Home News Update Dunia Islam ARTIKEL SUKARNO DAN JEJAK ISLAM DI DAGESTAN, RUSIA

ARTIKEL SUKARNO DAN JEJAK ISLAM DI DAGESTAN, RUSIA

0
539

Duta Besar LBBP RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi bertemu dengan dua anak remaja yang bernama sama dengan nama Presiden RI pertama Sukarno.

JIC, LondonĀ  – Duta Besar LBBP RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi menuliskan kesan-kesannya saat melakukan kunjungan kerja di kota Dagestan dan bertemu dengan dua anak yang bernama sama dengan Presiden RI pertama, Sukarno.

Dubes Wahid bertemu dengan dua anak remaja yang bernama Sukarno bin Kamil bahasa Rusia Sukarno Kamilevich dan Sukarno bin Muhammad atau Sukarno Magomedovich berusia 12 dan 10 tahun. Orang tua mereka kakak beradik, tinggal sekitar satu jam naik mobil dari Makhachkala, ibu kota Republik Dagestan.

Kedua anak remaja itu datang ke Makhachkala atas undangan Abdulaev Ibragimgadzi, Kepala Pusat Nusantara, demikian Kepala Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Adiguna Wijaya kepada ANTARA London, Rabu.

Menurut Abdulaev, yang bercerita tentang kisah kedua anak yang bernama Suakarno . ā€œCeritanya panjang dimulai dari Musa Gashimovich, pada Juni 1961 menghadiri sidang Partai Komunis di Kremlin, warga Dagestan yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani (Kolkhoz),ā€ ujarnya.

Pada sidang Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet kala itu hadir beberapa kepala negara asing, termasuk Presiden pertama RI, Sukarno. Sidang hari itu jatuh pada hari Jum’at.

Ketika saatnya waktu dzuhur, tiba Presiden Sukarno berdiri dan minta izin kepada Sekjen Partai Komunis, Nikita Khrushchev, untuk meninggalkan ruangan karena akan menunaikan sholat. Nikita Khrushchev pun mengizinkan.

Musa pun terkejut dan seolah tidak percaya. Kegiatan beragama, termasuk Islam, selama zaman Uni Soviet dilarang atau dilakukan diam-diam.

Menurut Musa, apa yang dilakukan Sukarno sangatlah luar biasa dan di luar pikiran kebanyakan orang Rusia ketika itu. Atas kekagumannya pada Sukarno, Musa pun memberi nama anaknya Sukarno bin Musa (Sukarno Musaevich), yang lahir pada tahun 1962.

Menurut Abdulaev, Musa sempat menulis surat kepada KBRI Moskow kala itu untuk meminta ijin memberi nama anaknya Sukarno, tapi tidak pernah dijawab.

Salah seorang anak Sukarno, Kamil menamai anaknya Sukarno bin Kamil (Sukarno Kamilevich). Anehnya, saudara sepupu Kamil, Muhammad, juga memberi nama anaknya Sukarno bin Muhammad (Sukarno Magomedovich) karena kekagumannya pada bapaknya (Musa).

Kedua anak yang datang pada peresmian Pusat Nusantara tersebut, Sukarno bin Kamil dan Sukarno bin Muhammad, adalah cicit dari Musa Gashimovich yang hadir di sidang Konggres Partai Komunis Uni Soviet 1961.

Menurut Dubes Wahid, sampai saat ini nama Sukarno masih banyak dikenal oleh generasi tua, terutama di kota-kota yang pernah dikunjungi Presiden Sukarno seperti di Moskow, Saint Petersburg, Yekaterinburg, Sochi dan Samarkand sekarang masuk wilayah Uzbekistan.

Di Moskow, Sukarno mengunjungi Masjid Katedral (Agung) yang saat itu sangat kecil dan fotonya masih tersimpan di masjid kebanggaan umat Muslim Rusia. Di Saint Petersburg dalam kunjungannya tahun 1956, Sukarno meminta Nikita Khrushchev agar mengizinkan kembali dibukanya Masjid Biru sebagai tempat ibadah umat Islam.

Khrushchev pun mengizinkannya 10 hari setelah kunjungan Sukarno. Imam Masjid Biru, Cafer Nasibullahoglu, pun mengakui jasa Sukarno.

Demikian juga dengan cerita makam Imam Bukhari. Walaupun tidak ada sumber sejarah resmi, masyarakat Samarkand sampai saat ini meyakini makam Imam Bukhari dibangun Uni Soviet atas jasa Sukarno.

Konon Sukarno bersedia memenuhi undangan Nikita Khruschev dengan syarat ditemukannya makam Imam Buchari. Dan benar saja Khruschev memenui syarat itu dan Sukarno dalam rangkaian kunjungannya pada tahun 1956 mengunjungi makam tersebut dengan perjalanan kereta api yang ditempuh sekitar tiga hari.

(bersambung)
sumber : antaranews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 + four =