Home Kabar JIC BANGKITNYA SURAU KAMI

BANGKITNYA SURAU KAMI

0
474

Judul di atas diadopsi dari judul makalah Mohd. Nasir Tajang “Bangkitnya Surau Kami (Upaya Merebut Kembali Kejayaan Islam) yang disampaikannya pada saat menjadi pembicara Lokakarya “Pengembangan Fungsi Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat” yang diadakan oleh Puslitbang Kehidupan Beragama Kementerian Agama RI bekerja sama deengan Yayasan el-Quds dari tanggal 2 s/d 4 Nopember 2012 di Hotel Bintang, Jakarta Pusat.

Semangat gerakan Bangkitnya Surau Kami juga akan digemakan pada Musyawarah Nasional Kedua Forum Islamic Centre yang dilaksanakan di Jakarta dari tanggal 16 s/d 18 Nopember 2012. Mari kita semua bangkitkan surau atau tempat sujud kita sebagai tempat pemberdaya kaum muslimin yang hidup di garis kemiskinan atau di bawahnya agar kelak kita tidak dihalau oleh malaikat ke kerak neraka karena murka-Nya karena kemalasan kita untuk mengurusi mereka seperti kutipan dalam karya AA Navis di atas.

Judul di atas diadopsi dari judul makalah Mohd. Nasir Tajang “Bangkitnya Surau Kami (Upaya Merebut Kembali Kejayaan Islam) yang disampaikannya pada saat menjadi pembicara Lokakarya “Pengembangan Fungsi Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat” yang diadakan oleh Puslitbang Kehidupan Beragama Kementerian Agama RI bekerja sama deengan Yayasan el-Quds dari tanggal 2 s/d 4 Nopember 2012 di Hotel Bintang, Jakarta Pusat.

Di makalahnya, ia memaparkan tentang kejayaan umat Islam di era dinasti Abbasiyah dan keterpurukan umat Islam sekarang dengan setumpuk fakta dan data yang menunjukkan ke absurdan dunia Islam yang masih belum berdaya untuk bangkit dari keterpurukan. Di akhir penutup makalahnya ia mengutip ucapan sastrawan Ali Akbar (AA) Nafis yang tertera di dalam karya sastranya yang terkenal, Robohnya Surau Kami, “ Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Kegeraman AA Navis di atas dalam novelnya tersebut dengan menjadikan Allah swt. seolah-olah berkata demikian kepada bangsa ini adalah kegeraman kita juga. Jika dikontekstualkan sekarang, maka tulisan AA Navis itu bisa menyatakan demikian: Allah murka dengan kehadiran ratusan ribu, bahkan satu juta masjid telah berdiri di seluruh negeri zamrud katulistiwa ini. Sebagian dibangun dengan indahnya dan dengan biaya miliaran bahkan ratusan milyar rupiah. Sebagian bahan bangunan, ornamen dan hiasan lampu kristal di dalam masjid bahkan diimpor dari luar negeri, dari Italia sampai India. Namun, mengapa kemiskinan belum juga hilang? Umat Islamlah, pembangun masjid-masjid yang banyak inilah yang juga penyebabnya, umat Islam yang malas tentunya. Mereka malas untuk memperhatikan dan memberdayakan saudaranya yang masih hidup dalam kemiskinan dan bahkan di bawah garis kemiskinan. Pekerjaan telah membelegu tangan dan kaki mereka untuk membantu kaum muslimin yang tertindas oleh kemiskinan. Sudah dianggap cukup ibadahnya dengan melakukan shalat lima waktu, shalat sunnah dan menyumbang sebagian dana untuk membangun masjid yang megah di tempatnya karena jika sudah sampai di rumah, matahari telah terbenam, saatnya untuk istriahat agar besok bisa shalat subuh berjama`ah dan kembali bekerja. Biarlah si miskin yang malam-malamnya penuh dengan rintihan kelaparan dan sakit yang tak terobati diurusi oleh dinas dan yayasan sosial. Toh, setiap tahun, zakat dikeluarkan juga untuk mereka. Biar pula dinas perumahan dan pemerintah yang mengurusi kaum miskin yang hidup di gubuk-gubuk beralaskan tanah atau di kontrakan-kontrakan sempit, bahkan ada yang terlunta-lunta, hidup berpindah-pindah dari satu stasiun kereta ke stasiun kereta lainya, dan dari satu terminal ke terminal lainnya. Kaum miskin yang terlantar ini urusan negara. Banyak panti yang dapat membina mereka. Masjid? Masjid yang indah telah mereka jadikan museum. Masjid bukanlah tempat singgah bagi anak-anak dan orang-orang terlantar. Mereka kaum miskin ini jika masuk ke masjid, dianggap mengotori masjid sehingga menganggu kekhusyuan orang-orang yang shalat.

Adakah geraman dan realita di atas masih tetap dibiarkan? Mohd. Nasir Tajang menyerukan agar kaum muslimin di Indonesia melakukan gerakan “Bangkitnya Surau Kami. Caranya, para pengurus masjid menjadikan masjid sebagai tempat untuk mengembangkan bangunan masjid sesuai dengan kebutuhan; Membina kemampuan manajerial pengurus masjid, mencari tenaga-tenaga potensial sesuai dengan kebutuhan; mendata anggota jama’ah masjid termasuk kemampuan/keahliannya; membuat program harian, mingguan, bulanan, jangka panjang dan pendek; meningkatkan pola dakwah, pendidikan (pakai kurikulum) dan kesehatan; bekerjasama dengan pihak-pihak lain untuk meningkatkan aktivitas masjid; meningkatkan peran serta remaja, pemuda dan kaum wanita (misalnya latihan beladiri, olahraga, kegiatan kaum ibu dan remaja putri); membangun kegiatan ekonomi dan kemampuan ekonomi jama’ah; memelihara solidaritas sosial antar pengurus, jama’ah dan masyarakat sekitar; dan mengadakan rapat pengurus masjid dan anggota jama’ah secara rutin untuk membahas beberapa masalah, membuat evaluasi dan mencarikan solusi bagi persoalan kemiskinan di lingkungan sekitar masjid.

Semangat gerakan Bangkitnya Surau Kami juga akan digemakan pada Musyawarah Nasional Kedua Forum Islamic Centre yang dilaksanakan di Jakarta dari tanggal 16 s/d 18 Nopember 2012. Mari kita semua bangkitkan surau atau tempat sujud kita sebagai tempat pemberdaya kaum muslimin yang hidup di garis kemiskinan atau di bawahnya agar kelak kita tidak dihalau oleh malaikat ke kerak neraka karena murka-Nya karena kemalasan kita untuk mengurusi mereka seperti kutipan dalam karya AA Navis di atas. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 + 9 =