Hijrah, Cerdaskan Umat Menuju Kebangkitan Peradaban

 

Muharram, terasa baru beberapa hari yang lalu dilewati. Dari Maulid Nabi SAW, Isra’ Mi’raj, Shaum Ramadhan, Syawal dan Haji yang masih hangat, kita ‘dipaksa’ oleh perputaran waktu untuk bertemu lagi dengan tahun baru Islam. Kembali kita diberi ruang oleh Allah SWT untuk merefleksikan kondisi umat Islam tahun lalu dan ikut ambil bagian dalam melakukan proyek rekayasa sosial bagi kemuliaan agama-Nya di tahun baru Islam 1432 H.

Muharram, terasa baru beberapa hari yang lalu dilewati. Dari Maulid Nabi SAW, Isra’ Mi’raj, Shaum Ramadhan, Syawal dan Haji yang masih hangat, kita ‘dipaksa’ oleh perputaran waktu untuk bertemu lagi dengan tahun baru Islam. Kembali kita diberi ruang oleh Allah SWT untuk merefleksikan kondisi umat Islam tahun lalu dan ikut ambil bagian dalam melakukan proyek rekayasa sosial bagi kemuliaan agama-Nya di tahun baru Islam 1432 H.

Jika Tahun Baru Hijrah dijadikan sebagai momentum untuk merenungkan kembali kondisi masyarakat kita saat ini. Tidak lain karena peristiwa Hijrah Nabi SAW sebetulnya lebih menggambarkan momentum perubahan masyarakat ketimbang perubahan secara individual. Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW tidak lain merupakan peristiwa yang menandai perubahan masyarakat Jahiliah saat itu menjadi masyarakat Islam. Inilah sebetulnya makna terpenting dari Peristiwa Hijrah Nabi SAW.

Namun momentum hijrah tersebut, nampaknya belum begitu sepenuhnya dapat dihayati oleh kaum muslimin. Sepanjang tahun 1431 H, cap negatif sebagai kaum tertinggal dan terbelakang, tidak toleran, biang teroris, bahkan di beberapa negara banyak mengalami ketidakadilan. Keunggulan demografi dan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negeri-negeri muslim pun tidak cukup mampu merefleksikan citra dan kebangkitan Islam yang senantiasa digaungkan di setiap pergantian tahun. Kemuliaan ajaran Islam tidak kunjung muncul ke permukaan. Tidak terkecuali di Indonesia, meskipun mayoritas dan menjadi negeri dengan penduduk terbesar di dunia, kondisinya tidak jauh berbeda. Selain karena musibah yang silih berganti sepanjang tahun mendera negeri ini, Islam pun lebih banyak dikriminalisasi sedemikian rupa oleh media dan pemberitaan yang tidak elegan terkait disharmoni antar agama. Islam dan kaum muslimin lebih banyak menjadi kalangan yang terpojokkan.

Hijrah Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa historis sekaligus hukum yang telah mengubah keadaan kaum muslimin dari kondisi tertindas menjadi kondisi sejahtera dengan tegaknya suatu masyarakat baru yang didasari oleh syariat Islam. Untuk itu, momentum hijrah adalah momentum kembalinya Islam dalam kancah kehidupan yang lebih baik, lebih berimbang dan lebih sepadan. Dorongan itu juga tampak dalam firman Allah SWT yang berbunyi :

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS. At Taubah 20).

Kemenangan itu menjadi janji yang pasti dari Allah SWT bagi orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah SWT. Kemenangan atau kebangkitan Islam dan kaum muslimin akan Allah berikan jika kaum muslimin senantiasa memperbaharui imannya dan meninggalkan kemusyrikan.

Peningkatan iman dapat dilakukan dengan penggiatan aktivitas pengkajian dan pengembangan Islam dalam segala aspek sehingga tercapai peningkatan pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam. Peningkatan pemahaman Islam akan melahirkan manusia-manusia yang cerdas. Manusia yang cerdas akan menciptakan energi hijrah atau energi transformatif dari keterpurukan dan ketertinggalan menuju kebangkitan dan kemuliaan di segala bidang. Juga berupaya menjaga spirit hijrah agar senantiasa menghiasi seluruh ruang hidupnya dengan mengamalkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan baik secara pribadi maupun kolektif. Hal demikian inilah yang akan mampu meninggikan derajatnya di sisi Allah sekaligus mengantarkannya menjadi insan dan komunitas transformatif.

JIC sebagai lembaga pengkajian dan pengembangan Islam berupaya mengeksplorasi dan mengelaborasi energi-energi transformatif, menjadikannya sebagai lokomotif menuju visi peradaban Islam. Terlebih lagi dalam momentum tahun baru hijrah 1432 H ini.

JIC ingin memperkuat energi transformatif tersebut dalam bentuk rangkaian kegiatan Gema Hijrah 1432 H yang akan dilaksanakan pada tanggal 7-22 Desember 2010. Diawali dengan Simposium dengan tema Memperkuat Peran JIC sebagai Pusat Pendidikan dan Latihan untuk Memajukan Peradaban Islam yang dilaksanakan di JIC hari Senin, 6 Desember 2010.

Kedua, Seminar Hijrah Peradaban 1432 H yang mengangkat tema Studi Hipotesis Akhir Peradaban Barat, Bangkitnya Peradaban Islam dari Asia Tenggara (Harapan, Kekuatan, dan Tantangan Terkini) dengan pembicara Prof. Dr. Azyumardi Azra, Datuk Aziz Jamaludin Mhd Tahir (dari Malaysia), dan lain-lain dengan pembahas Dr. Adian Husaini. Seminar ini diadakan pada hari Rabu, 8 Desember 2010 di JIC.

Selain itu, ada seminar Dekulturisasi Kepemimpian Kaum Muda di Dunia Islam, seminar tentang Peran Perempuan dalam Membangun Peradaban Islam, seminar Islam dan Enterpreneurship, dan Seminar Aktualisasi Nilai-nilai Keimanan dalam Ajaran Islam di Dunia Sains dan Teknologi, Training Leadership untuk Imam Masjid di Jabodetabek, Outbond Remaja Islam, dan Seminar “The Power of Story Telling untuk Kebangkitan Peradaban Islam”

Kegiatan lainnya adalah pameran informasi dan produk Islam, lomba mewarnai untuk anak-anak dengan tema “Cinta Perpustakaan” serta lomba mendisain wallpaper dengan tema “Perpustakaan Gerbang Peradaban” yang berhadiah notebook dan Blackberry. Tidak ketinggalan adalah copy darat atau off air Radio JIC dengan pendengar (mitra JIC) selama pameran pada tanggal 7-12 Desember 2010.

Informasi lebih lengkap dan untuk mendaftarkan diri sebagai peserta dapat menghubungi JIC di nomor telepon 021-4413069 atau dapat diakses melalui website JIC www. islamic-center.or.id atau melalui Radio JIC (di frekuensi 107,7 FM).

Akhirnya, seluruh upaya dimaksimalkan dengan harapan kemenangan dan kebangkitan bagi kaum muslimin dapat segera terwujud.

***
Oleh : Paimun A.K.
Bidang Informasi Komunikasi – Jakarta Islamic Centre

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Pilih Haji atau Qurban?

Read Next

Pengumuman Lomba Desain Wallpaper Kompter Perpustakaan JIC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − four =