
JIC – Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang baru, Wimboh Santoso mengatakan ekonomi dan keuangan syariah Indonesi menyimpan banyak potensi untuk berkembang. Sektor ini pun diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara umum.
Wimboh yang kini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan pertumbuhan industri keuangan syariah tahun lalu lebih tinggi dibanding industri keuangan konvensional. Total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk Saham Syariah) mencapai Rp1.133,23 triliun atau tumbuh 27 persen.
“Ini lebih tinggi dari pertumbuhan industri keuangan konvensional. Bahkan, pangsa pasar sukuk Indonesia mencapai 19 persen dari seluruh sukuk yang diterbitkan berbagai negara,” ujarnya baru-baru ini.
Hanya saja, pertumbuhan ini secara kelembagaan masih belum kokoh dalam menghadapi berbagai tekanan dari eksternal maupun untuk memacu pertumbuhannya. Berbagai program harus terus dibangun secara berkelanjutan seperti meningkatkan literasi keuangan atau tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk jasa keuangan syariah.
“Salah satu program MES ke depan adalah dengan mendukung pengembangan program Bank Wakaf Mikro, serta ikut berperan dalam pengembangan industri halal. Saya berharap MES dapat menjadi motor pengembangan Bank Wakaf Mikro dengan platform LKM syariah berbasis pesantren ini,” katanya.
Ia mengungkapkan usia MES yang sudah mencapai 17 tahun artinya sudah menjadi organisasi yang dewasa, dalam berpikir dan melangkah. “Karena MES sudah dewasa sehingga masyarakat menuntut yang lebih terhadap MES. Yang jelas, keberadaan MES harus bisa dirasakan denyutnya bagi seluruh masyarakat Indonesia,” paparnya.
Wimboh juga berharap MES terus memberikan kontribusi yang besar pada pengembangan sektor industri halal, seperti: bidang industri fashion, busana muslim, makanan halal, farmasi, hingga sektor pariwisata, dan optimalisasi dana sosial keagamaan, seperti dana haji, dana zakat, dana wakaf, serta dana infaq, dan sedekah sebagaimana tercantum pada Program Kerja Nasional dan Garis Besar Kerja Organisasi (GBKO) hasil MUNAS MES IV.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina MES KH Ma’ruf Amin menilai, langkah MES ke depan adalah untuk memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan ekonomi masyarakat. “Saat ini, sistem ekonomi dan keuangan Indonesia sudah financial dual system, di mana salah satunya adalah sistem keuangan syariah. Dengan adanya financial dual system ini maka lahirlah dual banking system. Salah satunya adalah sistem perbankan syariah,” ungkapnya.
Ketua MUI ini menyebut adanya Komite Nasional Keuangan Syariah dengan diketuai oleh Presiden Joko Widodo diharapkan dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.
Namun demikian, KH Ma’ruf Amin mengakui bahwa pangsa pasar keuangan syariah masih terbilang rendah, yaitu 5 persen saja dari total pasar keuangan nasional. “Busnya sudah banyak, namun penumpangnya masih sedikit,” katanya.
Solusinya, kata KH Ma’ruf Amin, MES harus mampu membangun ekonomi umat di Indonesia dengan menggulirkan arus baru ekonomi Indonesia dengan memberdayakan ekonomi umat dari bawah.
“Selama ini yang terbangun adalah ekonomi konglomerasi yang tak mampu mengangkat harkat ekonomi masyarakat bawah. Oleh karena itu, sistem pembangunan ekonomi harus dibalik bukan lagi dari atas tapi dimulai dari bawah, ekonomi umat. Langkah strategis itu direspon positif oleh Presiden Jokowi dengan menggulirkan program redistribusi aset dan program kemitraan,” tutupnya.
Seperti diketahui, akhir pekan lalu, MES melantik jajaran pengurus pusat periode 1439-1442 Hijriah (2018-2021), diantaranya KH Ma’ruf Amin sebagai Ketua Dewan Pembina MES, Jenderal Moeldoko sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina MES, Wimboh Santoso sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat MES, Perry Wajiyo sebagai Ketua Dewan Pakar MES, serta Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram sebagai salah satu anggota Dewan Pembina.
Sumber : gomuslim.co.id












