JIC- Ketika pada saatnya kita melihat gerbang pintu surga yang megah dan menakjubkan setelah menjalani proses perjalanan panjang semenjak dari padang mahsyar, mizan, titian shirath, telaga Rasulullah hingga shirath kedua yang berakhir di depan pintu surga yang luasnya sejauh jarak antara kota Mekkah dengan Kota Bushra atau kota Hajar (1.272 KM) (HR. Muslim No. 287). Tiada lagi kesuksesan atau keberhasilan yang paling tinggi selain sampainya kaki-kaki kita menginjak halaman gerbang pintu – pintu surga yang segera akan kita masuki. Bersahut – sahutanlah ucapan “salam” (keselamatan) di seluruh jagad surga baik yang datang dari Allah SWT. langsung (QS Al-Ahzab : 44), maupun dari sesama penduduk surga dan malaikat (QS Yunus : 10) yang mengiringi masuknya kita untuk pertama kali di alam surga.
Pemandangan gerbang menuju surga yang mengindikasikan kita akan segera memasukinya bukan saja menjadi tujuan akhir dari kehidupan seorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT. tetapi harus menjadi motivasi dan harapan kuat untuk melakukan ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. kepada hamba Nya. Motivasi dan harapan kuat yang mewarnai ibadah kita dalam beribadah terutama dalam bulan puasa ini disebut dengan احْتِسَابًا (Ihtisaban) (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760). Ihtisaban juga berarti ikhlas mengerjakan puasa karena Allah SWT. yang ganjarannya nanti bisa berbentuk pahala surga dari Allah SWT. maupun lainnya.
Tentunya motivasi yang kuat dan keikhlasan dalam menjalankan puasa hanya bisa datang dari pengetahuan yang cukup tentang surga dan dihayati dalam hati maupun pikiran kita. Untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang surga dan sampai kepada penghayatan tersebut maka pertama kali kita harus mendapatkan informasi yang akurat tentang keindahan dan kenikmatan surga yang menjadi ganjaran bagi orang-orang yang diterima puasanya oleh Allah SWT. Didalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang menceritakan keindahan surga dan kenikmatan didalamnya. Untuk membayangkan keindahan dan kenikmatan surga harus menggunakan pendekatan analogi superlative (berjenjang) yaitu analogi yang mendekatkan pemahaman kita tentang keindahan dan kenikmatan surga dengan rujukan perbendaharaan yang ada di dunia dengan kadar dan pengalamannya yang berbeda sangat jauh (tak terbayangkan) dengan apa yang ada di dunia. Rasulullah SAW. Pernah bersabda bahwa kenikmatan di dunia ini dibandingkan dengan kenikmatan surga/akhirat seperti tetesan / satu tetes air yang tersisa dari ujung jari telunjuk ketika dimasukkan ke laut (HR. Muslim No. 2868).
Bayangkanlah dahsyatnya kadar kenikmatan di surga yang sebanyak air laut di muka bumi dibandingkan satu tetes yang tersisa dari telunjuk jari yang dimasukkan tadi. Kenikmatan dunia yang dianalogikan dengan hanya satu tetes air saja, telah membuat umat manusia ada yang menjadi depresi bahkan gila, saling bersaing keras hingga berkhianat antara teman dan saudara, sikut menyikut urusan pekerjaan dan jabatan, berkonflik hingga saling berbunuhan dengan puncaknya saling berperang demi untuk mendapatkan kenikmatan satu tetes tersebut. Hanya demi satu tetes tersebut, manusia bisa tega membunuh saudaranya hingga orang tuanya sekalipun. Hanya demi satu tetes, banyak amanah-amanah dikhianati, jabatan dan kedudukan dicari tanpa henti siang dan malam, para perempuan malahan ada yang melacur diri. Luar biasanya umat manusia mengejar satu tetes itu tapi malah melupakan bermiliaran tetesan yang nantinya akan kita nikmati kekal selamanya. Sebuah kondisi ironi dan paradoks dari sifat manusia, mengejar kenikmatan yang sedikit dan sementara tapi malah sering melupakan yang banyak dan abadi selamanya.
Analogi perbandingan antara satu tetes air dengan seluruh air laut yang ada di muka bumi tersebut adalah sebuah perbandingan yang sangat amat tidak seimbang, karena akal kita tidak dapat membayangkan perbandingan kenikmatan antara satu tetes air yang volumenya hanya 0.05 mili liter dengan volume air di muka bumi yang jumlahnya 332,5 juta mili kubik (US Geological Survey). Tak mungkin akal kita mampu bisa membayangkan perumpamaan kenikmatan yang kadarnya hingga 332,5 juta kali lipat dibandingkan kenikmatan yang sedang kita rasakan sekarang ini di dunia. Maka wajarlah Allah SWT. berkata dalam hadis qudsi tentang kenikmatan surga yang tak mungkin satu orangpun pernah melihatnya, mendengarnya dan terbersit di dalam hatinya tentang keindahan dan kenikmatan yang ada di alam surga (HR. Bukhari No. 3244).
Oleh sebab itu, sebagai motivasi kita agar dalam beribadah puasa dengan hati yang Ihtisaban, maka kita boleh melakukan analogi Superlative (berjenjang) tadi, misalnya menurut Al-Qur’an surat Al-Waqi’ah ayat 18 hingga 21 dinyatakan bahwa penduduk surga akan mendapatkan makanan terbaik seperti daging burung, madu, susu, buah-buahan dll. (QS. Al-Waqiah 18 – 21) maka kita hanya bisa menganalogikan secara superlative jika di dunia saja makanan tersebut begitu lezat apalagi nanti di akhirat, tentu kelezatannya tak terbayangkan berjuta-juta kali lipat. Begitu juga ketika Rasulullah SAW. menyatakan bahwa istana surga dibangun dari batu bata emas dan perak, dengan lantainya kasturi yang semerbak harum, tanahnya dari safron, kerikilnya mutiara dan batu permata yakut, keindahan istana ini tidak bisa kita lukiskan di dunia ini karena belum pernah ada bangunan yang berbatu bata emas dan perak. Wajah para penghuni surga akan terus bertambah cantik dan tampan setiap harinya, para bidadari dan para pelayan akan selalu bersedia untuk melayani kapan saja. Masih banyak lagi kenikmatan surga yang tidak mampu kita bayangkan kenikmatannya seperti kenikmatan memandang wajah Allah SWT., kenikmatan seksualitas, kenikmatan pemandangan alam yang sangat indah dll., malahan Allah SWT. akan terus menambahkan kenikmatan lainnya yang belum pernah diturunkan di dunia ini setiap saat (QS. As-Sajdah : 17). Karena saking banyaknya kenikmatan yang Allah SWT. berikan di surgaNya, maka penghuni surga selalu sibuk bersenang-senang ( شُغُلٍ فٰكِهُوۡنَ ) untuk menghabiskan waktu demi menikmati seluruh fasilitas kenikmatan untuk selamanya tanpa henti dan tanpa ada lagi kematian (QS. Yasin : 55).
Oleh sebab itu, dengan kenikmatan surga yang tak terhingga tersebut di atas, merupakan suatu kebodohan dan kerugian yang sangat besar jika dalam berpuasa Ramadhan kita kurang termotivasi untuk mengejar ganjaran surga tersebut (Ihtisaban). Akal sehat manusia manapun tidak mungkin bermalas-malasan ketika berpuasa jika mengetahui bahwa ganjaran yang diberikan oleh Allah SWT. adalah sesuatu yang tak terhingga nikmatnya. Sehingga rasa lapar dan dahaga ketika berpuasa bukan lagi hal yang dianggap sebuah kesulitan atau penderitaan. Seharusnya rasa lapar dan dahaga menjadi sebuah kenikmatan tersendiri dan muncul gelora semangat yang tiada henti untuk menghabiskan waktu-waktu selama berpuasa dengan segala macam bentuk amalan maksimal seperti membaca Al-Qur’an, mempelajarinya serta mengamalkannya. Wallahu’alam Bishawwab.
Ditulis oleh, Ustadz. Dr. Taufik Hidayat, M.Sc (Kasubdiv Konsultasi dan Pelayanan Umat PPPIJ)








