Home News Update Islam Indonesia MELACAK AKAR SEJARAH KATA KAFIR DI INDONESIA? (2)

MELACAK AKAR SEJARAH KATA KAFIR DI INDONESIA? (2)

0
608

JIC, JAKARTA–Menurut Azyumardi Azra, Abdul Ra’uf menulis terjemahan Alquran ke dalam bahasa Melayu dalam perlindungan dan fasilitas penguasaan Aceh, ketika itu. Ia sangat yakin, karya besar itu ditulis di Aceh. Tarjuman Mustafid  karya Abdul Ra’uf merupakan salah satu petunjuk besar dalam sejarah keilmuan Islam, khususnya tafsir di tanah Melayu.

Penerjemahan generasi kedua  di Indonesia muncul pada pertengahan tahun 60-an. Baru di awal abad ke-20 M, sejumlah karya-karya terjemahan Alquran lengkap dengan tafsirnya dibuat. Di antara karya-karya tersebut adalah Al-Furqan oleh A Hassan dari Bandung (1928), Tafsir Hidayatur Rahman oleh KH Munawar Chalil, Tafsir Qur’an Indonesia oleh Mahmud Yunus (1935), Tafsir Al-Qur’an oleh H Zainuddin Hamid cs (1959), Tafsir Al-Qur’anil Hakim oleh HM Kasim Bakry cs (1960).

Munculnya terjemah atau tafsir lengkap, menandai lahirnya generasi ketiga pada tahun 70-an. tafsir generasi ini biasanya memberi pengantar metodologis serta indeks yang akan lebih memperluas wacana masing-masing. Seperti tafsir An-Nur/Al-Bayan (Hasbi Ash-Shiddieqi, 1966), Tafsir Al-Azhar (Hamka, 1973), Tafsir Al-Quranul Karim (Halim Hasan cs, 1955) yang dianggap mewakili generasi ketiga.

Dan setelah itu muncul berbagai karya terjemahan Alquran dari berbagai orang sampai sekarang, termasuk dari penerjamahan dari Kemenag RI. Di sana kata atau istilah ‘kafir’ itu pun tetap ada dan tak diganti.

Sastrawan, pakar sufisme dan guru besar falsafah dan kebudayaan Universitas Paramadina, Prof DR Abdul Hadi WM mengaku terkejut bila kata ‘kafir’ dianggap pejoratif bagi kerukunan berbangsa, hubungan antaragama, dan antarmanusa.

Apalagi kata ini sudah terserap dan dipakai dalam sastra melayu, sastra Aceh, dan sastra daerah semenjak dahulu kala. Jadi sangat jauh waktunya dari eksistensi formil bahasa Indonesia yang mulai muncul sosoknya secara jelas melalui ‘Sumpah Pemuda’ pada sejak tahun 1928.

Menurut, Abdul Hadi, sejak masuknya Islam di wilayah kepulauan yang kini disebut Nusantara kata ‘kafir’ sudah eksis secara nyata. Fakta itu nyata yakni pada sastra Melayu, yakni melalui berbagai karya Hamzah Fansuri. Di sana dia memakai kata Arab/Alquran itu. Malahan, bila dihitung tercatat lebih dari 3000 kata Arab diserap dalam bahasa Melayu.

“Saat itu, yakni pada abad 16, pun sudah digunakan kata kafir dan kata serapan bahasa Alquran lainya. Ini ada dalam beragaman bentuk puisi, syair, kitab fikh, ajaran keagaman Islam, dan lainnya. Silahkan baca isi kesusateraan lama kita. Berbagai kata itu, termasuk kafir’ sudah ada dan dipakai orang.

Di sini memang kadang tidak mengakui dan malas baca asal usul bahasa itu ada yang ada dalam kazanah Islam yang sudah lama. Dan wlaupun ada baca, banyak yang hanya dari pandangan yang aliran sepaham saja,’’ katanya.

Tak hanya kata ‘kafir’, lanjut Abdul Hadi, kata ‘Habib’ pun bukan barang asing atau istilah baru dalam kazanah bahasa di Nusantara.

Kata itu sudah dipakai pada abad 16. Di Jawa misalnya ‘habib’ mereka disebut sebagai ‘maulana’. Dan kata habib atau maulana itu dipakai orang untuk tidak hanya menyebut orang dan keturunan Arab dari Hadramaut saja, tapi bagi setiap  orang yang mereka anggap sebagai para pencinta ajaran Rasul Muhammad SAW.’’

 

Sumber : republika.co.id

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 4 =