Home Khazanah Islam BOLEHKAH MENYEBARKAN KEBURUKAN ORANG MESKI BENAR?

BOLEHKAH MENYEBARKAN KEBURUKAN ORANG MESKI BENAR?

0
581

JIC – Dalam kebidupan sosial, kita tentu tidak bisa lepas dari orang lain. Interaksi yang terjalin antar-manusia dapat merekatkan hubungan satu dengan lainnya.

Interaksi tersebut memungkinkan seseorang mengerti bagaimana kebiasaan saudaranya. Bahkan sampai tahu keburukan orang lain. Bisa jadi kita pernah dirugikan oleh keburukan seseorang. Kita jadi kehilangan harta maupun tersakiti akibat kecenderungan buruk orang yang bersangkutan. Meski demikian, apakah boleh menyebarkan keburukan orang lain?

Peringatan Rasulullah

Terdapat sebuah riwayat dari Abu Hudzaifah RA yang dicatat oleh Imam Muslim. Riwayat ini menjelaskan mengenai orang yang menyebarkan keburukan orang lain.

Abu Hudzaifah RA berkata, “Aku mendengar Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ‘Tidak akan masuk surga orang yang banyak melakukan tindakan namimah’.”

Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian arti namimah?” Mereka menjawab, “Allah dan Utusan-Nya lebih tahu.” Rasulullah SAW bersabda, “Artinya mengambil pembicaraan sebagian orang dan menyampaikannya kepada sebagian yang lain untuk merusak hubungan di antara mereka.”

Ini Penjelasannya

Dr Muhammad Machasin menjelaskan hadis di atas menekankan dampak yang muncul, yaitu hubungan antar-anggota masyarakat akibat penyebaran berita. Hadis di atas tidak menyebutkan berita baik atau buruk. Berita mengenai keburukan, meskipun benar adanya, tentu tidak enak didengar.

Jika disebarkan dapat membuat orang yang menjadi subjek berita itu jadi tidak enak, demikian pula orang yang mendengarnya. Sehingga, lebih baik tidak menyebarkan berita keburukan orang lain meskipun benar adanya. Karena ini termasuk perbuatan namima. Apalagi jika berita yang disebar ternyata adalah bohong. Keburukannya jadi berlipat banyak.

Memang ada pengecualian, namun untuk berita yang benar-benar sudah diselidiki kebenarannya. Hal ini sejalan dengan tradisi ulama dalam menyampaikan hadis. Setiap ulama akan melakukan penyelidikan mengenai periwayatan hadis. Bahkan kepribadian sumber yang menyampaikan hadis tersebut tidak luput dari penelitian.

Ini semata untuk menetapkan kesahihan sebuah hadis. Sehingga, hadis dapat diterapkan secara turun temurun.

Sumber : dream.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − two =