Home News Update KAMUS ISTILAH PEMILU: DARI MANA ASALNYA CEBONG DAN KAMPRET (4)

KAMUS ISTILAH PEMILU: DARI MANA ASALNYA CEBONG DAN KAMPRET (4)

0
966

JIC, JAKARTA–

Cebong

cebong / ce-bong / nomina /

Kata turunan: cebongers, cebby, kecebong

Cebongers banyak digunakan sejak Pilpres 2014 lalu untuk menyebut pendukung Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Kata ini diambil dari istilah kecebong yang artinya adalah larva binatang amfibi (seperti misalnya kodok) yang hidup di air dan bernapas dengan insang serta berekor.

Sebutan ini mungkin muncul karena para haters terinspirasi oleh fakta bahwa Joko Widodo gemar memelihara kodok ketika menjadi walikota Solo dan gubernur Jakarta.

Karena itulah segelintir orang bahkan menyebut Jokowi sebagai ‘raja kodok’ – berdampingan dengan sebutan cebongers (pengikutnya). Pemimpin FPI, Rizieq Shihab sempat meledek dengan sebutan ‘Jokodok.’

Kampret

kampret / kam.pret / nomina (n)

Jika pendukung Jokowi disebut cebong, pendukung Prabowo disebut dengan kampret. Istilah ini muncul sejak pilpres 2014, sebagai balasan atas kata cebong yang digunakan untuk menyebut pendukung Jokowi.

Kampret berarti kelelawar kecil, tapi kata ini sering juga dipakai untuk umpatan, jauh sebelum kata ini dipakai dalam konteks pilpres.

Tidak seperti kata cebong yang bersumber dari Jokowi yang gemar memelihara kodok, masih tidak diketahui kenapa kata kampret yang dipilih untuk menyebut kelompok pendukung Prabowo.

“IQ 200 sekolam”

Istilah “IQ 200 sekolam” yang juga populer di kalangan warganet ditujukan pada kelompok ‘cebong’ atau ‘cebongers’ oleh kubu lawannya. Frasa itu pertama muncul dalam cuitan @rockygerung pada Agustus 2017 lalu, tapi kemudian masih terus muncul dan dikutip luas oleh warganet dalam cuitan-cuitan sesudahnya.

Meski istilah-istilah ini cukup leluasa dilontarkan oleh warganet di media sosial, namun ada juga yang keberatan dengan semakin meluasnya pemakaian istilah-istilah tersebut.

Keberatan dari warganet dari yang soal ‘ringan’, yaitu bahwa nantinya kata-kata ini akan masuk secara resmi dalam kamus, sampai yang mengatakan bahwa istilah ini hanya untuk melecehkan atau menghina masing-masing kelompok saja.

Warganet lain menggarisbawahi bahwa penggunaan istilah-istilah ini intinya hanya membagi dua warganet pada afiliasi politik tertentu: pro atau anti-pemerintah, bahkan pro-anti Jokowi, pro atau anti Ahok. Dan siapa yang merasa paling benar.

2030

Tahun 2030 mendadak terkenal setelah Prabowo menyatakan bahwa Indonesia akan bubar pada 2030.

“Saudara-saudara, kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini.”

“Tetapi di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung, mereka ramalkan kita ini bubar!”

Demikian kata Prabowo dalam acara konferensi dan temu kader nasional Partai Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Oktober tahun 2017.

Prabowo Subianto, tidak secara spesifik menyebut nama negara atau ‘kajian’ yang menyatakan Indonesia bubar tahun 2030.

Akan tetapi, dalam sebuah seminar di Universitas Indonesia pada 18 September 2017, Prabowo menunjukkan tiga buku, salah satunya berjudul Ghost Fleet, karangan August Cole dan P. W. Singer

Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono, mengakui Ghost Fleet memang menjadi rujukan Prabowo, tapi menegaskan novel fiksi itu bukan satu-satunya referensi.

 

sumber : bbcindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − 9 =