Pilih Haji atau Qurban?

Bagi KH. Abdurrahim Radjiun, ulama Betawi dan anak dari Mu`allim Radjiun Pekojan, bagi ummat Islam yang mukallaf atau sudah baligh tidak ada pilihan ketiga ketika menyambut bulan Dzulhijjah, hanya ada dua, yaitu: berada di tanah suci untuk haji atau berqurban. Jika tidak pergi haji, maka berqurbanlah pada hari raya `Idul Adha dan hari-hari tasyrik. Jika tidak bisa berqurban unta atau sapi atau kerbau, ya berqurban kambing. Jika tidak bisa kambing, ya berqurban ayam. Jika tidak ada ayam, ya berqurban dengan sebutir telur, sambil berdo`a agar tahun depan bisa berqurban kambing.

Bagi KH. Abdurrahim Radjiun, ulama Betawi dan anak dari Mu`allim Radjiun Pekojan, bagi ummat Islam yang mukallaf atau sudah baligh tidak ada pilihan ketiga ketika menyambut bulan Dzulhijjah, hanya ada dua, yaitu: berada di tanah suci untuk haji atau berqurban. Jika tidak pergi haji, maka berqurbanlah pada hari raya `Idul Adha dan hari-hari tasyrik. Jika tidak bisa berqurban unta atau sapi atau kerbau, ya berqurban kambing. Jika tidak bisa kambing, ya berqurban ayam. Jika tidak ada ayam, ya berqurban dengan sebutir telur, sambil berdo`a agar tahun depan bisa berqurban kambing.

Kyai dan sufi ini tidak bermaksud untuk menafikan ketentuan syari`at Islam tentang hewan yang diqurbankan, tetapi untuk memotivasi umat yang tidak mampu berqurban dan para mustahiq agar tetap memiliki semangat dan jiwa berqurban, mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan menyedekahkan sesuatu untuk diberikan kepada orang lain, memiliki pribadi yang mau berbagi kepada sesama. Karena salah satu tujuan berqurban adalah untuk menggembirakan fakir miskin di hari `Idul Adha, sebagaimana `Idul Adha mereka digembirakan oleh zakat fitrah. Sehingga diharapkan tumbuh motivasi kuat dan melakukan cara apapun yang halal untuk berqurban dengan hewan yang sesuai ketentuan syari`at pada `Idul Adha berikutnya.

Atau bisa saja apa yang dianjurkan KH. Abdurrahim Radjiun tersebut merupakan sindiran bagi umat Islam. Karena jika melihat keadaan sekarang ini selain, mustahiq, setiap muslim seharusnya bisa berqurban. terlebih sudah ada masjid dan  lembaga-lembaga Islam  yang secara profesional menyediakan layanan untuk memudahkan setiap muslim mendapatkan hewan qurban dengan beberapa cara, misalnya melalui tabungan qurban. Bahkan tidak sebatas tabungan, tapi juga menyediakan hewan qurban yang memenuhi syarat syari`at dan kesehatan, menyediakan jasa penyembelihan sampai pencacahan, dan juga pengemasan yang menggunakan teknik dan teknologi pengawetan yang baik sehingga daging qurban dapat dinikmati oleh mustahiq dalam waktu yang lama, seperti kornetisasi daging qurban.

Namun, lembaga terutama (pengurus) masjid yang memiliki kemampuan manajemen penyelenggaraan qurban seperti ini masih sangat sedikit. Jangankan kemampuan manajemen, fiqih qurban pun banyak yang belum menguasai.  Banyak yang belum tahu jika binatang yang sah untuk qurban ialah yang tidak cacat, yaitu rusak matanya, pincang, sangat kurus tidak bergajih, sakit serta telah berumur menurut ketentuannya (kambing jenis domba harus berumur satu tahun lebih atau sudah berganti gigi; kambing biasa dua tahun lebih; dan sapi atau kerbau berumur dua tahun lebih).  Juga banyak yang belum mengetahui secara utuh mengenai hukum penyembelihan,  hal-hal yang disunatkan ketika menyembelih hewan qurban dan tata cara penyembelihannya. Misalnya, bagaimana hukum dan cara menyembelih hewan qurban yang sedang hamil? Bagaimana hukum memakan daging anak hewan tersebut?

Menyadari hal ini, Jakarta Islamic Centre (JIC) sebagai pusat dan pengkajian Islam Jakarta akan mengadakan diklat manajemen penyelenggaraan qurban pada hari Kamis, 28 Oktober 2010 di Balai Kota lantai 22. Diklat ini merupakan salah satu rangkaian dari program Jakarta Berqurban 1432H yang insya Allah akan dicanangkan oleh Gubernur DKI Jakarta pada diklat tersebut yang diharapkan menjadi program bersama umat Islam di DKI Jakarta untuk memaksimalkan jumlah shohibul qurban pada tahun ini agar  daging qurban dapat dinikmati secara merata oleh para mustahiq, fakir miskin, yang jumlahnya masih begitu besar di Ibukota.

Materi yang diberikan adalah fiqih qurban;  kiat memilih hewan qurban sehat; pengadaan, penerimaan, pemelharaan, pemotongan hewan qurban, pengemasan  dan pendistribusian daging qurban; dan teknologi pengemasan dan pengawetan daging qurban. Dengan diklat ini diharapkan para penyelenggara qurban memiliki pengetahuan dari sisi fiqih dan kesehatan serta  kemampuan manajemen.  Peserta yang mengikuti diklat ini adalah pengurus masjid dan lembaga-lembaga yang menyelenggarakan qurban dan tidak dipungut biaya. Bagi yang berminat mengikuti diklat ini dapat mendaftarkan diri ke JIC, Jl. Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara atau via telepon di (021) 4413069, (021) 4413069, atau ke 081314165949.

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki
Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Husnul Khatimah

Read Next

Hijrah, Cerdaskan Umat Menuju Kebangkitan Peradaban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × three =