Braginsky 1993).

Dari bukti-bukti sejarah yang ada seperti epigrafi pada batu nisan makam kuna Islam di Pasai, Malaka dan tempat-tempat lain di Sumatra dan Semenanjung Malaya, serta bukti-bukti sejarah lokal seperti Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu, juga dapat diketahui bahwa bukan hanya wacana bercorak keilmuan yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan.

Wacana intelektual lain seperti sastra dan falsafah turut pula diajarkan sebagai sarana penanaman nilai-nilai Islam dan pembentuk pandangan hidup serta gambaran dunia (Weltanschauung).

Teks-teks sastra yang digunakan sebagai bahan bacaan antara lain ialah: (1) Puisi-puisi didaktis, khususnya yang bercorak keagamaan, sosial keagamaan dan sufistik; (2) Hikayat berkenaan dengan kehidupan Nabi Muhammad s.a.w., nabi-nabi sebelum Islam dan para sahabat; (3) Pensejarahan atau historiosofi; (4) Karya-karya berkenaan dengan undang-undang, hukum dan ketatanegaraan (Ismail Hamid 1983:2).

(Ringkasan) 

Catatan : Dalam tulisan ini belum dimasukkan pandangan baru bahwa bukan tidak mungkin kedatangan Islam dan penyebarannya juga melibatkan pedagang dan pelayar Nusantara yang telah sering melakukan kegiatan pelayaran perdagangan ke Madagaskar dan Tanah Arab pada abad-abad pertama tarikh Masehi, sebelum lahirnya agama Islam. Legenda Nusantara seperti Kisah Aji Saka perlu dikaji. Dari kisah ini kita mendapatkan informasi bahwa agama Islam dibawa masuk ke Indonesia oleh para pedagang Nusantara yang telah memeluk agama Islam. Informasi lain ialah surat menyurat antara raja Sriwijaya dengan khalif Umayyah di Damaskus pada akhir abad ke-7 M, sebagaimana telah diteliti oleh sejarawan Muslim dari Pakistan, S. Q. Fatimi. Dalam suratnya kepada khalif di Damaskus, raja Sriwijaya (Zabaq) menyatakan tertarik kepada agama Islam dan ingin mempelajari lebih mendalam. Baginda meminta kepada khalif mengirimkan guru agama ke Zabaq.)

 

sumber : republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × two =