Home Khazanah Islam Akhlak PERHATIAN AYAH KEPADA ANAK-ANAKNYA

PERHATIAN AYAH KEPADA ANAK-ANAKNYA

0
559
Ilustrasi

Serial Keluarga Sakinah-[Edisi Ke-Sembilan]

Oleh:

Arief Rahman Hakim, S.Sos. M.Ag || Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ 

{ ۞ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَاۤءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِیُّ ٱلۡحَمِیدُ }

Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.

[Surat Fathir: (35) 15]

MANUSIA itu sesungguhnya sangat membutuhkan Allah swt; butuh diciptakan, butuh dibekali dengan kekuatan dan anggota tubuh, makanan pokok, rezeki, dan berbagai nikmat yang nampak maupun tidak nampak, butuh dihindarkan dari musibah dan bencana. Juga butuh dijauhkan dari kesulitan dan penderitaan. Dan manusia senantiasa butuh bimbingan Allah swt berupa petunjuk, jalan hidup dan ketentraman batin.

Allah swt memiliki kekayaan dari segala sisi, dan Dia tidak membutuhkan apa pun dari hamba-Nya, dan tidak memerlukan apa pun yang diperlukan hamba-Nya. Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di.

Jika seorang ayah atau ibu sangat membutuhkan Allah swt dalam setiap detik hidupnya, maka anak-anak pun sangat membutuhkan kehadiran para ayah di sisi mereka. Perhatian ayah sangat dinantikan dalam menguatkan aspek-aspek spiritual, mental, akademik, kepemimpinan, kepedulian, dan kemandirian hidup.

Rasulullah saw bersabda,

Cukuplah seseorang berdosa ketika ia menyia-nyiakan keluarganya

[HR. Nasai dan Muslim]

Perhatian ayah tidak sebatas aspek pemenuhan fisik saja yang disebut ri’ayah namun lebih mendasar dan mencakup juga aspek sikap dan perilaku anak. Karena akan membantu pembentukan anak di masa depan, agar berani menghadapi hidup dan akhlaknya mulia serta tidak mudah putus asa.

Maka perbedaan ri’ayah dan tarbiyah menurut Abdurrahman Dahy, Ri’ayah berarti merawat; menyediakan makanan, minuman dan pakaian.
Adapun tarbiyah adalah pelurusan perilaku

Anak-anak di era kelahiran setelah 1990 disehut sebagai generasi strowberry, yaitu kreatif dan inovatif, cakap teknologi dan digitalisasi. Namun sekaligus mereka mudah tertekan dan rapuh, sensitif dan tidak memiiliki ketahanan mental. Sebagaimana buah strowberry yang terlihat indah dan menarik di luar namun rapuh di dalam karena mudah remuk dan hancur di luar.

Menurut Jean-Jacques Rousseau;

Ketika seorang ayah berhasil memiliki anak dan memberikan nafkah berupa kebutuhan makan kepada mereka, sesungguhnya ia baru melakukan sepertiga kewajiban terhadap anak. Siapa pun laki-laki yang tidak mampu menjalankan tugas-tugas seorang ayah tidak berhak disebut sebagai ayah. Tidak ada kekhususan, pekerjaan atau jabatan yang dapat membebaskannya dari kewajiban mencukupi kebutuhan anak-anaknya dan mendidik mereka sendiri

Mari para ayah mengajak dan menumbuh semangatkan anak-anak untuk memulai pembinaan diri secara intensif dan simultan, sejatinya inilah bekal hidup mereka dan memahami bahwa seluruh anugerah yang mereka terima bukan semata-mata hasil kemampuan mereka, bukan pula dari warisan kekayaan orangtua. Namun karena Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji.

Semoga Allah ta’ala mudahkan para ayah di manapun berada dalam membentuk perilaku anak-anak agar menjadi generasi yang tangguh secara akidah, kaya konsep dan kreatifitas, unggul penguasaan teknologi dan kokoh perilakunya, sehat tubuh dan alur pemikirannya serta sehat mentalnya. Aamiin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 4 =