ISIS, TERORISME DAN PERTOBATAN TIGA WNI ‘EKS JIHADIS’ DI SURIAH: ‘KAMU HARUS PULANG, AYAH DAN IBUMU TAK RESTUI KEPERGIANMU’ (5)

Personel kepolisian bersenjata berjaga di depan Gedung Mabes Polri, Jakarta, Kamis (01/04/2021). SUMBER GAMBAR,APRILLIO AKBAR/ANTARA FOTO

JAKARTA, JIC,– “Pemahaman saya khilafah itu rujukan seluruh muslimin di seluruh dunia, tahu-tahu kok ISIS deklarasikan khilafah. Ini menurut saya terburu-buru dan prematur,” katanya belakangan.

Syahrul mengeklaim dirinya mulai sedikit berubah setelah mengetahui perangai Abu Jandal yang dianggapnya mulai memurtadkan kelompok Islam lainnya.

“ISIS kok seperti itu,” ujarnya. Belum lagi informasi yang dia terima praktek kekejaman ISIS terhadap tawanan perang.

“Saya mendengar di alun-alun kota itu ada kepala-kepala [manusia] yang dipajang di pagar,” katanya. Pada titik inilah, katanya tujuh tahun kemudian, dia memutuskan untuk segera meninggalkan Suriah.

Apakah sebelum Anda berangkat ke Suriah tidak menyadari hal itu, saya bertanya. Syahrul dulu mengaku ‘mengidealkan’ ISIS. “Tapi itu sebelum saya lihat faktanya saat di Suriah.”

Syahrul Munif

SUMBER GAMBAR,BBC NEWS INDONESIA

Keterangan gambar : “Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam,” katanya.

Selama berproses mengikuti program deradikalisasi di dalam penjara itulah, Syahrul kemudian menyimpulkan bahwa “ISIS sudah melenceng dari konsep keislaman”.

“Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam,” katanya.

Namun momen puncak yang menguatkan tekadnya untuk meninggalkan Suriah adalah saat dia memberanikan diri menelpon keluarga besarnya.

“Orang tua saya sangat terpukul ketika mengetahui saya berbohong untuk pergi ke Suriah, dan saudara-saudara saya bilang ‘mas, pokoknya kamu harus pulang, karena umi dan aba tidak merestui kepergian mas’,” katanya.

Pada momen itulah, dia merasa sangat berdosa. “Andaikata saya mati di Suriah, dan orang tua tidak merestui, itu sangat berdosa,” tambahnya.

Pengungsi Suriah.

SUMBER GAMBAR,HALIL FIDAN/GETTY

Keterangan gambar : Warga Kota Raqqah, Suriah, melarikan diri untuk menghindari peperangan, dengan menunggu di perbatasan Turki-Suriah, 18 September 2014.

Itulah sebabnya, masih dalam tahun yang sama, Syahrul akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan berhasil.

Tiga tahun kemudian, yaitu pada 2017, Syahrul ditangkap oleh Densus 88 atas keterlibatannya bersama ISIS di Suriah. Dia divonis tiga tahun penjara dan dibebaskan pada 2019 setelah mendapat remisi.

Dalam wawancara, kehadiran ayah dan ibunya disebutnya sebagai faktor paling penting yang membuatnya menyadari kesalahannya bergabung dengan ISIS di Suriah.

“Keajaiban itu saya kira dari doa orang tua yang senantiasa mendoakan saya,” katanya. Dia meyakini doa orang tua lah yang membuatnya berhasil kembali ke Indonesia.

Syahrul Munif

SUMBER GAMBAR,BBC NEWS INDONESIA

Keterangan gambar : Setelah menghirup udara bebas, Syahrul (kiri) menjalankan bisnis yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS).

Dan dua tahun setelah menghirup udara bebas, Syahrul belum menceritakan masa lalunya itu dengan tiga anaknya yang masih kecil. Kelak saat mereka sudah dewasa, Syahrul akan mengungkapkannya — tanpa menutup-nutupinya.

“Paling tidak setiap orang pernah melakukan kesalahan, barangkali abi (ayah) dulu pernah salah dengan berangkat ke sana [Suriah], dan abi sudah berusaha memperbaiki diri, dan bahkan mendidik anak-anak untuk hati-hati melangkah, supaya tidak seperti abi,” kata Syahrul.

Saat ditemui BBC News Indonesia, Syahrul sedang menjalankan bisnisnya yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS).

“Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai,” ungkapnya.

Dari sisi pemahaman keislaman, Syahrul mengaku memperluas ‘pergaulannya’ dengan para ulama yang selama ini ‘di luar’ pemahamannya dulu tentang Islam.

“Yaitu ulama yang memiliki wawasan lebih longgar, luas dan luwes, karena Islam ternyata mengajarkan seperti itu,” katanya.

Aksi menolak terorisme.

SUMBER GAMBAR,ABRIAWAN ABHE/ANTARA FOTO

Keterangan gambar : Seorang peserta aksi menolak aksi terorisme — tergabung Forum Rakyat Bersatu — memegang bunga saat aksi solidaritas di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (04/04).

Ketika saya bertanya apakah dirinya mengalami stigma dari masyarakat terkait status eks napi teroris yang dilekatkan padanya, Syahrul tidak terlalu memusingkannya.

Dia ingin menunjukkan kepada siapapun bahwa dirinya adalah “orang baik” dengan membuktikan dengan dakwahnya sekarang yang disebutnya lebih humanis.

“Itu semua akan menjawab dari sebuah stigma, dan itu akan hilang dengan sendirinya, yaitu dengan kita tunjukkan dengan amal nyata yang lebih baik,” ujar Syahrul.

Saat ini Syahrul sedang menyelesaikan sebuah buku yang isinya tentang pengalamannya selama ini yang diharapkannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dia juga rajin membagikan pengalamannya di berbagai kampus dan sekolah.

“Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir ‘Syahrul-Syahrul yang salah’ seperti saya,” tandasnya.

 

Sumber : bbcindonesia.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

ISIS, TERORISME DAN PERTOBATAN TIGA WNI ‘EKS JIHADIS’ DI SURIAH: ‘KAMU HARUS PULANG, AYAH DAN IBUMU TAK RESTUI KEPERGIANMU’ (4)

Read Next

KASUS AKTIF COVID-19 DI DKI NAIK DALAM 2 PEKAN TERAKHIR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × three =