
JIC, JAKARTA- Rabu (12/12) lalu, Arab Saudi mengumumkan sebuah kesepakatan untuk membentuk entitas negara-negara di sekitar Laut Merah. Pembentukan entitas baru ini diprakarsai Raja Salman bin Abdulaziz.
Anggotanya adalah beberapa negara Arab dan Afrika yang berbatasan dengan Laut Merah dan Teluk Aden, yaitu Arab Saudi, Mesir, Sudan, Djibouti, Yaman, Somalia, dan Yordania. Tujuannya untuk menciptakan stabilitas di kawasan dan meningkatkan keamanan, investasi, dan pengembangan negara-negara anggota.
Kesepakatan itu diumumkan setelah Raja Salman bertemu dengan perwakilan dari negara-negara tadi di Riyadh. Belum diketahui bagaimana pola dan bentuk kerja sama antaranggota dalam entitas itu, juga seperti apa pendanaannya.
Namun, melihat komposisi anggota dalam entitas yang akan dibentuk itu, bisa ditebak, Arab Saudi yang akan mendominasi. Selain sebagai pemrakarsa, Saudi merupakan negara terkaya dan paling berpengaruh daripada yang lainnya.
Tiga hari sebelumnya, Raja Salman juga telah menjadi tuan rumah KTT ke-39 Dewan Kerja Sama Teluk. Dewan ini beranggotakan enam negara: Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Oman, Bahrain, dan Qatar. Penguasa (Amir) Qatar Syekh Tamim bin Hamad al-Tsani ogah menghadiri KTT di Riyadh ini. Sudah lebih dari satu setengah tahun (sejak 5 Juni 2017) Qatar dikucilkan oleh saudara-saudaranya di Teluk.
Beberapa pengamat Timur Tengah mengibaratkan langkah Arab Saudi membentuk entitas baru itu sebagai “mencari teman baru, melupakan saudara sendiri”. Tentu saja dalam hubungan antarnegara, hal semacam itu lumrah saja. Seperti halnya dalam politik ada istilah “tidak ada teman abadi, yang abadi adalah kepentingan”, begitu pulalah hubungan antarnegara di Teluk.
Banyak alasan mengemuka di balik pengucilan terhadap Qatar. Tidak sekadar tudingan bahwa negara kecil di Semenanjung Jazirah Arab nan kaya itu mendukung terorisme dan berhubungan baik dengan Iran.
Bila membaca berbagai media, baik yang berafiliasi dengan Qatar maupun Arab Saudi dan pendukungnya, akan terpapar alasan lain tentang ketidaksenangan masing-masing pihak yang berseteru terhadap pihak lainnya. Alasan lain yang tidak tertera dalam dokumen resmi. Alasan lain yang kemungkinan justru menjadi dasar utama pengucilan terhadap Qatar.
Antara lain, Qatar sering dianggap sebagai saudara yang “bandel nan sombong”. Misalnya, ia ogah tunduk pada kesepakatan yang telah dibuat para pemimpin Teluk, terutama terkait dengan kelompok-kelompok yang sering dituduh sebagai teroris. Dalam hal ini, Qatar menampung dan membantu sejumpah pemimpin Ikhwanul Muslimin dan Faksi Hamas di Gaza.
Sebagai info, Ikhwanul Muslimin (IM) yang sempat memenangkan pemilu dan kemudian berkuasa di Mesir pascalengsernya rezim Presiden Husni Mubarak telah dianggap sebagai kelompok teroris oleh penguasa Mesir sekarang dan kemudian diikuti oleh sejumlah negara Teluk. Lha, kelompok yang dianggap teroris ini kemudian justru dibantu Qatar, termasuk ulama besar Syekh Dr Yusuf Qaradhawi yang selama bertahun-tahun bermukim di Doha.
Selanjutnya, Qatar juga dinilai melanggar kesepakatan telah berhubungan baik dengan Iran yang oleh Arab Saudi dan negara Teluk lainnya dianggap sebagai musuh bebuyutan. Qatar juga membangkang terhadap koalisi militer yang dipimpin Saudi untuk menyerang kelompok Houthi di Yaman.
sumber : republika.co.id












