BATASAN MAZHAB MENURUT IMAM QARAFI

JIC,– Istilah “mazhab”—dalam hal ini adalah mazhab fiqih—menurut KH Dr Ahmad Nahrawi Abdussalam (w. 1999 M) mempunyai pengertian:

المذهب هو مجموعة من آراء المجتهد في الأحكام الشرعية استنبطها من أدلتها التفصيلية، والقواعد والأصول التي بنيت عليها ارتبط بعضها ببعض فجعلها وحدة منسقة. وبناء على هذا التعريف يكون المراد بمذهب الشافعي أصوله وفقهه  

“Kumpulan pendapat imam mujtahid yang terdiri dari dalam hukum-hukum syariat yang digali dari dalil-dalil syariat yang terperinci, kaidah-kaidah dan ushul yang menjadi dasar hukum-hukum tersebut, yang saling terkait satu dengan yang lain. Maka apa yang disebut Mazhab Syafi’i mencakup ushul fiqih dan fiqih yang disusun Imam Syafi’i radliyallahu ‘anhu. (Al-Imam asy-Syafi’i fi Mazhabaihi al-Qadim wal Jadid, hal. 207).

 

Penjelasan lebih detail dilakukan Imam Qarafi Al-Maliki (w. 1285 M.) dalam kitab al-Ihkâm fî Tamyîz al-Fatâwâ ‘an al-Ahkâm wa Tasharrufât al-Qâdli wal-Imâm (hal. 191-200).

Menurut Imam Qarafi, hukum-hukum yang disebut mazhab fiqih—bukan mazhab yang memuat ushul fiqih—dibatasi hanya lima bagian.

Pertama, hukum-hukum syar’iyyah-furû’iyyah-ijtihâdiyyah. Syariyyah artinya bukan ‘aqliyyah, hissiyyah atau hukum lain selain ketetapan syariat. Hukum syar’iyyah adalah hukum wajib, nadb (sunnah), ibahah (kebolehan), haram, dan makruh.

Furû’iyyah artinya bukan aqidah atau ushul fiqih. Ijtihâdiyyah artinya bukan hukum yang sudah maklum secara dlaruri (pasti).

Kedua, ketetapan sebab sebuah hukum.

Ketiga, ketetapan syarat sebuah hukum.

Keempat, ketetapan tentang mâni’ sebuah hukum.

Kelima, ketetapan tentang hujjah-hujjah yang dapat menetapkan sebab, syarat, dan mâni’ tersebut dalam kaitan diterimanya di pengadilan.

 

Bagian pertama dikenal dengan hukum syar’iyyah-taklîfiyyah. Sementara bagian kedua, ketiga dan keempat juga kelima dikenal pula dengan istilah hukum syar’iyyah-wadl’iyyah.   Tentu banyak masalah dapat dicontohkan pada masing-masing dari lima bagian hukum di atas. Misalnya, bagian pertama dicontohkan dengan hukum sunnah doa qunut dalam shalat subuh. Ketetapan sebab sebuah hukum misalnya lima kali penyusuan (radla’) yang menjadi sebab status mahram antarbayi yang disusui dan ibu yang menyusui.

Syarat sebuah hukum misalnya keberadaan dua saksi yang menjadi sebagai syarat sah sebuah pernikahan. Tentang mâni’, misalnya keberadaan najis di pakaian yang menjadi penghalang kabsahan shalat.

Bagian kelima dapat dicontohkan dengan syarat baligh bagi saksi tindak pidana pembunuhan.

Pengikut mazhab harus mengikuti hukum-hukum di atas. Namun sebagaimana diperingatkan Imam Qarafi, banyak yang salah paham; tidak membedakan antara mengikuti ketetapan tentang sebab, syarat, dan mâni’; dan mengikuti pernyataan tentang terjadinya (wuqû’) sebab, syarat, dan mâni’.

Imam Qarafi mencontohkan, misalnya, pendapat imam mazhab bahwa nabbâsy atau pencuri kain kafan di dalam kubur sama dengan pencuri yang harus dipotong tangannya. Ini adalah mazhab yang harus diikuti. Namun jika imam mazhab—sekali lagi andai—menyebutkan misalnya si Fulan adalah pencuri kafan maka pernyataan ini adalah persaksian dan bukan bagian dari mazhab. Sehingga misalnya di pengadilan, persaksian imam mazhab ini tidak bisa diterima jika sendirian, karena memang disyaratkan dua saksi.

 

Sekali lagi, menurut Imam Qarafi, hanya lima bagian di atas yang merupakan hasil ijtihad dari sumber hukum syariat. Dan selain lima bagian tersebut bukan bagian dari mazhab yang harus diikuti pengikut mazhab meskipun dinyatakan oleh imam mazhab.

Sumber : nu.or.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

TEKI-TEKI UMROH-HAJI DI TENGAH DEPRESI BESAR EKONOMI DAN PAPARAN PANDEMI

Read Next

BATASAN MAZHAB MENURUT IMAM QARAFI. (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three − one =