Jakarta (islamic-center.or.id) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengekspose hasil pantauan 10 hari pertama Ramadhan 1447 H terhadap 16 stasiun televisi yang dilakukan oleh 32 pemantau.
Ketua Tim Pemantauan Siaran Ramadhan 1447 H MUI, Dr Rida Hesti Ratnasari, mengungkapkan ada dua stasiun televisi yang tayangannya terdapat sejumlah indikasi pelanggaran . Kedua stasiun televisi tersebut yakni Trans Tv dan Trans7.
Rida mencontohkan, dalam tayangan program Indahnya Ramadhan Trans 7 ditemukan indikasi pelanggaran karena adanya kekerasan verbal dan tendensi sensual.
Misalnya, pada 19 Februaru 2026 pada menit ke 1:44 Ivan Gunawan mengejek postur Kiki dengan mengatakan “Ini pos ronda apa posyandu? Kok ada bayi?”.
Kemudiaan pada menit ke 2:06 Anwar mengajak Kiki secara body shaming dengan mengatakan “Maaf ye, ini kayak ulekan puyer.”
“Body shaming oleh Anwar terhadap Kiki, menyerupakan Kiki dengan ulekan puyer. Tanggal 20 Februari 2026 pada menit ke 1:43 Nasar menambahkan ejekan buat Kiki ‘Enggak mungkin anaknya cantik, emaknya aja kaya biji ketumbar’,” kata Rida mengungkapkan contoh indikasi pelanggaran kekerasan verbal yang terjadi dalam program Indahnya Ramadhan Trans 7.
Sementara contoh indikasi pelanggaran tendensi sensual yang terjadi di program Indahnya Ramadhan Trans 7 terjadi pada 20 Februari 2026 ketika Anwar melakukan adegan tidak pantas dengan menggoyangkan pantat naik turun pada menit ke 07:00-07:03.
“Gerakan pantat Anwar naik turun merupakan gerakan terasosiasi pada gerakan erotis laki-laki. Kemudiaan pada tanggal 19 Februari 2026 menit ke 2:56-2:57 Anwar melakukan adegan tidak pantas membuka celana kolornya,” ungkapnya.
Bahkan, ditemukan adegan yang mengarah kepada Laki Suka Laki (LSL) yang terjadi pada 20 Februari 2026 di menit ke 8:24. Adegan tersebut ketika Nasar berkata kepada Andika “Ente mau beli ane, ayo, ayo.”
Kemudiaan pada stasiun televisi Trans 7, terdapat temuan pada program Sahur Lebih Segar yang terindikasi kekerasan verbal dan fisik.
Misalnya, pada part 1, Wendi melecehkan Nunung yang berperan sebagai _cleaning service_ dengan menyamakannya dengan mesin pembersih: “Pak ini mesin baru yang kita baru…teknologi terbaru kuning namanya Wol E Pak”.
“Dalam temuan kepatutan etis kami, menemukan pogram Makan Receh tanggal 19 Februari 2026, close up adegan makan pada jam sebelum buka,” tegasnya.
Selain Trans 7 dan Trans Tv, Tim Pemantauan juga menyoroti temuan kepatutan syar’i yang terjadi di Garuda TV. Misalnya doa setelah azan Subuh dan Maghrib yang ditayangkan terdapat kesalahan tulisan yang muncul di layar.
“Terdapat kesalahan tulisan yang muncul di layar. Pada hari pertama, antara yang dikumandangkan berbeda dengan tulisan yang muncul di layar. Pada hari berikutnya, tulisan dan pelafalan sama, hanya ada kesalahan minor dalam penulisan teksnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Rida mengungkapkan temuan dalam program Jalan Dakwah BTV. Pada 19 Februari 2026 waktu jelang berbuka puasa, Dai Abey Ghifari salah membaca hadist.
“Memanjangkan pada lafadz huruf sa dibaca jasaadahu, seharusnya jasasadahu menit 05:15. Script writer juga menampilkan teks yang belum diedit,” ujarnya.
sumber: muidigital












