Home Khazanah Islam Akhlak PRIORITAS HIDUP

PRIORITAS HIDUP

0
426

Serial Ayat-Ayat Pendidikan

Oleh :

Arief Rahman Hakim, S.Sos. M.Ag || Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

 

PERJALANAN hidup seorang hamba di hari akhir akan ditentukan oleh ibadah dan pengabdiannya kepada Allah swt serta berbagai kontribusi dan amal usaha yang telah dilakukan semasa hidup.

Dulu para sahabat, tabii’in dan tabi’ tabi’in serta para ulama generasi awal telah mengajarkan bahwa kehidupan itu harus memiliki makna dan mereka meninggalkan legacy untuk para penerus. Umurnya panjang walau sudah lama wafat, nama mereka harum semerbak bunga yang paling wangi, dan bermacam peninggalan yang mereka wariskan begitu banyak baik berupa keteladanan, sikap hidup, jihad fi sabilillah, aspek keilmuan dan pengajaran, kitab-kitab yang ditinggalkan, hingga kontribusi abadi untuk umat di seluruh dunia.

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلْءَاخِرَةِ نَزِدْ لَهُۥ فِى حَرْثِهِۦ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat

[Asy-Syura (42) : 20]

Barangsiapa menginginkan pahala akhirat dari amal dan usaha yang dikerjakannya, Kami akan menguatkannya, mencukupkannya, dan membalas satu kebajikan dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat menurut yang dikehendaki oleh Allah, hal ini sebagaimana disampaikan Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir.

Selanjutnya barangsiapa amal usahanya untuk mendapatkan sesuatu dari perkara dunia, hanya sebatas mencari kenikmatan dan kesenangan-kesenangan duniawi dan mengesampingkan perkara-perkara akhirat, Kami akan memberikan kepadanya sesuai dengan yang telah Kami tetapkan dan kehendaki sebagai bagiannya, tetapi ia sama sekali tidak mendapat suatu bagian pun di akhirat. Sebab, ia tidak beramal untuk akhirat, ia tidak mendapat bagian untuknya di akhirat.

Ada ayat yang isinya mirip dengan surat asy-Syura di atas,

 

مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir

 

وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik

 [Al-Isra’ (17) : 18-19]

Maksud dari dua ayat di atas menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di, bahwa barangsiapa menghendaki, (kehidupan) dunia yaitu kehidupan sekarang, yang akan berakhir lagi fana, kemudian dia bekerja dan berusaha untuk meraihnya sehingga dia lupa tempat asal dan tujuan akhir hidupnya (akhirat), maka Allah akan segera memberikan sebagian kekayaan dan perhiasan dunia yang dia inginkan dan kehendaki, (sesuai jatah) yang telah Allah tulis baginya di Lauhul Mahfuzh. Hanya saja, semua itu bukanlah kenikmatan yang mempunyai nilai manfaat lagi tidak kekal baginya.

Allah ta’ala mengabarkan bahwa siapa pun yang menginginkan kebahagiaan di akhirat dan berusaha ke sana dengan bersungguh-sungguh. Beramal dengan cara yang benar, yaitu iman yang benar dan amal salih. Sesuai dengan apa yang Allah syariatkan dalam kitab-Nya dan lisan rasul-Nya serta menjauhi syirik dan maksiat. Firman-Nya ta’ala dan dia beriman… ini adalah syarat sahnya amal salih yaitu amalan seorang hamba seperti salat dan jihad tidak akan diterima kecuali dia telah beriman kepada Allah dan rasul-Nya, apa yang telah dibawa oleh rasul-Nya dan dikabarkan berupa perkara gaib. Firman-Nya ta’ala, maka mereka.. yang telah disebutkan telah beriman dan beramal salih, maka mereka itu orang yang usahanya dibalas dengan baik.  Amalan mereka diterima dan dibalas dengan pahala berupa surga dan keridhaan Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana dijelaskan Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi di dalam Aisarut Tafasir.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa manusia itu ada tiga macam; Pertama, orang yang hatinya mati dan seakan-akan dia tidak punya hati. Ayat-ayat Allah tidak akan menjadi peringatan bagi hati ini. Kedua, orang yang mempunya hati yang hidup, namun ia tidak memperhatikan ayat-ayat Allah yang dibaca, yang mengabarkan ayat-ayat-Nya yang dapat disaksikan, orang seperti ini hatinya entah kemana dan tidak ada di tempat. Hati ini juga tidak mempan oleh peringatan, sekalipun sebenarnya ia siap. Ketiga, orang yang hatinya benar-benar hidup dan siap. Bila ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, maka ia pun menyimak dengan pendengarannya, menghadirkan hatinya, sibuk memahami apa yang didengarnya. Hati seperti inilah yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat yang dibaca maupun ayat-ayat yang disaksikan.

Fenomena saat ini banyak muslim yang melupakan kebesaran Allah, malas untuk mendekat kepada Allah, dan memperbanyak ibadah dan amal salih. Alih-alih kebaikan yang dilakukan mereka bahkan melakukan perbuatan yang mungkin di luar nalar manusia yang sehat. Bagaimana mungkin aspek pendidikan misalnya dikorupsi triliunan, lembaga dakwah dan agama kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pencerah dan memajukan umat dan bangsa, serta banyak sekali angka kriminalitas di tahun 2025 yang membuat miris sebagaimana dikutip dari Pusiknas (Pusat Studi Kejahatan Nasional) tercatat 306.641 kasus kejahatan terjadi di seluruh wilayah Indonesia sejak Januari hingga September 2025. Ada tiga provinsi yang menempati puncak penindakan kejahatan yaitu Jakarta, Sumatra Utara, dan Jawa Timur.

Seyogyanya akhir-akhir bulan Sya’ban ini digunakan untuk memperbanyak munajat kepada Allah swt, memperbanyak taubat atas segala khilaf dan dosa, bukan malah menambah dosa dan kezaliman baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain sesama muslim. Meluruskan niat dalam berorganisasi dan berdakwah, dakwah ini milik Allah swt dan harus diperjuangkan hingga akhir hayat di kandung badan, bukan untuk kepentingan pribadi dan segelintir individu.

Teringat pesan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang berkata, Siapa yang menghendaki kebahagiaan yang abadi, maka hendaklah dia masuk dari pintu ubudiyah.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga berkata,

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح

Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki

[Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah]

Semoga Allah Ta’ala terus memberikan perlindungan kepada kita dan keluarga, disehatkan terus hingga memasuki bulan Ramadan dan dapat menunaikan ibadah puasa hingga akhir, dan bagi keluarga yang sedang pengobatan dan pemulihan, semoga Allah Ta’ala sembuhkan dan sehatkan kembali dengan kesehatan sempurna. Allahumma Aamiin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 4 =