Home News Update Dunia Islam CARA JEPANG MENGGENJOT WISATA HALAL

CARA JEPANG MENGGENJOT WISATA HALAL

0
390

Elba Damhuri

Beberapa restoran memajang tulisan Muslim Friendly dan Halal di pintu masuk.

JIC, JAKARTA- Selama beberapa hari saya bersama rombongan dari Indonesia diundang Pemerintah Kota Himeji, Jepang, untuk menyaksikan betapa seriusnya mereka membidik wisata halal. Pemerintah Himeji ingin menunjukkan kepada kami bahwa mereka telah menyediakan segala kebutuhan turis Muslim seperti makanan dan minuman halal, tempat shalat, oleh-oleh halal, hingga objek-objek wisata yang menarik.

Ada banyak spot wisata menarik yang saya datangi. Ada Kastil Himeji yang berusia sudah seribu tahun, Kuil Engyoji di mana film “The Last Samurai” syuting di sini, Taman Koko-en (taman para Shogun dan Samurai), Padang Rumput Tononami di mana film “Norwegian Wood” mengambil gambar di sini, pusat kota Himeji, hingga resort tempat bermain ski.

Sejumlah restoran yang menyajikan menu halal dan ramah Muslim pun saya datangi. Beberapa restoran memajang tulisan “Muslim Friendly” dan “Halal” di pintu masuk. Foto-foto makanan halal pun mereka tampilkan.

Himeji sedang berderap keras mengikuti jejak Tokyo, Osaka, Hokkaido, dan daerah-daerah lainnya di Jepang menarik turis Muslim. Wisatawan Muslim asal Indonesia pun menjadi target kejaran mereka.

“Kami sangat serius mengundang turis Muslim dari seluruh dunia berkunjung ke Jepang, termasuk dari Indonesia,” kata pengusaha travel Jepang, Takeo Uchiyama, saat menemani saya di Himeji.

photo

Wisatawan asal Indonesia berpose di area Kastil Himeji, Jepang, akhir pekan lalu.

Uchiyama bercerita, Jepang memiliki banyak objek wisata menarik baik dari sisi sejarah, kekinian, maupun keindahannya. Jepang melihat belakangan ini turis Muslim begitu antusias plesiran ke luar negeri, dan Jepang ingin menangkap mereka. Isu halal pun menjadi perhatian penting.

Selama sepuluh tahun terakhir, Pemerintah Jepang telah menyadari betapa penting dan berharganya kehadiran wisatawan Muslim –yang jumlahnya bakal mencapai 200 juta dari seluruh dunia pada 2022.

Jumlah wisatawan Muslim yang datang ke Jepang dari tahun ke tahun meningkat –terutama sejak mereka giat kampanye turisme halal. Pada 2016, ada 24 juta turis asing berkunjung ke Jepang dari target 20 juta pada 2020. Hampir satu jutanya (sekitar 700 ribuan) merupakan wisatawan Muslim.

Berdasarkan data dari Organisasi Pariwasata Nasional Jepang (Japan National Tourism Organisation/JNTO), pada 2016 ada hampir 271 ribu turis Indonesia datang ke Jepang. Jumlah ini naik tajam dari tahun 2009 yang hanya 63 ribu.

Begitupun turis Muslim asal Malaysia. Mereka sangat tertarik berwisata ke Jepang sejak kampanye wisata halal dan ramah Muslim digalakkan. Pada 2016, JNTO mencatat ada 394 ribu turis Malaysia ke Jepang atau naik dari tujuh tahun lalu yang hanya 89 ribu orang.

Jepang sangat paham betapa potensi wisata Muslim global sangat besar. Bersama negara-negara non-Islam lainnya seperti Australia, Thailand, Selandia Baru, Cina, Korea, Singapura, hingga banyak negara Eropa, Jepang ingin merebut pangsa pasar wisata Muslim yang diperkirakan mencapai 320 miliar dolar AS pada 2024 mendatang.

Dari prediksi MasterCard-CrescentRating, pada 2020 ada satu juta wisatawan Muslim datang ke Jepang, bersamaan Olimpiade yang digelar di Tokyo. Jumlah ini naik 18,7 persen dari periode 2013-2020.

Turis-turis Muslim dari Asia Tenggara tercatat paling banyak mendatangi Negeri Matahari Terbit itu. Destinasi utama mereka berdasarkan urutan, Tokyo, Osaka, dan Hokkaido.

Pertanyaannya, mengapa Jepang tergolong sukses menarik turis Muslim berwisata ke sana? Dari hasil kunjungan saya dan berdiskusi dengan pejabat Pemerintah Kota Himeji, pelaku usaha travel Jepang, dan pengusaha kuliner, ada dua faktor yang menentukan keberhasilan ini.

Pertama, faktor dari internal Jepang. Jepang telah menyadari arti penting turis Muslim yang banyak mendatangi negara-negara di lima benua. Jepang yang selama ini kurang paham cara melayani turis Muslim terbangun dan menyiapkan semua infrastruktur untuk menarik lebih banyak lagi turis Muslim.

Dari terbentuknya mindset “kesadaran atas pentingnya turis Muslim” ini, Jepang langsung berbenah. Edukasi dan sosialisasi apa itu halal dan ramah Muslim digelar di seluruh prefektur Jepang.

Pemerintah daerah dan pelaku usaha perjalanan termasuk pemilik restoran Jepang diberikan edukasi tentang makna halal, apa yang harus disiapkan dan disajikan, dan apa yang tidak boleh diberikan. Mereka diajarkan cara melayani turis Muslim baik di restoran, hotel, kafe, tempat wisata, hingga di pusat kota.

Yang namanya workshop dan halal expo sudah tidak terhitung banyaknya yang digelar di kota-kota besar. Mereka juga mendatangkan pelaku usaha perjalanan dari negara-negara Muslim dan tokoh-tokoh Muslim untuk menyampaikan arti penting sertifikasi halal.

photo

Beberapa restoran memajang tulisan Muslim Friendly dan Halal di pintu masuk. (Elba Damhuri)

sumber : republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

11 + thirteen =