NU DAN MUHAMMADIYAH DOMINASI BURSA KETUA JELANG MUNAS MUI

Ma’ruf Amin saat ini merupakan Ketua Umum nonaktif MUI periode 2015-2020 karena menjabat sebagai Wapres RI periode 2019-2024. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, JIC — Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat berencana menggelar Musyawarah Nasional (Munas) X pada Rabu sampai Jumat mendatang, 25-27 November 2020. Salah satu agenda utama munas tersebut adalah menentukan kepengurusan baru menggantikan yang sebelumnya, masa khidmat 2015-2020.Saat ini kepemimpinan MUI masih dipegang Ma’ruf Amin sebagai ketua umum nonaktif. Ia menjabat ketum nonaktif karena saat ini berstatus Wakil Presiden RI periode 2019-2024.

Deretan nama-nama ulama tersohor Indonesia mulai bermunculan dalam bursa calon ketua umum MUI periode 2020-2025 pada gelaran Munas nanti.

Ketua MUI sekaligus Ketua Steering Comitte (SC) Munas X MUI, Abdullah Jaidi membeberkan beberapa nama yang berpeluang menjadi Ketum MUI berasal dari ulama dengan latar belakang beragam.

Dari ulama berlatar belakang NU, kata dia, terdapat nama Miftachul Akhyar hingga Nasaruddin Umar.

“Enggak menutup kemungkinan, Pak Nasaruddin Umar itu kan sekarang ada di Wantim [Dewan Pertimbangan] MUI. Dari latar belakang NU juga mencuat nama Miftakhul Akhyar dan Prof Nasaruddin tadi,” kata Abdullah kepada CNNIndonesia.com, Senin (23/11) malam.

Miftachul Akhyar kini masih menjabat sebagai Rais Aam PBNU sejak 2018 lalu. Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya itu menggantikan posisi Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam PBNU usai dicalonkan sebagai kandidat wakil presiden pada 2018 lalu. Sementara Nasaruddin Umar yang pernah menjadi Dirjen Bimas Islam hingga Wakil Menteri Agama itu kini masih menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Tak hanya dari kalangan NU, Abdullah Jaidi juga membeberkan terdapat tokoh-tokoh ulama yang berlatar belakang Muhammadiyah seperti Wakil Ketua Umum MUI, Muhyiddin Junaidi dan Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas. Keduanya masih aktif sebagai pengurus pusat MUI dengan jabatannya masing-masing sampai saat ini.

“Dari Muhammadiyah juga ada nama Syafig Mugni, ini masih rabaan-rabaan, terbuka, bisa saja [jadi kandidat Ketum],” kata dia.

Meski demikian, Abdullah Jaidi menegaskan semua nama-nama tersebut masih sebatas kemungkinan. Sebab, pihak PBNU dan PP Muhammadiyah sampai saat ini belum resmi mengusulkan salah satu kader terbaiknya menjadi kandidat calon Ketum MUI.

Menurutnya, kader-kader terbaik yang diajukan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu memiliki peluang yang sama besar untuk menjabat sebagai kandidat Ketum MUI periode 2020-2025.

“Sampai sekarang belum ada namanya pencalonan atau usulan yang masuk ke MUI, baik yang diusulkan oleh pihak PBNU atau PP Muhammadiyah. Bisa saja [Ketumnya] nanti dari Muhammadiyah bisa saja dari unsur PBNU, bisa saja,” kata Abdullah Jaidi.

Abdullah Jaidi membeberkan pemilihan Ketua Umum MUI dalam Munas X akan digelar secara kolektif dan kolegial. Nantinya, pemilihan Ketua Umum MUI akan ditentukan tim formatur yang anggotanya mewakili pelbagai elemen-elemen masyarakat dan dipilih melalui mekanisme yang berlaku.

Biasanya, kata dia, anggota tim formatur dipilih berdasarkan perwakilan wilayah MUI, perwakilan ormas Islam, sejumlah pengurus demisioner MUI pusat periode sebelumnya hingga akademisi.

“Kalau Munas Surabaya 2015 lalu ada 17 formatur, merekalah yang memilih Ketum MUI,” kata Abdullah Jaidi.

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar ikut pembahasan di Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU), di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat,Kamis (28/2).Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Munas MUI Surabaya 2015 lalu menetapkan Ma’ruf Amin sebagai Ketum MUI dan Din Syamsuddin sebagai Ketum Dewan Pertimbangan MUI.

Setelah Ketua Umum definitif MUI terpilih, lanjut Abdullah Jaidi, tim formatur dan Ketua Umum bersama-sama membuat kepengurusan baru Dewan Pimpinan MUI dan Dewan Pertimbangan MUI. Nama-nama yang mengisi kepengurusan tersebut disusun secara kolektif.

“Nah tim formatur bersama ketum terpilih menyusun [pengurus] dewan pimpinan MUI, itu ada 22 orang. 22 orang semuanya dipilih oleh tim formatur dan ketum terpilih. Juga dewan pertimbangan MUI, itu ada 7 orang,” kata dia.

Senada, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) M Cholil Nafis mengakui bila nama-nama ulama yang beredar di tengah-tengah masyarakat sebagai kandidat calon ketua umum MUI.

“Ya memang yang beredar begitu,” kata Cholil, Senin malam.

Cholil menilai semua kandidat yang mengisi bursa calon ketua umum pada Munas MUI mendatang memiliki peluang yang sama besarnya. Ia memprediksi pemilihan Ketua Umum MUI nantinya akan berlangsung sangat dinamis.

“Biasanya para ulama kalau ada pemilihan gitu malah saling gak mau. Gak kaya pemilu. Jadi dinamis aja. Kita ormas Islam ya mereka sama tau mana yang layak mana yang nggak,” kata Cholil.

Terpisah, Sekjen MUI Anwar Abbas mengklaim belum mengetahui bila namanya masuk bursa calon ketua umum MUI. Secara pribadi, ia pun mengaku bertanya-tanya siapa yang mencalonkannya untuk masuk bursa calon Ketum.

“Siapa yang ajukan saya? Belum tahu saya. Apalagi calon-calonnya enggak tahu. Kalau Pilpres kan tahu, kalau ini kan bukan,” kata Anwar yang juga dikenal sebagai salah satu ketua bidang di PP Muhammadiyah tersebut.

Sekjen MUI Anwar Abbas. (CNN Indonesia/Alfani Roosy Andinni)Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas juga dikenal sebagai salah satu ketua bidang di PP Muhammadiyah. (CNN Indonesia/Alfani Roosy Andinni)

Munas X MUI rencananya akan digelar selama tiga hari di Hotel Sultan, Jakarta pada 25 hingga 27 November 2020 mendatang.

Wakil Ketua Umum MUI Muhyiddin Junaidi mengatakan tidak menutup kemungkinan lahirnya wajah-wajah baru dari kepengurusan MUI periode 2020-2025.

“Dan mungkin saja akan terjadi perubahan- perubahan dari sisi jabatan dan lain sebagainya, ada pergeseran mungkin dari pimpinan MUI dari periode 2015-2020, dan 2020-2025 nanti insya allah akan ada muka-muka baru,” kata dia kemarin.

Sejak berdiri pada medio 1970an silam, sudah tujuh sosok yang memimpin MUI sebagai ketua umum. Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka adalah ketua umum pertama MUI yang menjabat dari 1975-1981.

Dari tujuh orang tersebut, para ketua umum datang dari Muhammadiyah dan NU yang notabene dua ormas keagamaan besar di Indonesia. Ketua Umum MUI sebelum Ma’ruf adalah Din Syamsuddin yang kala itu masih Ketum PP Muhammadiyah. Din resmi jadi Ketum MUI pada Februari 2014 menggantikan Sahal Mahfudz yang meninggal dunia.

Mendiang Sahal yang juga dikenal sebagai Kiai NU itu sendiri telah tiga kali terpilih dalam Munas MUI menjadi ketua umum yakni pada 2000, 2005, dan 2010.

(rzr/kid)

Sumber : cnnindonesia.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

ANCAMAN PANGDAM JAYA: TANGKAP PEMASANG BALIHO ILEGAL RIZIEQ

Read Next

MUHAMMADIYAH SINDIR PELANGGAR PROKES BERDALIH AGAMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + ten =