ISIS, TERORISME DAN PERTOBATAN TIGA WNI ‘EKS JIHADIS’ DI SURIAH: ‘KAMU HARUS PULANG, AYAH DAN IBUMU TAK RESTUI KEPERGIANMU’ (4)

Narapidana tindak pidana terorisme mencium bendera Merah Putih usai mengucap ikrar setia kepada NKRI di Aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/04).               SUMBER GAMBAR,ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

‘Kamu harus pulang, ayah-ibumu tak restui ‘jihadmu’ ke Suriah’

JAKARTA, JIC,– (Syahrul Munif, kelahiran 1982, bergabung ISIS di Suriah, dan setelah bebas dari penjara aktif menyuarakan nilai-nilai anti-radikalisme)

Dalam rentang sekitar tujuh tahun, Syahrul Munif, 39 tahun, yang dulu berangkat ‘berjihad’ ke medan perang Suriah dengan bergabung ISIS, dapat berubah seratus delapan puluh derajat.

Kini pria kelahiran Juli 1982 ini berulang-ulang menyebut ISIS sebagai “virus yang merusak citra Islam” — hal yang diakuinya tak “terpikirkan” saat dia bersumpah mendukung ISIS tujuh tahun silam.

Saya lantas bertanya kepada Syahrul — lulusan strata satu Fakultas Hukum di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang — perihal bagaimana dia bisa berubah dalam rentang tujuh tahun.

Syahrul Munif

SUMBER GAMBAR,BBC NEWS INDONESIA

Keterangan gambar : Syahrul Munif saat diwawancarai pada pertengahan April 2021: “Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir ‘Syahrul-Syahrul yang salah’ seperti saya.”

Berubah dalam artian, misalnya saja, dia tidak lagi menganggap jihad itu harus mengangkat senjata atau tentang ketegasan sikapnya yang menolak konsep kekhalifahan.

“Saat di dalam penjara saya mulai berpikir,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC News Indonesia di rumah kontrakannya di Singosari, Malang, pertengahan April 2021 lalu.

Selama mengikuti program deradikalisasi yang disponsori pemerintah Indonesia, mantan aktivis dakwah kampus ini mengaku “banyak belajar” tentang konsep keislaman secara lebih luas.

“Termasuk jihad di Indonesia seharusnya seperti apa, jihad sesungguhnya menurut syariah seperti apa,” ungkapnya.

Lalu, apa yang terjadi pada Anda ketika disuguhi video-video propaganda tentang apa yang terjadi di Suriah oleh Abu Jandal alias Salim Mubarok Attamimi, sehingga nekad ke Suriah? Saya bertanya lagi.

“Saya tidak berpikir ke sana,” jawab Syahrul, mencoba menggambarkan apa yang ada di benaknya, saat itu.

Dia menyebut posisinya saat itu sebagai murid yang “mencari ilmu” kepada Salim yang disebutnya sebagai ustaz alias guru.

“Dan saat itu, saya percaya kepadanya, berprasangka baik saja” — termasuk isi video itu.

Syahrul Munif

SUMBER GAMBAR,DOKUMEN ARIF BUDI SETYAWAN

Keterangan gambar ; Syahrul Munif (nomor dua dari kanan) saat acara pengenalan produk bisnisnya. “Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai,” ungkapnya.

Mirip yang dialami Abu Farros dan Wildan, Syahrul juga menggunakan alasan persaudaraan sesama muslim dan alasan kemanusiaan yang membuatnya “berpikir sempit” untuk memberi penguatan makna jihadnya saat itu.

“Mungkin pikiran saya saat itu sempit dan berpikir, pokoknya saya bisa menolong dan bisa berarti bagi saudara-saudara saya di Suriah,” katanya.

Kalimat inilah yang mengantarkannya dalam perjalanan berisiko dan berbahaya ke medan perang di Suriah pada Maret 2014.

Demi tujuan ‘jihad’ itulah Syahrul saat itu membohongi ibu dan ayahnya, dengan mengatakan bahwa kepergiannya itu untuk umroh dan ambisi belajar agama di Arab Saudi.

Kepada istrinya, Syahrul hanya bercerita sekilas tentang rencana kepergiannya. Sang istri saat itu sudah mengingatkannya bahwa dirinya harus bertanggungjawab untuk membesarkan dua anaknya yang masih kecil.

Syahrul dan Abu Farros terbang ke Malaysia dan bertemu beberapa orang lainnya, sebelum terbang ke Turki dan akhirnya melintasi perbatasan menuju “penampungan” di Kota Tell Abyad, Suriah.

Setelah mengikuti latihan militer oleh ISIS di Kota Raqqa selama 25 hari, mereka kemudian ditempatkan di lokasi “perbatasan” dengan Kota Aleppo.

Dalam perjalanannya, Syahrul mengaku mulai bimbang atas pilihan ‘jihadnya’ ke Suriah, setelah mengetahui ada peristiwa deklarasi kekhalifahan apa yang disebut sebagai Negara Islam.

 

Sumber : bbcindonesia.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

ISIS, TERORISME DAN PERTOBATAN TIGA WNI ‘EKS JIHADIS’ DI SURIAH: ‘KAMU HARUS PULANG, AYAH DAN IBUMU TAK RESTUI KEPERGIANMU’ (3)

Read Next

ISIS, TERORISME DAN PERTOBATAN TIGA WNI ‘EKS JIHADIS’ DI SURIAH: ‘KAMU HARUS PULANG, AYAH DAN IBUMU TAK RESTUI KEPERGIANMU’ (5)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 2 =