Home News Update Islam Indonesia ABU DHABI PEACE FORUM, KEMENAG DORONG KELUARGA JADI FONDASI PERDAMAIAN

ABU DHABI PEACE FORUM, KEMENAG DORONG KELUARGA JADI FONDASI PERDAMAIAN

0
7

JAKARTA (islamic-center.or.id) — Kementerian Agama (Kemenag) menilai pembangunan perdamaian perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga menjadi ruang pertama untuk menanamkan nilai agama, kasih sayang, tanggung jawab, dan karakter kepada generasi.

Hal itu disampaikan Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag Ahmad Zayadi dalam Abu Dhabi Peace Forum yang digelar dalam rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta, Sabtu (3/10/2026), dikutip laman Bimas Islam.

Zayadi mengatakan, pembangunan keluarga perlu dipersiapkan sejak sebelum pernikahan. Menurut dia, calon pengantin menjadi titik awal terbentuknya keluarga baru sehingga kesiapan menikah tidak cukup hanya menyangkut aspek administrasi.

Kesiapan tersebut, kata dia, juga mencakup aspek agama, kesehatan, psikologi, ekonomi, hingga relasi antarpasangan.

“Calon pengantin adalah titik awal lahirnya keluarga baru. Mereka adalah calon ayah, calon ibu, sekaligus calon pendidik pertama bagi anak-anaknya,” ujar Zayadi.

Menurut Zayadi, pendampingan terhadap calon pengantin merupakan investasi jangka panjang untuk membangun keluarga sakinah-maslahat. Keluarga tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan ketenangan dan ketenteraman bagi anggotanya, tetapi juga memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi lingkungan.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemenag, lanjut dia, melalui Bimbingan Perkawinan (Bimwin). Program tersebut memberikan edukasi mengenai peran, hak, dan kewajiban suami istri.

Edukasi pranikah juga diarahkan untuk membekali pasangan dengan kemampuan membangun komunikasi, komitmen, serta perencanaan kehidupan bersama. Kesiapan calon orang tua juga berkaitan dengan upaya pencegahan stunting.

“Pencegahan stunting dimulai dari kesiapan calon ayah dan calon ibu sebelum memasuki fase kehamilan,” katanya.

 

KUA Jadi Pusat Edukasi Keluarga

Zayadi menilai Kantor Urusan Agama (KUA) memiliki posisi strategis dalam pendampingan keluarga. KUA tidak hanya menjalankan fungsi pencatatan pernikahan, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan konsultasi keluarga.

“KUA adalah ruang edukasi, konsultasi, dan penguatan keluarga. Penghulu dan Penyuluh Agama berperan sebagai pendamping masyarakat, dan layanan nikah perlu terhubung dengan agenda ketahanan keluarga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendampingan calon pengantin merupakan upaya pencegahan dari hulu. Prosesnya mencakup edukasi kesiapan menikah, pemeriksaan dan skrining kesehatan, Bimwin, hingga pencatatan pernikahan.

Pendampingan, menurut dia, tidak boleh berhenti setelah akad nikah. Pasangan tetap membutuhkan pengawalan pada fase awal kehidupan berkeluarga. Jika ditemukan risiko atau persoalan, pasangan dapat diarahkan kepada layanan yang sesuai.

“Dengan begitu, pendampingan tidak berhenti di hari akad,” kata Zayadi.

Untuk memperkuat layanan tersebut, Kemenag mendorong sinergi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kemenag memiliki jejaring KUA hingga tingkat kecamatan, sedangkan BKKBN memiliki ekosistem pendampingan keluarga.

“Keduanya saling melengkapi dan memperkuat layanan dari hulu. Kolaborasi ini perlu berjalan pada empat level: kebijakan, data, edukasi, dan praktik lapangan,” jelasnya.

Zayadi mengatakan Kemenag akan terus memperkuat KUA sebagai pusat layanan keluarga. Penghulu dan penyuluh agama juga didorong menjadi pendamping calon pengantin yang adaptif terhadap tantangan keluarga masa kini.

Menurut dia, Bimwin perlu terus diperkuat agar semakin relevan dengan kebutuhan pasangan dan dinamika kehidupan keluarga. Sinergi antara Kemenag, BKKBN, pemerintah daerah, dan masyarakat juga perlu diperluas.

“Pada akhirnya, keluarga sakinah-maslahat adalah fondasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya,” pungkas Zayadi.

Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar terhadap pentingnya ketahanan keluarga sebagai fondasi masyarakat. Menurut Menag, masyarakat yang ideal tidak mungkin terbentuk apabila keluarga rapuh.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × one =