Dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur DKI Jakarta dalam Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Selasa 09 April 2013, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa walau anggaran di sektor pendidikan, index pembangunan manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi maupun kesehatan warga Jakarta semakin meningkat, bahkan pendapatan perkapita warga Jakarta pada tahun 2012 di atas 10 ribu dolar AS per tahun. Namun angka kemiskinan di Jakarta juga meningkat. Ia membandingkan jumlah penduduk miskin pada bulan September 2012 sebesar 366.770 orang atau 3,70 persen. berjumlah 355.200 orang atau 3,64 persen.
Dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur DKI Jakarta dalam Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Selasa 09 April 2013, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa walau anggaran di sektor pendidikan, index pembangunan manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi maupun kesehatan warga Jakarta semakin meningkat, bahkan pendapatan perkapita warga Jakarta pada tahun 2012 di atas 10 ribu dolar AS per tahun. Namun angka kemiskinan di Jakarta juga meningkat. Ia membandingkan jumlah penduduk miskin pada bulan September 2012 sebesar 366.770 orang atau 3,70 persen. berjumlah 355.200 orang atau 3,64 persen.
Apa yang disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta tersebut menjadi salah satu kado yang tidak mengenakan bagi kota Jakarta yang pada bulan Juni ini memasuki usia ke-486. Sangat tidak mengenakan lagi apabila membaca data tentang aksi kejahatan pencurian dengan kekerasan (Curas) di tahun 2012 di DKI Jakarta mengalami peningkatan hingga 17% dibandingkan dengan tahun 2011. Tahun 2011 ada 935 kasus, sedangkan tahun 2012 ada 1.094 kasus. Naik sebanyak 159 kasus atau 17%.
Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Putut Eko Bayuseno ada beberapa kasus yang menonjol mengalami peningkatan selama tahun 2012 lalu. Di antaranya kasus pembunuhan dari 67 kasus pada tahun 2011 menjadi 69 kasus pada 2012. Namun yang menjadi sorotan di sini adalah kasus kenakalan remaja yang meningkat dari 30 kasus di tahun 2011 menjadi 41 kasus pada 2012, naik sebanyak 11 kasus atau 36,66%. Sedangkan mengenai tawuran pelajar, terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya. Menurut data dari Komisi Nasional Perlindungan (Komnas) Anak Indonesia, sepanjang tahun 2012, sebanyak 82 pelajar tewas mengenaskan dari 147 kasus tawuran yang terjadi di Jakarta.
Jika kita ingin mencari benang merah dari data kemiskinan dan kenakalan remaja serta tawuran pelajar di atas, maka dapat ditemukan dari hasil penelitian Asian Trend Monitoring dari NUS (National University of Singapore) tahun 2012 tentang wilayah kekerasan dan penyebabnya di Jakarta. Penelitian itu melansir bahwa semuanya bermula dari permasalahan urbanisasi yang tidak terkontrol yang mencipta pengangguran, masyarakat menjadi punya banyak waktu luang dan mengakibatkan frustasi. Pada saatnya, memicu kriminalitas, ditambah ruang yang padat merangsang sikap agresif untuk tindak kekerasan, menyulut ketakutan-kepanikan yang melumpuhkan kegiatan ekonomi. Ujung-ujungnya memperburuk kondisi masyarakat yang sudah miskin parah. Yang memprihatinkan juga, anak-anak mudanya, dalam hal ini remaja dan pelajar, mulai terimbas budaya kekerasan.
Hasil penelitian NUS di atas saya amini seratus persen. Saya yang lahir di Slipi dan menghabiskan sebagian masa kecil saya di daerah Petamburan, Jakarta Pusat merasakan betul pesatnya laju urbanisasi yang tak terkontrol ini. Dulu, masih ada tanah kosong di tempat saya tinggal di bilangan Gang Ori, Petamburan tempat anak-anak bermain. Rumah-rumah penduduk masih banyak yang memiliki pekarangan. Para remaja dan pemuda menghabiskan energinya dengan sering melakukan tanding sepak bola di lapangan yang tersedia di beberapa tempat. Tapi sekarang, jangankan lapangan, rumah-rumah berpekarangan sudah banyak menghilang diganti dengan rumah-rumah sempit yang berhimpit-himpit. Petamburan benar-benar padat penduduk dan menjadi salah satu lokasi, selain Tanah Tinggi, yang memberikan kontribusi didaulatnya wilayah Jakarta Pusat menjadi wilayah terpadat di Indonesia. Imbasnya kepada remaja dikarenakan kegerahakan tinggal di rumah yang sempit dan padat penghuni, membuat mereka yang nota bene pelajar harus sering berada di luar rumah. Para remaja yang senasib ini kemudian berkumpul dan berkelompok dengan rekan-rekannya. Jika kelompok remaja ini bertemu dengan kelompok remaja lain dan tersulut oleh hal kecil saja, bentrokan antar kelompok remaja ini pun tidak teerhindarkan. Terlebih jika mereka sering melihat orang-orang dewasa di lingkungannya dalam menyelesaikan persoalan selalu dengan kekerasan sehingga dengan cepat mereka mecontohnya. Maka menjadi hal yang masuk akal jika di dua wilayah Jakarta Pusat ini dan juga di wilayah-wilayah padat penduduk lainnya di Jakarta sering terjadi tawuran dan tingkat kenakalan remajanya juga tinggi.
Untuk mengatasi persoalan di atas, banyak hal yang sudah dilakukan pemerintah provinsi DKi Jakarta dengan melibatkan banyak ahli. sejak era Ali Sadikin sampai era Jokowi sekarang ini. Di era Jokowi, dilakukan program pemindahan warga ke rumah susun dan pembangunan kampung deret di daerah-daerah padat penduduk.
Namun, pembangunan fisik tentu bukanlah penyelesaian masalah yang tepat. Menurut Paulus Wirutomo, sosiolog UI bahwa harus ada pendekatan khusus struktural dan budaya di masyarakat dengan kegiatan yang terintegrasi. Wujudnya adalah orientasi kegiatan edukatif secara informal dengan target mereka yang dianggap under class dan tereksklusi . terbuang atau diasingkan. Masyarakat yang tinggal di kampung padat penduduk adalah masyarakat tanpa kelas, yang resisten terhadap pendekatan formil, seperti kepolisian dan para pemimpin lokal (RT/RW atau Lurah).
Dari tesis yang diajukan Paulus Wirutomo ini, saya melihat ulama sebagai salah satu pemimpin informal masyarakat memiliki peran dan kontribusi besar untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sosial tersebut, dari kemiskinan sampai tawuran. Mereka masih didengar ucapannya karena masyarakat masih membutuhkan ulama dalam urusan-urusan siklus hidup mereka, sejak kelahiran sampai kematian. Namun sayangnya, sedikit sekali ulama yang memiliki wawasan dan kemampuan mengatasi persoalan-persoalan sosial. Bahkan sebagian ulama di Jakarta, terutama ulama Betawi, masih belum dapat bersatu padu untuk membantu kepemimpinan Jokowi dan Basuki dalam pembangunan kota Jakarta. Mereka masih terpecah dalam dua kubuh karena imbas dari pertarungan Pilkada tahun lalu. Polarisasi dan konflik ulama ini tentu saja mengimbas ke masyarakat. Akhirnya, meminjam istilah Galtung, masyarakat terus berada dalam spirial kekerasan yang tidak putus-putus karena tidak adanya kepemimpinan untuk memutus spiral itu. Walhasil, ulama sibuk dalam konflik sesama, masyarakat pun sibuk berkonflik dan pemerintah serta aparat selalu terlambat dan kesulitan mengatasi konflik ulama dan masyarakat.
Maka sebagai upaya merekatkan ukhuwah ulama di DKI Jakarta, khususnya ulama Betawi, dan meningkatkan peran dan kontribusi mereka untuk pembangunan kota Jakarta, Jakarta Islamic Centre (JIC) di milad kesepuluhnya menyelenggarakan Seminar “Peran dan Kontribusi Ulama Betawi dalam Pembangunan Ibukota Provinsi DKI Jakarta Kini dan Esok” pada hari Senin, 17 Juni 2013 dari jam 08.00 s/d 14.00 WIB di Aula Serba Guna JIC bersama KH. Saifuddin Amsir, KH; Drs. H. Ridwan Saidi, KH. Wahfiudin Sakam, SE, MBA dengan pembicara kunci Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla. Bagi yang berminat mengikuti seminar ini dapat menghubungi penyelenggara di 082124348581, 081314165949. ***
Oleh: Rakhmad Zailani Kiki
Kepala Seksi Pengkajian JIC











