HIDUP ADALAH TOLONG-MENOLONG

Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Konsep tolong-tolong yang Allah perintahkan adalah dalam albiru dan at taqwa

JIC, JAKARTA–  Tidak ada makhluk yang sempurna. Semua makhluk saling membutuhkan satu sama lain.

Karena itu, Allah ciptakan sistem berpasang-pasangan. “Wa min kulli syaiin khalaqna zaujain” (Dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan) [QS Adz Dzariyat: 49]. Ada langit pasangannya bumi, siang pasangannya malam, laki-laki pasangannya perempuan, dan bulan pasangannya matahari.

Hanya Allah SWT yang tunggal witr (ganjil). Nabi Muhammad SAW bersabda, “Innallaha witrun yuhibbul witr” (Allah ganjil dan suka kepada yang ganjil) [HR Abu Daud].

Adanya pasangan tersebut untuk bersinergi. Dalam Alquran, sinergi adalah at ta’awun (tolong menolong). “Wata’aawanuu ‘alal birri wat taqawaa” (Hendaklah kamu tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) [QS al-Maidah:2].

Konsep tolong-tolong yang Allah perintahkan adalah dalam albiru dan at taqwa. Syekh As Sa’di menjelaskan, al birru artinya semua kebaikan diridhai Allah, baik amal ritual maupun sosial. Adapun at taqwa adalah semua sikap kehati-hatian dari dosa. Allah melarang tolong menolong dalam dosa (walaa ta’awanuu ‘alal itsmi wal udwan). Sebab dosa merupakan jalan kerusakan di muka bumi.

” Allah melarang tolong menolong dalam dosa.”

Orang yang tidak mau tolong-menolong dalam kebaikan dianggap mendustakan alam akhirat. Allah berfirman, “Ara’aitalladzi yukazzibu biddin” (tahukah kamu siapakah orang yang mendustakan alam akhirat) [QS al-Maun:1]. Allah menjelaskan, “Fadzalikalladzii yad’uul yatiim, walaa yahudhdh ‘alaa tha’amil miskiin” (Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong membantu orang miskin).

Alam ini telah dibangun berdasarkan sistem sunnatullah. Bahwa harus ada yang kaya dan miskin. Supaya terjadi sinergi, yang kaya membantu yang miskin dengan hartanya dan yang miskin membantu yang kaya dengan tenaganya. Rakyat membantu pemerintah dengan dukungannya dan pemerintah membantu rakyat dengan keadilannya.

Dalam konteks ini berlaku kaidah yang Nabi Muhammad SAW sabdakan, “Wallahu fii aunil abdi maakaanal abdu fii auni akhiihi” (Allah akan membantu hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya). Jadi, sekecil apa pun kebaikan yang kita berikan ada hubungannya dengan langit.

” Sekecil apa pun kebaikan yang kita berikan ada hubungannya dengan langit. “

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Siapa yang memudahkan urusan saudaranya akan dimudahkan di dunia dan akhirat (Man yassara alaa mu’shirin yassarahullah fid dunya wal akhirati) [HR Muslim].

Wajar jika suatu hari Umar bin Khattab menangis setelah shalat Maghrib. Istrinya Ummu Kultsum bertanya, “Apakah gerangan yang membuatmu menangis wahai paduka Amirul Mukminin? Bukankah engkau telah berbuat adil? Rakyatmu satu pun tidak ada yang kelaparan?”

Umar menjawab, “Suatu saat aku akan disidang oleh Allah tentang seekor kuda yang tergelincir di Irak karena sebuah lubang di jalan yang belum aku perbaiki.”

Oleh  USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

STUDI: ORANG YANG BERJALAN CEPAT LEBIH PANJANG UMUR

Read Next

DOA SUNAH TAHIYAT AKHIR UNTUK MEMOHON AMPUNAN ATAS PERBUATAN ZALIM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight − one =