Bangkitnya kesadaran terhadap penegakan Syariat Islam ternyata semakin marak di kalangan anak muda Indonesia. Di satu sisi semangat ini cukup membanggakan, di sisi lain cukup mengkhatirkan. Kekhawatirannya adalah ketika semangat memperjuangkan Syariat Islam tidak diiringi dengan keilmuan yang cukup, akan mudah dimanfaatkan pihak lain.
Karenanya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath menasehati kalangan remaja Muslim untuk berhati-hati dan belajar dari peristiwa yang menimpa David Ashari, remaja Jakarta yang gerebek oleh Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88 setelah berkenalan misterisus bernama Basir di Facebook.
Hidayatullah.com–Bangkitnya kesadaran terhadap penegakan Syariat Islam ternyata semakin marak di kalangan anak muda Indonesia. Di satu sisi semangat ini cukup membanggakan, di sisi lain cukup mengkhatirkan. Kekhawatirannya adalah ketika semangat memperjuangkan Syariat Islam tidak diiringi dengan keilmuan yang cukup, akan mudah dimanfaatkan pihak lain.
Karenanya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath menasehati kalangan remaja Muslim untuk berhati-hati dan belajar dari peristiwa yang menimpa David Ashari, remaja Jakarta yang gerebek oleh Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88 setelah berkenalan misterisus bernama Basir di Facebook.
“Anak-anak generasi muda juga harus waspada kepada siapa saja yang melakukan provokasi untuk melawan pemerintah secara fisik, dengan pengeboman atau pemberontakan. Saya khawatir semua itu dikendalikan intelijen untuk membusukkan umat Islam,” jelas Khaththath kepada hidayatullah.com, di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat belum lama ini.
Menurut Khathtath, jika ada kenalan mengaku aktivis dibarengi sikap-sikap mengkritik, menghina dan mencaci maki pemerintah di media sosial sebaiknya diwaspadai. Masalahnya jejak-jejak media sosial itu bisa dijadikan bukti untuk “menjebak” seseorang masuk dalam kasus terorisme. Lagi pula jika mau mengkritik harus dengan pertimbangan yang terukur.
Penggembosan terhadap Islam dengan cara-cara seperti ini saat ini dinilai sangat efektif. Karenanya ia meminta para pemuda dan remaja Muslim bisa berhati-hati.
“Kita berjuang menegakkan syariat di Indonesia tetap dengan cara damai dan penuh hikmah dan sikap-sikap yang ahsan (baik), karena jihad qital (fisik) belum menjadi wajib di lingkungan Indonesia yang mayoritas beragama Islam,” tambahnya.
Trauma
David Ashari sendiri mengaku sangat trauma dengan kasus penangkapannya. Kepada hidayatullah.com, David mengaku dia tidak menyangka akan ditangkap oleh Densus 88 karena pertemenan di dunia maya dengan Basir.
“Saya masih curiga dengan Basir, sebenarnya yang harus diselidiki ini dia, kenapa dia justru disembunyikan?” jelas David kepada hidayatullah.com pada konferensi pers tersebut.
Dari hal ini David menjadi lebih berhati-hati berkenalan dengan orang. Ia berharap pihak kepolisian juga membersihkan nama baik dirinya. Terlebih ia sendiri masih duduk di bangku sekolah.
Sebelumnya, pemerhati Kontra-Terorisme dan Direktur CIIA, Harits Abu Ulya juga menyampaikan dunia maya dan jejaring sosial seperti FB dan twitter kini justru dijadikan lahan menarik kalangan agen-agen intelijen untuk ‘memperdayai’ anak-anak muda.*
Rep: Thufail Al-Ghifari
Red: Cholis Akbar











