
JIC – Nusa Tenggara Barat (NTB) atau yang dikenal dengan julukan Negeri Seribu Masjid belakangan ini gencar melakukan kegiatan usaha berbasis Syariah. Karena itu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berkeinginan agar daerahnya bisa menjadi laboratorium ekonomi syariah
“Gubernur sudah menyatakan komitmennya menjadikan NTB sebagai laboratorium ekonomi syariah,” ujar Sekretaris Daerah NTB H Rosyadi Sayuti, pada pertemuan dalam rangka kesiapan jajaran pegawai Bank NTB untuk konversi menjadi Bank NTB Syariah, di Mataram, Sabtu (03/03/2018).
Rosyadi menilai visi dari ekonomi syariah adalah menciptakan masyarakat yang benar-benar melaksanakan industri dan ekonomi, bahkan kehidupan sehari-hari dengan prinsip syariah.
“Seluruh aspek berdasarkan syariah. Mulai dari tidur, mandi, berbelanja dan aktivitas lainnya didasari syariah. Itu bukan hal yang tidak mungkin,” kata dia.
Sejalan dengan hal tersebut, geliat ekonomi syariah di NTB, sudah terasa. Salah satunya dibuktikan dengan kehadiran sejumlah bank syariah, seperti Bank Muamalat, BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Mandiri Syariah, BTPN Syariah, dan terakhir membuka kantor cabang adalah BTN Syariah.
“Bank NTB sebagai perusahaan daerah juga segera mengonversi diri dari bisnis dengan prinsip konvensional menjadi perbankan syariah. Rencananya akan resmi menjadi Bank NTB Syariah paling lambat Agustus 2018,” pungkas Rosyadi.
Dengan adanya atensi khusus menjadi pertanda bahwa masyarakat NTB sudah siap bertransaksi dengan menerapkan prinsip syariah. Setelah menjadi Bank NTB Syariah, maka industri lain perlu menerapkan prinsip syariah. Salah satunya dalam lingkup perdagangan, properti dan pariwisata.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB Farid Faletehan menyebutkan jika sudah menjadi Bank NTB Syariah.
“Maka kontribusi perusahaan daerah itu sebesar 22 persen dari total “share”perbankan syariah di NTB yang akan mencapai kisaran 30 persen,” kata dia.
Sejalan dengan hal itu, Bank NTB akan memberikan kontribusi relatif besar terhadap pertumbuhan perbankan syariah dengan total aset mencapai Rp 2 triliun. Kepala Perwakilan BI NTB Achris Sarwani juga menanggapi hal yang sama. Menurut dia, Bank NTB Syariah nantinya akan menopang aktivitas ekonomi berbasis Islami di daerah, di samping industri lainnya, seperti pengembangan konsep pariwisata halal.
Nantinya, Konsep syariah segera dikembangkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah. Pasalnya, pasar untuk wisata halal juga cukup diminati dan sudah diterapkan di beberapa negara.
“Harus dari sekarang disiapkan areal wisata halal di KEK Mandalika. Mumpung baru mulai membangun kawasannya,” kata dia.
Acara gathering dalam rangka kesiapan jajaran pegawai Bank NTB untuk konversi menjadi Bank NTB Syariah, diikuti oleh seluruh direksi dan komisaris serta karyawan Bank NTB.
“Tujuannya untuk memperkuat komitmen hijrah dari konvensional ke Syariah,” pungkas Achris.
Sumber : gomuslim.co.id












