Home News Update Islam Indonesia MELACAK AKAR SEJARAH KATA KAFIR DI INDONESIA? (3)

MELACAK AKAR SEJARAH KATA KAFIR DI INDONESIA? (3)

0
545

 

JIC, JAKARTA–Lalu kapan kata ‘kafir’ mempunyai konotasi keras atau pejoratif? Abdul Hadi menjawab itu sejak kolonial Belanda memakai kata ini sebagai lambang perlawaan bagi orang yang menentang eksistensinya sebagai pihak kolonial. Maka kata kafir dipandang sebagai sebutan untuk melawannya.

‘’Jejak kata ‘kafir’ dianggap bermasalah atau pejoratif sejak kata itu dipakai untuk melawan pihak penjajah, Kapan itu, sejak dari fatwa Syekh Abdul Samad al Palembangi pada abad 18. Sejak itu lebih tegas dipakai ulama dan rakyat untuk melawan diberbagai koloni Belanda termasuk untuk meletupkan Perang Jawa (Diponegoro), perang Padri yang kemudian memuncak pada  perang Aceh, dan lainnya.

Dalam hikayat Perang Sabi karya Cik Pantekulu, kafir disebut ‘kaphe’,’’ katanya.

photo

Kitab hikayat Prang Sabi (foto: koleksi museum budaya Aceh)

 

Dan  semua tahu, surat dan seruan Abdul Samad Al Palembani yang saat itu menjadi imam di Masjidil Haram dipasang di berbagai masjid di pusat kekasaan Mataram Jawa di Surakarta. Surat yang beredar menjelang Ramadhan ini sangat menggelisahkan pihak kolonial.

‘’Namun sebelum dipakai Syekh Abdul Samad Al Palembangi, sebelum itu kata ‘kafir’ sebagai sarana perlawanan terhadap kolonial, pun sebenarnya sudah dipakai, yakni pada sosok pejuang asal Makasar yang meninggal dan menjadi pahlawan di Afrika Selatan, Syekh Yusuf Al Makasari,’’ ujar Abdul Hadi.

Bahkan, lanjut dia, kata ‘kafir’ itu juga ada di serat Babad Lombok, Babad Madura dan lainnya. Bahkan sudah disebut pula dalam kitab Syamsudin Al Sumatrani, yang kemudian sudah diserap pula dalam bahasa Aceh dan Melayu. “Tak hanya itu, sepengetahuan saya dalam terjemahan Bible dalam bahasa Melayu pada abad 18,  kata kafir juga dipakai untuk orang yang tidak percaya pada ajaan Trinitas).

Lalu bagaimana dengan nasib kata ‘kafir’ di negara lain? Dalam hal ini ada kenyataan yang sangat menarik, yakni bila mengacu pada sejarah umat Islam yang tinggal di Balkan (Bosnia).

Ternyata di sana kata  ‘kafir’ itu dipakai dalam masyarakat yang wilayahnya dahulu hidup dalam lingkup Kerajaan Ottoman.

Kata kafir di dalam bahasa Balkan (Bosnia) disebut dengan ‘cavir’. Begitu juga kata lain yang identik menjadi pandangan hidup dan ajaran agama Islam seperti iman, azan, mukmin, syariat, syarufm maulana, dan lainnya. Mereka tak menerjemahkan atau menyerap dalam istilah bahasa lokal.

‘’Jadi sama saja dengan yang di Indonesia pun. Di mana banyak kata yang menjadi into ajaran Islam— seperti istilah kafir, iman, shaat, zakat, dan lainnaya — memang di Bosnia tak diterjemahkan. Kata itu merupakan ‘word viewnya’ orang Muslim baik yang ada di Balkan  yang di Eropa dan seluruh negara lainnya,’’ tukas sahabat saya.

Jadi apakah kata ‘kafir’ akan bernasib sama dengan kata ‘fiksi’ dan ‘fiktif’ yang sudah ramai diributkan orang belakangan ini.

Ternyata banyak pihak yang salah paham dan bingung memahami? Atau mungkin nasibnya persis dengan kata ‘adil’ yang dalam bahasa Jawa atau bahasa lokal lainnya tak ketemu padan makna dalam satu kata yang sama. Ini persis juga nasib Rafles yang kala itu di Sumatra Timur terkejut dan bingung melihat orang yang tak sadar dan bikin ribut di kerumunan orang di pasar. Kata amuk akhirnya dimasukkan dalam lema Inggris menjadi ‘amock’. Silap kata memang bisa hilang isi kepala –bahkan nyawa– ternyata!

 

 

sumber : republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 + seven =