Home Khazanah Islam Akhlak MUNAJAT SEPENUH JIWA

MUNAJAT SEPENUH JIWA

0
554

Manusia makhluk yang lemah dan tidak bisa hidup seorang diri dalam menjalani kehidupannya sehingga sangat membutuhkan intervensi Allah Ta’ala. Ketika ikhtiar sudah maksimal dilakukan maka do’a dan tawakkal selalu dibutuhkannya. Terkadang manusia begitu sombong dan menganggap bahwa dirinya sudah begitu hebat padahal tetaplah ia seorang hamba, ada Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa dan Maha Mengatur.

Ramadan adalah bulan ibadah. Munajat dan do’a adalah bagian dari ibadah. Sungguh di saat-saat seperti inilah seorang hamba sangat membutuhkan Allah, di sepertiga atau seperdua malam, saat-saat sahur, setiap selesai salat lima waktu dan salat sunnah serta menjelang berbuka puasa. Terlalu mubazir jika waktu-waktu dalam bulan Ramadan berlalu begitu saja, tidak fokus beribadah dan perbanyak amal salih.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [al-Baqarah (2) : 186]

Mengutip dari Lubabut Tafsir min Ibnil Katsir, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari menceritakan ketika sedang bersama Rasulullah saw dalam suatu peperangan, mereka mendaki, menaiki bukit dan menuruni lembah dengan mengumandangkan takbir. Kemudian Rasulullah saw mendekati mereka dan bersabda, Wahai sekalian manusia, sayangilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Zat yang tuli dan jauh. Tetapi kalian berdo’a kepada Rabb yang Mahamendengar dan Mahamelihat. Sesungguhnya yang kalian seru itu lebih dekat kepada seorang di antara kalian daripada leher binatang tunggangannya. Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau aku ajari sebuah kalimat yang termasuk dari perbendaharaan Surga? Yaitu, لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّٰهِ (Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya karena pertolongan Allah). [HR. Bukhari dan Muslim]

Syarat orang yang berdoa adalah ia mengetahui bahwa tidak ada yang berkuasa kecuali Allah dan bahwa segala perantara berada di genggaman-Nya dan ditundukkan oleh-Nya, serta ia berdoa dengan niat yang tulus dan berkonsentrasi, sebab Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai. Syaratnya pula ia tidak memakan barang haram dan tidak jenuh berdo’a. Hal ini sebagaimana dijelaskan Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir.

Kalimat أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, mengutip pernyataan Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menunjukkan betapa lembut, halus, sayang, ramah dan akrabnya Allah Ta’ala, sehingga tidak ada letak kesulitan berpuasa dan beratnya tugas ini di bawah bayang-bayang kasih sayang, kedekatan, keramahan dan keakraban ini. Merupakan ayat yang mengagumkan; meneteskan embun yang manis ke dalam hati orang beriman, meneteskan cinta dan kasih sayang, kerelan dan ketenangan, serta kepercayaan dan keyakinan.

Di dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ لَا تَخَافَآ ۖ إِنَّنِى مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. [Taha (20) : 46]

Ayat ini menunjukkan betapa Allah Ta’ala sangat menyayangi Musa dan Harun as dengan menyebut mereka berdua di bawah perlindungan dan perhatian-Nya dari kejahatan. Dan Allah Ta’ala mendengar perkataan mereka berdua, dan melihat semua kondisinya, lalu menghibur mereka agar tidak takut. Maka rasa takut sirna dari mereka dan hati mereka menjadi tentram dengan janji Rabb mereka. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah ra dia berkata: Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman, Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal salih. Dan Allah Ta’ala berfirman, Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku, namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? [HR. Muslim]

Ada beberapa syarat do’a menurut para ulama, di antaranya Sahl bin Abdullah at-Tustari yang berkata, Syarat-syarat doa ada tujuh: merendahkan diri, takut, berharap, terus-menerus, khusyuk, bersifat umum, dan makan barang halal.

Adapun Ibnu Atha’, ada empat syarat do’a: menjaga hati tatkala sendirian, menjaga lisan ketika bersama manusia lain, menjaga mata dari memandang sesuatu yang tidak halal dilihat, dan menjaga perut dari barang haram.

Dulu Nabi Musa as saat sampai di tepi Pantai, di hari Asyura. Di sana tidak ada jalan keluar, lautan di hadapannya, Fir’aun di belakangnya. Bani Israil dengan khawatir berkata kepadanya, Kita benar-benar akan tersusul Fir’aun. Tetapi Musa as menjawabnya dengan jawaban penuh keyakinan kepada Rabbnya,

قَالَ كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

Dia (Musa) berkata, Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku [asy-Syu’ara (26) : 62]

Sungguh Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperbanyak permintaan dan munajat sepenuh jiwa kepada Pemilik segala hajat, Allah Ta’ala. Apalagi nanti ada malam Qadar, lebih baik dari seribu bulan. Hajat-hajat kita begitu banyak dan membutuhkan solusi dari Pemilik solusi, Allah Ta’ala. Mungkin menurut kita mustahil namun bagi Allah Ta’ala semuanya serba memungkinkan.

Semoga kita memiliki keyakinan yang sama seperti yang dimiliki Nabi Musa as, tidak mudah menyerah dan putus asa, senantiasa husnudhan kepada Allah Ta’ala, yakin akan datangnya bantuan dan pertolongan-Nya, memperbanyak sabar dan Ikhlas, terus beribadah dan beramal salih amal usaha serta  bermunajat sepenuh jiwa.

Jakarta, 7 Ramadan 1447 H / 25 Februari 2026

Oleh :

Arief Rahman Hakim

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − eighteen =